Amelia Fitriani| Penulis
–
Ada kabar yang membuat linimasa terasa sedikit lebih hangat: karya seni kolektif Tromarama asal Bandung tampil di billboard Times Square, New York.
Baca juga: EDIA SOSIAL SELAIN SEBAGAI RUANG BERBAGI DAN CERMIN KARAKTER
Judulnya “Turn On #2”. Karya ini mengeksplorasi hubungan antara yang nyata dan yang digital, dua wilayah yang kini nyaris tak bisa dipisahkan.
Di Indonesia, kabar semacam ini cepat menjadi tren. Bukan hanya karena lokasinya ikonik, tetapi karena ia menyentuh rasa ingin diakui.
Times Square adalah panggung global. Ketika karya dari Bandung muncul di sana, publik membaca lebih dari sekadar pameran seni.
Ia dibaca sebagai simbol: bahwa gagasan dari kota-kota Indonesia dapat menembus pusat keramaian dunia.
-000-
Mengapa Isu Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Menjelaskan
Pertama, Times Square memiliki daya magnet budaya pop. Nama tempatnya saja sudah memicu imajinasi, bahkan bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di New York.
Billboard di sana identik dengan sorotan. Ketika seni mengambil ruang yang biasanya ditempati iklan, publik merasa ada peristiwa yang layak dirayakan.
Kedua, ada unsur kebanggaan kolektif. Kata “asal Bandung” bekerja seperti jangkar emosional yang membuat berita terasa dekat dan personal.
Di tengah arus berita harian yang sering melelahkan, kabar tentang capaian kreatif memberi jeda. Ia menawarkan alasan untuk merasa optimistis.
Ketiga, tema karya menyentuh pengalaman banyak orang. Hubungan nyata dan digital adalah pergulatan sehari-hari, dari ruang keluarga hingga ruang kerja.
Ketika sebuah karya menamai kegelisahan yang kita rasakan, ia menjadi mudah dibagikan. Tren lahir dari resonansi, bukan sekadar sensasi.
-000-
Turn On #2 dan Pertanyaan tentang Kehidupan Ganda
“Turn On #2” disebut mengeksplorasi hubungan nyata dan digital. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi muatannya luas dan berlapis.
Kita hidup dalam kehidupan ganda. Ada diri yang hadir secara fisik, dan ada diri yang beroperasi sebagai akun, pesan, unggahan, dan jejak data.
Hubungan pun mengalami pergeseran. Kedekatan kadang diukur dari kecepatan membalas, bukan dari ketekunan mendengar.
Di sisi lain, ruang digital juga memberi kesempatan. Ia memperluas pertemanan, mempercepat kolaborasi, dan membuka akses pada pengetahuan.
Namun, selalu ada harga. Kita sering tak sadar kapan sedang terhubung, dan kapan sebenarnya sedang terdistraksi.
Karya yang tampil di billboard, pada akhirnya, memantulkan pertanyaan. Apa yang sebenarnya “menyala” ketika kita menyalakan layar?
-000-
Baca selengkapnya di sini 👇
https://skenaid.com/dari-bandung-ke-times-square-tromarama-seni-digital-dan-pertanyaan-kita-tentang-dunia-yang-kian-tersambung-SpYRba0qiB
✨️
Skena & Wellness (skenaid.com) adalah episentrum informasi kultur dan seni bertenaga AI yang mengurasi denyut nadi industri kreatif secara real-time. Mulai dari rilis film box office, skena musik independen, hingga pameran seni rupa kontemporer, kami menjembatani karya dan audiens melalui teknologi cerdas. SkenaID hadir sebagai ruang kuratorial digital bagi Anda yang mencari inspirasi tanpa batas dalam dunia film, literatur, dan budaya populer. digital bagi Anda yang mencari inspirasi tanpa batas dalam dunia film, literatur, dan budaya populer.





