Jumat, 17 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

LELEMUKU: NYANYIAN CINTA DI AKAR WAKTU

Oleh: Rizal Tanjung

Di Kepulauan Tanimbar, di mana laut adalah cermin langit yang retak-retak oleh angin, dan pasir menyimpan jejak kaki para leluhur seperti kitab yang tak pernah selesai dibaca, hiduplah sebuah kisah yang tidak sekadar diceritakan—tetapi dihirup, dirasakan, dan diwariskan seperti napas terakhir yang enggan pergi.

Baca juga: Melindungi Keanekaragaman Hayati: Upaya Penyelamatan Satwa Endemik dari Kepunahan

Kisah itu bernama Lelemuku.

Bukan sekadar nama.
Ia adalah luka yang tumbuh menjadi bunga.
Ia adalah penantian yang menjelma akar.

Baca juga: Menjaga Paru-Paru Dunia: Pentingnya Restorasi Hutan dan Ekosistem Daratan

Perempuan yang Menunggu di Bawah Pohon Tua

Namanya telah lama hilang dari lidah manusia, sebab waktu lebih kejam dari ombak yang mengikis karang. Namun orang-orang tua menyebutnya sebagai perempuan yang menjadi pohon, perempuan yang mencintai hingga tubuhnya sendiri tak sanggup lagi menampung rindu.

Ia duduk di bawah pohon besar—pohon yang bahkan tak ingat kapan ia mulai tumbuh. Batangnya sebesar kesunyian, akarnya menjulur seperti doa yang tak pernah selesai dipanjatkan.

Perempuan itu menunggu.

Setiap hari, ia menyulam waktu dengan tatapan.
Setiap malam, ia menenun rindu dengan air mata.

Ia menunggu seorang lelaki yang pernah berkata:

> “Aku akan kembali, seperti laut yang selalu menemukan pantainya.”

Namun laut pun kadang lupa arah pulang.

Lelaki yang Pergi Bersama Angin

Lelaki itu adalah pelaut.
Bukan sekadar penakluk gelombang, tapi pengembara yang percaya bahwa cinta bisa disimpan di dalam dada seperti kompas.

Ia pergi pada suatu pagi yang terlalu indah untuk perpisahan.

Langit biru seperti janji yang belum teruji.
Burung-burung terbang seperti doa yang dilepaskan tanpa alamat.

Perempuan itu berdiri di tepi pantai, rambutnya ditiup angin seperti nyala api yang tak pernah padam.

“Berapa lama?” tanyanya.

“Selama rindu belum berubah menjadi batu,” jawab lelaki itu.

Dan laut pun menelan perahu, seperti takdir yang menelan harapan.

Penantian yang Menjadi Akar

Hari-hari berlalu seperti daun gugur yang tak sempat dihitung.
Musim berganti tanpa izin dari hati yang menunggu.

Perempuan itu tetap di sana.

Ia tidak lagi berjalan.
Ia tidak lagi mencari.

Sebab seluruh dunia telah menyempit menjadi satu titik:
janji yang belum kembali.

Kakinya mulai menyatu dengan tanah.
Kulitnya mulai mengeras seperti kulit pohon.
Rambutnya menjuntai seperti akar yang mencari air di dalam bumi.

Ia tidak sadar bahwa tubuhnya perlahan berubah.

Ia hanya tahu satu hal:
cinta tidak boleh berhenti hanya karena waktu lelah.

Pohon yang Mengingat Segalanya

Orang-orang mulai melihatnya sebagai pohon.

Sebuah pohon besar, sunyi, dan penuh rahasia.
Akar-akarnya menjalar seperti tangan yang ingin memeluk sesuatu yang tak lagi ada.

Mereka menyebutnya Lelemuku.

Konon, jika angin berhembus dari arah laut, daun-daunnya akan bergetar seperti seseorang yang menangis tanpa suara.

Dan jika malam turun terlalu dalam, batangnya akan mengeluarkan bunyi pelan—
seperti bisikan:

> “Aku masih di sini…”

Anak-anak dilarang mendekat,
karena katanya pohon itu menyimpan kesedihan yang bisa menular.

Namun para pencinta—
mereka datang diam-diam, menyentuh kulit kayunya, dan berdoa agar cinta mereka tidak berakhir seperti itu.

Kepulangan yang Terlambat

Bertahun-tahun kemudian—atau mungkin berabad-abad, sebab waktu di Tanimbar tidak pernah benar-benar bisa diukur—sebuah perahu tua kembali dari laut.

Seorang lelaki turun, tubuhnya penuh garam dan usia.

Ia berjalan dengan langkah yang ragu, seperti seseorang yang kembali ke rumah yang mungkin sudah tak mengenalnya.

Ia mencari.

Pantai itu masih ada.
Langit itu masih sama.
Namun perempuan itu—

tidak lagi berdiri di sana.

Ia bertanya pada angin.
Ia bertanya pada pasir.
Ia bertanya pada laut yang dulu membawanya pergi.

Dan akhirnya, seseorang menunjuk ke arah pohon besar di tengah tanah sunyi.

“Itu Lelemuku,” kata mereka.
“Pohon yang dulu seorang perempuan.”

Lelaki itu mendekat.

Tangannya gemetar saat menyentuh batang pohon itu.
Dan pada saat itulah—
ia mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar oleh siapa pun selain hatinya sendiri:

> “Kau datang…”

Lelaki itu jatuh berlutut.

Air matanya menetes ke akar-akar yang telah menunggu terlalu lama.

“Aku pulang,” katanya.
“Tapi waktu tidak memaafkan ku.”

Angin berhembus pelan.

Daun-daun Lelemuku bergetar seperti napas terakhir yang tertahan.

Cinta yang Tidak Pernah Pergi

Sejak hari itu, lelaki itu tidak pernah meninggalkan pohon itu.

Ia duduk di bawahnya, seperti dulu perempuan itu duduk menunggunya.

Ia berbicara, meski tak ada jawaban.
Ia menangis, meski tak ada pelukan.

Dan suatu hari—
ia pun tidak lagi terlihat.

Orang-orang berkata, ia telah menyatu dengan akar.
Menjadi bagian dari pohon itu.
Menjadi bagian dari penantian yang tak pernah selesai.

Nyanyian yang Tak Pernah Usai

Hingga kini, jika kau pergi ke Kepulauan Tanimbar, dan menemukan pohon tua yang berdiri sendirian seperti penjaga rahasia, dengarkanlah baik-baik.

Jangan hanya melihat.

Dengarkan.

Karena di dalam desir daun dan desah angin, ada kisah yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Kisah tentang cinta yang tidak mengenal pulang.
Tentang janji yang kalah oleh waktu.
Tentang dua jiwa yang akhirnya bersatu—
bukan dalam pelukan,
melainkan dalam keabadian yang sunyi.

Dan jika kau berani menyentuh batangnya, mungkin kau akan merasakan sesuatu yang aneh—
seperti detak jantung yang sangat tua,
yang masih berdetak,
meski dunia telah lama melupakannya.

Itulah Lelemuku.

Cinta yang tidak mati.
Hanya berubah bentuk—
menjadi pohon,
menjadi akar,
menjadi rindu yang tak pernah selesai.

—-

SYAIR LELEMUKU : AKAR YANG MENULIS RINDU DI DALAM BUMI

Di bawah langit yang mulai lupa warna birunya,
di antara desir angin yang menyisir kenangan,
Lelemuku tidak lagi sekadar pohon—
ia telah menjadi kitab sunyi
yang ditulis oleh dua hati
yang gagal dipertemukan waktu.

Dan dari akar-akarnya yang menembus gelap,
lahirlah puisi—
bukan dari tinta,
melainkan dari air mata yang membatu.

Akar yang Berbicara pada Tanah

Wahai tanah,
yang menyimpan jejak kaki kami
sebelum dunia belajar melupakan—

aku telah menanam seluruh tubuhku ke dalam dirimu,
bukan untuk mati,
melainkan untuk terus mencintai
tanpa batas yang bisa dihitung manusia.

Akar-akar ku adalah jari-jarinya
yang kini tak lagi bisa menggenggam ku,
namun diam-diam merayap
mencari denyut nadinya di dalam gelap bumi.

> “Apakah cinta masih bisa tumbuh
jika ia telah kehilangan waktu?”

Tanah menjawab dengan diam—
sebab diam adalah bahasa paling jujur
bagi sesuatu yang terlalu dalam untuk dijelaskan.

Lelaki yang Menjadi Bayang-bayang

Ia kini bukan lagi tubuh,
melainkan bayang yang tinggal di antara sela batang,
menjadi desir yang tak terlihat
namun selalu hadir dalam setiap hembusan angin.

Ia berkata pada daun-daun:

> “Jika aku datang terlambat,
apakah cintaku masih punya tempat?”

Dan daun-daun itu gemetar,
seperti bibir perempuan yang ingin menjawab
namun telah lama kehilangan suara.

Ia tidak lagi duduk—
ia kini menyatu dalam getah,
mengalir pelan
seperti penyesalan yang tak pernah selesai.

Dialog Tanpa Kata

Setiap malam,
saat bulan menggantung seperti luka yang belum sembuh,
mereka berbicara.

Bukan dengan suara—
melainkan dengan getar.

Bukan dengan kata—
melainkan dengan rasa.

Perempuan itu berbisik dari dalam kayu:

> “Aku menunggumu hingga aku lupa
bagaimana rasanya tidak menunggu.”

Dan lelaki itu menjawab dari dalam akar:

> “Aku kembali bukan sebagai tubuh,
tapi sebagai penyesalan yang ingin tinggal selamanya.”

Mereka saling memeluk—
bukan dengan tangan,
melainkan dengan takdir
yang akhirnya bersedia mempertemukan mereka
dalam bentuk yang paling sunyi.

Cinta yang Berubah Menjadi Hutan

Dari tubuh Lelemuku,
tumbuh tunas-tunas kecil—
anak-anak dari rindu yang tak pernah selesai.

Setiap daun adalah doa,
setiap cabang adalah kenangan,
dan setiap akar adalah cerita
yang ditanam terlalu dalam untuk dilupakan.

Orang-orang datang dan pergi,
membawa cinta mereka yang masih muda,
menyandarkan harapan pada batangnya
seperti menggantungkan nasib pada sesuatu
yang telah lebih dulu patah.

Namun Lelemuku tidak menolak.

Ia justru berbisik:

> “Jika cintamu tulus,
biarkan ia tumbuh—
tapi jangan biarkan waktu mencurinya darimu
seperti ia mencuri kami.”

Puisi yang Tidak Pernah Selesai

Waktu terus berjalan,
namun Lelemuku tetap di sana—
menjadi saksi bahwa cinta
tidak selalu berakhir dalam kebahagiaan,
namun juga tidak pernah benar-benar berakhir.

Dan di suatu senja yang terlalu sepi,
angin membawa sebuah puisi
yang tak pernah selesai ditulis:

> Aku adalah akar yang mencari cahaya,
dan kau adalah cahaya yang terperangkap dalam tanah.

Kita tidak pernah benar-benar berpisah,
hanya berubah arah
untuk saling menemukan dalam cara yang berbeda.

Jika dunia tidak memberi kita waktu,
maka biarkan keabadian
menjadi rumah kita.

Nyanyian yang Mengalir di Dalam Diri

Kini, setiap kali angin melintasi Kepulauan Tanimbar,
ia membawa serpihan suara—
seperti nyanyian yang retak namun abadi.

Dan jika seseorang berdiri cukup lama di bawah Lelemuku,
menutup mata,
dan mendengarkan dengan hati yang jujur—

ia akan mendengar:

dua nama yang saling memanggil,
dua jiwa yang akhirnya bersatu,
dua cinta yang tidak pernah mati—

hanya berubah menjadi puisi
yang terus ditulis oleh waktu
di atas daun-daun yang tak pernah berhenti gugur.

Lelemuku bukan sekadar legenda.
Ia adalah bukti bahwa cinta
tidak membutuhkan tubuh untuk hidup,
tidak membutuhkan waktu untuk bertahan,
dan tidak membutuhkan dunia
untuk menjadi abadi.

Ia hanya membutuhkan—
seseorang yang tetap tinggal,
meski segalanya telah pergi.

—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini