http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Di tengah arus kehidupan modern yang kerap mengukur nilai seseorang dari apa yang dimiliki, pesan sederhana namun mendalam kembali disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sabtu (6/6/2026).
Melalui refleksi atas Injil Markus 12:38-44, Pastor Pius mengajak umat untuk merenungkan kembali makna sejati sebuah pemberian. Bukan soal besarnya nilai yang dipersembahkan, melainkan ketulusan hati yang menyertai setiap tindakan berbagi.
Perikop Injil yang mengisahkan tentang seorang janda miskin menjadi titik tolak refleksi tersebut. Di tengah banyak orang yang mempersembahkan kelebihan mereka, janda itu justru memberikan seluruh nafkah yang dimilikinya. Di mata dunia, persembahannya mungkin tampak kecil.
Baca juga: Polsek Selaru Perkuat Pencegahan Kejahatan Lewat Patroli Humanis
Namun di hadapan Tuhan, pemberian itu memiliki nilai yang jauh lebih besar.
Mengutip sabda Yesus dalam Injil, Pastor Pius menegaskan: “Janda miskin ini telah memberi lebih banyak daripada semua orang lain.”
Menurutnya, kisah itu tidak hanya berbicara tentang sedekah atau persembahan, tetapi juga tentang kemurnian motivasi dalam memberi. Pastor Pius menjelaskan bahwa Yesus pada saat yang sama mengoreksi sikap kaum Farisi yang menampilkan kesalehan demi mendapatkan pujian, pengakuan, dan penghormatan dari sesama.
Sebaliknya, Yesus memuji janda miskin karena ia memberi dengan hati yang tulus, penuh cinta, dan pengorbanan. “Yesus menghargai persembahan janda miskin karena memberi dengan tulus, penuh cinta dan pengorbanan.”
Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu Menabur Kasih
Refleksi ini menjadi sangat relevan dalam kehidupan masa kini. Tidak jarang, tindakan memberi dilakukan dengan harapan memperoleh perhatian, penghargaan, atau pengakuan dari orang lain.
Padahal, menurut Pastor Pius, ukuran yang digunakan Tuhan berbeda dengan ukuran manusia. “Bagi Yesus, bukan seberapa banyak kita memberi, tetapi seberapa besar ungkapan cinta dan pengorbanan tulus di balik pemberian itu.”
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan bagi umat untuk berani berbagi apa yang dimiliki, baik dalam bentuk materi, waktu, perhatian, maupun talenta yang dianugerahkan Tuhan.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan, Pastor Pius mengingatkan bahwa kemurahan hati tidak pernah membuat seseorang menjadi miskin. Sebaliknya, setiap pemberian yang lahir dari kasih akan membuka ruang bagi karya rahmat Tuhan dalam hidup manusia.
“Belajar dari janda miskin: jangan ragu memberi hidup, harta, waktu, dan talenta kepada Tuhan demi sesama. Tuhan akan memelihara dan menganugerahkan rahmat yang kita butuhkan.”
Refleksi singkat tersebut menjadi pengingat bahwa makna terdalam dari sebuah pemberian bukan terletak pada jumlahnya, melainkan pada kasih yang menyertainya. Sebab dalam pandangan Tuhan, hati yang rela berkorban memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada persembahan yang diberikan demi pencitraan.
Di tengah kehidupan yang sering kali menempatkan materi sebagai ukuran keberhasilan, teladan janda miskin kembali mengajarkan satu kebenaran sederhana: ketulusan adalah persembahan paling berharga yang dapat dipersembahkan manusia kepada Tuhan dan sesamanya.(jk)
n.





