Kamis, 18 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pastor Pius Heljanan MSC: Doa Mengungkapkan Cinta kepada Tuhan dan Sesama

 

Oleh: joko

 

Baca juga: Wamen Ossy: Pertanahan Berperan Strategis Wujudkan Asta Cita Presiden

http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Keheningan pagi di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (18/6/2026), menjadi ruang refleksi bagi umat untuk kembali memaknai hakikat doa. Dari Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Pastor Pius Heljanan, MSC, mengajak umat memandang doa bukan sekadar rangkaian kata atau kewajiban religius, melainkan ungkapan kasih yang tulus kepada Tuhan sekaligus kepada sesama.

Berangkat dari Injil Matius 6:7-15, Pastor Pius menyoroti Doa Bapa Kami sebagai doa yang paling sempurna karena menghubungkan manusia dengan Allah, membentuk relasi yang sehat dengan diri sendiri, sekaligus mempererat kasih terhadap sesama.

“Bapamu tahu apa yang kalian perlukan,” demikian sabda Yesus yang menjadi dasar refleksi Pastor Pius pada hari itu.
Menurutnya, kalimat sederhana tersebut mengandung makna mendalam bahwa Allah telah mengetahui kebutuhan setiap anak-Nya, bahkan sebelum manusia mengungkapkannya dalam doa. Karena itu, doa bukanlah sarana untuk memberi tahu Tuhan mengenai kebutuhan manusia, melainkan jalan untuk membangun kedekatan dengan-Nya. “Doa Bapa Kami merupakan doa yang sempurna. Doa yang menghubungkan kita dengan Tuhan, diri sendiri dan mengeratkan cinta pada sesama,” ungkap Pastor Pius Heljanan, MSC.

Baca juga: RD. Domincs Baldawins Masriat: Ketulusan Hati Lebih Bernilai daripada Pencitraan

Ia menjelaskan, melalui doa seseorang diajak memasuki relasi yang semakin intens dan intim dengan Allah Bapa. Dalam keheningan doa, manusia belajar menyerahkan seluruh harapan, kecemasan, dan pergumulannya kepada Tuhan yang senantiasa memelihara kehidupan.

Bagi Pastor Pius, doa tidak boleh dipahami hanya sebagai kebiasaan yang diulang setiap hari tanpa penghayatan. Nilai doa justru terletak pada iman yang hidup, yakni keyakinan bahwa Tuhan tetap menjadi tempat bergantung dalam setiap situasi kehidupan.

“Dengan doa, kita membangun relasi yang intens dan intim dengan Bapa. Kita minta Bapa menganugerahkan rahmat yang kita butuhkan. Jadi berdoa bukan sekadar kegiatan rutinitas dan ritual belaka,” katanya.

Refleksi tersebut juga mengingatkan bahwa orang yang berdoa sesungguhnya sedang menyatakan kepercayaan penuh kepada Tuhan. Iman yang diwujudkan melalui doa akan melahirkan ketenangan batin, sekaligus keberanian menjalani berbagai tantangan hidup.

“Orang yang berdoa menunjukkan iman bahwa ia mengandalkan Tuhan dalam hidup,” ujar Pastor Pius.

Lebih jauh, Pastor Pius mengaitkan doa dengan kehidupan sosial. Menurutnya, relasi yang baik dengan Tuhan harus tercermin dalam hubungan yang penuh kasih dengan sesama. Karena itu, pengampunan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan doa.

Ia menegaskan bahwa kedamaian tidak akan lahir apabila hati masih dipenuhi kebencian atau keengganan untuk memaafkan.

“Hidup damai dimulai dengan saling mengampuni dan Bapa akan memberikan kemurahan belas kasih pada kita,” tuturnya.

Pada akhirnya, Pastor Pius mengajak umat untuk menghayati setiap doa sebagai ungkapan syukur, permohonan, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam setiap doa, manusia diajak memuji Allah, memohon pertolongan-Nya, meminta perlindungan, serta menghadirkan damai bagi kehidupan bersama.

“Ingat, dalam setiap doamu kita memuji Tuhan, meminta bantuan Tuhan, mohon perlindungan bagi diri dan kedamaian dalam hidup bersama,” pesan Pastor Pius Heljanan, MSC.

Melalui refleksi sederhana namun sarat makna itu, Pastor Pius mengingatkan bahwa doa yang lahir dari hati yang tulus bukan hanya mempererat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menumbuhkan kasih, pengampunan, dan semangat hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat.

Kategori:
Tags:

Terkini