Minggu, 09 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kalau Kamu Dibuang, Jangan Jatuh dalam Kubangan

_Penulis: Ririe Aiko_

Suara Anak Negeri- Beberapa waktu lalu, saya mengalami sebuah pengalaman yang tidak mengenakkan. Sebuah pengalaman yang cukup membuat saya terpuruk, bahkan sempat membuat saya kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri.

Apa yang selama ini saya perjuangkan habis-habisan, ternyata justru membuat saya merasa disingkirkan.

Baca juga: TransJakarta dan Agenda Masa Depan: Membangun Pengalaman Perjalanan yang Berkualitas (Bagian 5)

Jujur, sebagai manusia, saya merasa sedih. Saya kecewa. Ada saat ketika saya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya memang tidak cukup baik?” Perasaan tidak berharga itu perlahan muncul. Rasanya seperti semua usaha yang sudah saya lakukan tidak memiliki arti.
Saya merasa seperti seseorang yang mudah dibuang begitu saja.

Namun, di balik perasaan itu, saya terus mencoba memantik diri sendiri untuk bangkit. Saya berusaha meyakinkan diri bahwa hidup tidak berhenti hanya karena satu pengalaman yang menyakitkan.

Dari sana saya kembali belajar bahwa dalam perjalanan hidup, kita mungkin akan mengalami banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan. Kita bisa ditolak, disingkirkan, tidak dihargai, bahkan mungkin diperlakukan seolah-olah tidak pernah memiliki arti.

Baca juga: TransJakarta: Sebagai Infrastruktur Kehidupan Metropolitan (Bagian 4)

*Tetapi dari situ saya belajar satu hal: Kubangan hanyalah tempat kita jatuh, bukan tempat kita harus tinggal.*

Ketika kita merasa dibuang, mungkin rasanya seperti dilempar ke dalam kubangan. Kita jatuh, kotor, terluka, dan mungkin merasa malu dengan keadaan kita sendiri.

*Tetapi bukankah kita masih memiliki pilihan untuk bangkit?*

Saya kemudian teringat pada rumput liar.
Ia tidak pernah ditanam dengan sengaja. Tidak ada yang memilihkan tanah terbaik untuknya.

Benihnya bisa jatuh di mana saja, di tanah yang kering, di sela-sela batu, di pinggir jalan, bahkan di tempat yang berkali-kali dilewati dan terinjak manusia.

Tidak banyak orang memperhatikannya. Bahkan sering kali keberadaannya dianggap hama yang mengganggu. Dicabut ketika tumbuh terlalu panjang, dibersihkan ketika memenuhi halaman, atau diinjak begitu saja tanpa pernah dipedulikan.

Namun, anehnya, rumput liar selalu punya cara untuk kembali tumbuh.
Berkali-kali dicabut, ia bisa kembali muncul selama akarnya masih bertahan.

Ketika satu celah tertutup, ia mencari celah yang lain.
Ia terus tumbuh dan tumbuh meski dibuang berkali-kali.
Mungkin kita pun perlu belajar dari rumput liar.

Ada kalanya hidup menempatkan kita di tempat yang tidak pernah kita pilih. Ada kalanya kita merasa disingkirkan, tidak dihargai, bahkan diperlakukan seperti sesuatu yang tidak pantas dipertahankan.

Jujur rasanya memang sakit.

Kita boleh menangis. Kita boleh kecewa. Kita bahkan boleh bertanya, “Mengapa saya diperlakukan seperti ini?”

Tetapi jangan jatuh terlalu lama dalam kubangan, karena kamu punya banyak hal yang jauh lebih berharga.

*Tumbuhlah kembali pelan-pelan. Temukan tempat dimana kamu bisa lebih bernilai.*

Kategori:
Tags:

Terkini