Cerpen Fantasi oleh
Leni Marlina
–
Baca juga: AKU AKAN MENUNGGUMU
Pada hari ketika Pohon Penjaga Hujan ditebang, Nenek terbangun sebelum fajar dan menangis tanpa suara. Aku mengetahui ia menangis bukan karena mendengar isaknya, melainkan karena melihat genangan kecil di bawah kursi rotan tempat ia duduk menghadap jendela. Air mata itu jatuh sepanjang malam hingga membentuk lingkaran gelap pada papan lantai yang telah menghitam dimakan usia.
Di luar rumah, dunia belum sepenuhnya lahir. Kabut menggantung rendah di atas Sungai Jantara. Bukit Sembayan tampak seperti punggung binatang purba yang tertidur di balik kain putih. Sesekali terdengar tetes embun jatuh dari daun ke daun, lalu hilang ke dalam tanah dengan bunyi yang nyaris tak terdengar.
Nenek tidak menoleh ketika aku mendekat. Sejak kecil aku percaya bahwa pendengarannya lebih tua daripada usianya. Ia dapat mendengar hujan sebelum awan terbentuk. Dapat mendengar akar bergerak di dalam tanah. Bahkan dapat mendengar pohon bermimpi.
Baca juga: ATMARAGA DAN SURYANDARI
“Apa yang engkau dengar, Nek?”
Ia mengangkat wajah perlahan. Mata tuanya tampak seperti dua sumur yang baru saja kehilangan langit.
“Mereka berhenti bermimpi.”
Aku mengikuti arah pandangnya. Hutan masih berdiri seperti biasa. Pohon-pohon masih berada di tempatnya. Kabut masih menyelimuti lereng.
Namun entah mengapa, pagi itu semuanya tampak seperti sesuatu yang sedang berpura-pura hidup. Lalu suara mesin terdengar dari kejauhan. Mula-mula hanya getaran tipis di udara.
Begitu halus hingga lebih terasa oleh tulang daripada telinga. Kemudian suara itu membesar. Merambat melalui bukit. Menyusuri akar. Memasuki lantai rumah. Aku merasakannya di telapak kaki. Nenek memejamkan mata.
Di luar, seekor rangkong terbang rendah melintasi sungai. Biasanya burung itu selalu bersuara. Pagi itu ia melintas dalam diam. Aku menyadari bahwa keheningan juga memiliki berat. Ia menekan udara. Menekan dada. Menekan seluruh desa yang masih belum mengetahui bahwa sebelum hari berakhir, sesuatu akan hilang dari dunia dan tidak akan pernah kembali lagi. Ketika matahari akhirnya muncul dari balik kabut, warnanya tidak menyerupai matahari yang kukenal. Ia tampak pucat, seperti koin tua yang terlalu lama terkubur dalam tanah.
Di jalan menuju lapangan desa, orang-orang berjalan berkelompok. Sebagian membawa bekal. Sebagian membawa rasa ingin tahu. Sebagian lagi membawa harapan yang tidak mereka akui. Harapan akan pekerjaan, uang, jalan baru, sinyal telepon yang lebih baik, dan segala sesuatu yang selalu datang bersama janji pembangunan.
Dari kejauhan Bukit Sembayan berdiri dalam diam. Bukit itu tidak tinggi. Tidak pula megah. Namun setiap orang di desa mengetahui bahwa sebelum rumah-rumah pertama dibangun, sebelum jalan tanah dibuka, sebelum sungai diberi nama, bukit itu sudah berada di sana. Seperti seseorang yang terlalu tua untuk menceritakan seluruh kisah yang pernah dilihatnya.
Di lapangan aku menemukan Ayah berdiri di dekat truk perusahaan. Ia mengenakan helm kuning dan rompi keselamatan yang membuatnya tampak asing bagiku. Seolah-olah semalam seseorang diam-diam menukar ayahku dengan orang lain yang memiliki wajah serupa.
Di tangannya terdapat map plastik berisi dokumen. Ia membukanya berulang kali. Menutupnya. Membukanya lagi. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang tidak tertulis di dalamnya.
Ketika melihatku, ia tersenyum. Namun senyum itu berhenti di bibir. Tidak pernah mencapai mata.
“Kau ikut ke bukit?” tanyanya.
Aku mengangguk. Untuk beberapa saat kami hanya berdiri memandangi kendaraan-kendaraan berat yang berbaris seperti hewan-hewan logam yang sedang menunggu aba-aba.
“Ayah pernah bermain di sana?”
Aku menunjuk bukit. Pertanyaan itu membuatnya diam sangat lama. Lalu ia menghela napas.
“Dulu tidak ada jalan.”
“Bagaimana Ayah naik?”
“Kami mengikuti rusa.”
Aku menoleh. Ayah sedang menatap lereng yang mulai diterpa cahaya pagi.
“Waktu itu hutan lebih pandai menunjukkan jalan daripada manusia.”
Setelah mengatakan itu, ia langsung berjalan pergi. Seolah kata-kata tadi lolos tanpa sengaja dari dirinya.
Menjelang pukul sembilan, udara menjadi semakin berat. Awan tidak bergerak. Daun-daun tidak bergerak. Bahkan asap rokok yang keluar dari mulut para pekerja naik lurus ke atas tanpa dibelokkan angin. Beberapa orang mulai menyadari keanehan itu.
Mereka mendongak. Lalu saling memandang. Kemudian pura-pura tidak memikirkannya. Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengabaikan firasat. Barangkali karena terlalu sering hidup bersama ketakutan.
Tiba-tiba seekor rangkong melintas rendah di atas lapangan. Kemudian seekor lagi. Lalu puluhan. Lalu ratusan. Dalam waktu singkat langit dipenuhi burung. Mereka bergerak ke arah utara. Tidak terburu-buru. Tidak panik. Namun ada sesuatu dalam gerakan mereka yang membuat dadaku mengencang.
Seperti keluarga yang meninggalkan rumah sebelum kebakaran dimulai. Tidak seorang pun berbicara. Hanya terdengar ribuan kepakan sayap. Suara itu menyerupai halaman-halaman buku raksasa yang dibalik bersamaan oleh tangan tak terlihat.
Nenek berdiri di sampingku. Matanya mengikuti kawanan burung hingga hilang di balik cakrawala.
“Lihat baik-baik,” katanya.
“Apa?”
“Ingatan sedang pergi.”
Aku ingin bertanya apa maksudnya. Namun wajahnya membuatku memilih diam. Ada kesedihan yang terlalu besar untuk disentuh oleh kata-kata.
Pukul sebelas, rombongan perusahaan mulai bergerak ke lereng. Orang-orang mengikuti dari belakang seperti peserta arak-arakan. Anak-anak memanjat batu. Orang tua mencari tempat teduh. Pedagang menjual minuman. Suasananya lebih mirip perayaan daripada eksekusi. Dan justru itulah yang membuatku merasa tidak nyaman.
Karena di hadapan kami berdiri Pohon Penjaga Hujan. Batangnya begitu besar hingga lima orang dewasa tidak akan mampu melingkarinya. Kulitnya dipenuhi lekukan dalam yang menyerupai kerutan pada wajah manusia lanjut usia. Di beberapa bagian tumbuh lumut hijau. Di bagian lain menjulur akar-akar yang keluar dari tanah seperti urat nadi raksasa.
Aku menatap pohon itu cukup lama. Lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Aku tidak pernah melihat pohon itu bergoyang. Bahkan saat badai besar datang beberapa tahun lalu. Seolah-olah ia bukan bagian dari hutan. Melainkan alasan mengapa hutan ada.
Mesin mulai dinyalakan. Suara logam memenuhi udara. Getarannya membuat beberapa daun gugur. Burung terakhir yang masih bertengger di cabang atas terbang meninggalkan pohon.
Untuk sesaat, sebelum mata gergaji mulai berputar, seluruh dunia tampak menahan napas. Seperti seseorang yang mengetahui sebuah kalimat penting akan segera diucapkan. Namun tidak siap mendengarnya.
Tidak ada yang terjadi ketika mata gergaji pertama kali menyentuh batang pohon. Tidak ada petir. Tidak ada gempa. Tidak ada suara gaib yang turun dari langit. Hanya bunyi logam menggerus kayu. Suara yang datar dan kering. Hampir mengecewakan bagi mereka yang diam-diam mengharapkan keajaiban. Beberapa orang bahkan tertawa kecil.
Seorang lelaki di dekatku berkata bahwa semua cerita tentang Pohon Penjaga Hujan hanyalah dongeng orang-orang tua yang takut pada perubahan. Yang lain mengangguk. Mereka mulai merasa lega. Dunia tampaknya berjalan sebagaimana mestinya.
Pohon adalah pohon. Kayu adalah kayu. Dan segala sesuatu dapat dihitung dengan angka. Namun beberapa menit kemudian sesuatu yang lain mulai terasa. Mula-mula sangat samar. Aku melihat seekor semut keluar dari sela akar. Lalu puluhan. Kemudian ratusan.
Mereka bergerak menjauhi pohon dalam barisan panjang. Tidak kacau. Tidak terburu-buru. Melainkan seperti penduduk sebuah kota yang telah menerima kabar buruk lebih dahulu daripada siapa pun.
Dari balik semak muncul ular kecil, landak, musang. Mereka semua bergerak ke arah yang sama: menuruni bukit, meninggalkan hutan. Seseorang menunjuk ke arah itu. Orang-orang mulai memperhatikan. Tawa perlahan menghilang.
Di atas kepala kami, langit menjadi semakin rendah. Awan-awan yang sejak pagi menggantung diam kini tampak turun beberapa jengkal lebih dekat kepada bumi. Warna mereka berubah. Tidak hitam. Tidak kelabu. Melainkan warna yang sulit dijelaskan. Seperti warna luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Mesin terus bekerja. Suara gergaji menggigit batang. Serbuk kayu beterbangan. Bau getah memenuhi udara. Bau yang aneh. Bukan sekadar bau kayu yang baru terluka.
Ada aroma tanah basah di dalamnya. Ada aroma hujan. Ada aroma dedaunan yang membusuk. Ada aroma sesuatu yang sangat tua. Sesuatu yang mengingatkan pada lemari peninggalan orang mati yang baru dibuka setelah puluhan tahun.
Aku melihat Ayah berdiri tidak jauh dari mesin. Ia tidak bergerak. Matanya terpaku pada luka yang perlahan terbentuk di batang pohon. Semakin lama wajahnya semakin pucat. Seolah-olah yang sedang terpotong bukan kayu, melainkan sesuatu di dalam dirinya sendiri.
Tepat ketika matahari mencapai puncaknya, mesin mendadak mati. Bukan satu mesin, tapi semuanya. Suara logam yang sejak pagi menguasai bukit terputus begitu saja. Keheningan yang muncul sesudahnya terasa ganjil. Seperti seseorang yang tiba-tiba berhenti bernapas di tengah percakapan. Operator-operator saling berpandangan. Beberapa memeriksa panel mesin. Yang lain mencoba menyalakannya kembali.
Tidak ada hasil. Mesin-mesin itu tetap diam. Padahal bahan bakar penuh. Aki baru. Seluruh sistem sebelumnya bekerja normal. Seorang teknisi mengumpat pelan. Seorang mandor mulai kehilangan kesabaran.
Namun semakin mereka mencoba, semakin aneh keadaan di sekitar bukit. Karena saat itulah suara lain mulai terdengar. Suara yang nyaris tidak dapat dibedakan dari angin.
Padahal tidak ada angin. Aku mendengarnya dari arah tanah, sangat pelan. Seperti bisikan banyak orang yang berbicara dari balik dinding tebal.
Aku memandang ke sekeliling. Beberapa orang tampaknya juga mendengarnya. Mereka saling bertukar pandang. Namun tidak seorang pun berani bertanya. Sebab terkadang manusia lebih takut memperoleh jawaban daripada hidup dalam ketidaktahuan.
Lalu seorang anak kecil menunjuk ke arah lereng.
“Air…”
Semua kepala menoleh. Dari celah akar Pohon Penjaga Hujan, sesuatu merembes keluar. Bukan darah. Bukan getah, tapi air. Mula-mula hanya setetes. Kemudian dua. Kemudian puluhan. Tak lama kemudian air itu mengalir membentuk anak sungai kecil, sangat jernih, hingga dasar tanah terlihat jelas di bawahnya. Orang-orang berdiri terpaku. Tidak seorang pun bergerak. Karena setiap penduduk desa mengetahui sesuatu yang selama bertahun-tahun hampir dilupakan.
Mata air pertama Sungai Jantara konon berada tepat di bawah akar pohon itu. Namun mata air tersebut telah menghilang puluhan tahun lalu. Tertutup longsor. Terkubur lumpur. Setidaknya begitulah yang dipercaya orang-orang.
Kini air itu muncul kembali. Mengalir perlahan menuruni lereng. Melewati sepatu para pekerja. Melewati roda alat berat. Melewati kaki-kaki warga yang berdiri membisu.
Seorang perempuan tua berlutut. Menyentuh air itu dengan ujung jarinya. Lalu menangis. Tanpa suara. Tangis yang sama seperti yang kulihat di wajah Nenek saat subuh. Tangis seseorang yang baru saja bertemu kembali dengan sesuatu yang telah lama dianggap mati.
Di tengah keheningan itu, Ayah melangkah maju. Langkahnya pelan. Seolah ia sedang mendekati makam seseorang. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang memanggil namanya. Ia berjalan sampai ke batang pohon. Lalu ia meletakkan telapak tangannya pada kulit kayu yang terluka.
Untuk beberapa saat ia hanya berdiri di sana, sangat diam. Kemudian ia menundukkan kepala. Aku tidak dapat mendengar apa yang diucapkannya. Namun aku melihat bahunya bergetar.
Entah mengapa aku merasa ia sedang meminta maaf. Bukan kepada perusahaan. Bukan kepada warga desa. Melainkan kepada sesuatu yang jauh lebih tua daripada keduanya. Sesuatu yang telah berdiri di tempat itu jauh sebelum nama-nama kami ada. Jauh sebelum desa kami muncul di peta. Jauh sebelum manusia mulai percaya bahwa bumi adalah milik mereka.
Ketika Ayah mengangkat kepalanya kembali, wajahnya basah. Aku tidak tahu apakah itu keringat atau air mata. Mungkin keduanya. Lalu ia berbalik menghadap kerumunan. Suaranya terdengar jelas.
“Tidak ada lagi penebangan.”
Tidak keras menggelegar. Namun kata-kata itu jatuh ke tengah kerumunan seperti batu yang dilempar ke permukaan danau tenang. Lingkarannya langsung menyebar ke mana-mana. Beberapa orang terkejut, marah, tidak percaya. Mandor perusahaan melangkah maju. Wajahnya memerah. Ia mulai berteriak tentang kontrak, target, investasi, dan kerugian. Namun suara itu terdengar aneh di tengah bukit. Seperti bahasa yang datang dari dunia lain.
Sementara di bawah akar pohon, air terus mengalir pelan dan jernih. Sejak pagi, aku merasakan angin bergerak kembali di antara dedaunan.
Angin yang kembali bergerak itu tidak kencang. Hanya desir tipis yang menyusup di antara daun-daun. Namun setelah keheningan panjang sejak pagi, suara itu terdengar seperti napas pertama seorang pasien yang baru sadar dari koma.
Daun-daun di pucuk Pohon Penjaga Hujan bergetar pelan. Sinar matahari yang lolos dari sela awan jatuh ke batangnya yang terluka. Air dari mata air yang muncul di bawah akar terus mengalir, membentuk jalur bening yang berkelok menuruni lereng.
Tidak seorang pun bergerak. Semua orang seakan menunggu sesuatu. Padahal tidak ada lagi yang perlu ditunggu. Pohon itu masih berdiri. Mesin-mesin berhenti. Hari terus berjalan menuju sore. Namun justru karena tidak terjadi apa-apa, kegelisahan itu menjadi semakin besar.
Manusia terbiasa menghadapi bencana yang datang dengan suara keras. Yang sulit dihadapi adalah perubahan yang datang perlahan, diam-diam, lalu mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Mandor perusahaan kembali berteriak. Ia berbicara tentang izin, surat keputusan, investasi, kemajuan. Kata-katanya meluncur cepat seperti batu-batu kecil yang dilemparkan ke arah bukit.
Namun tidak satu pun terdengar penting. Bahkan ia sendiri tampaknya mulai menyadarinya. Sebab di hadapannya berdiri pohon yang telah hidup jauh lebih lama daripada semua dokumen yang dibawanya.
Dokumen-dokumen itu mungkin berlaku lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun. Sedangkan pohon itu telah berdiri selama waktu yang tidak dapat dihitung oleh siapa pun di desa.
Perdebatan mulai pecah. Beberapa warga mendukung penghentian penebangan. Sebagian lagi menolak. Mereka mengingat utang. Mengingat kebutuhan hidup. Mengingat janji pekerjaan. Mengingat anak-anak yang harus sekolah. Mengingat dapur yang tetap membutuhkan beras. Tidak ada yang sepenuhnya salah. Tidak ada yang sepenuhnya benar.
Aku melihat bahwa kerusakan sering kali tidak lahir dari kebencian. Kerusakan lebih sering lahir dari kebutuhan yang bertemu dengan keserakahan. Dari orang-orang baik yang dipaksa memilih di antara dua kehilangan
Sore perlahan turun ke lereng. Warna langit berubah menjadi tembaga kusam. Burung-burung yang sejak pagi meninggalkan bukit belum kembali.
Hutan tampak lebih luas dari biasanya, lebih kosong. Seolah ada ruang besar yang baru saja ditinggalkan seseorang.
Ayah duduk di bawah Pohon Penjaga Hujan. Ia sendirian. Punggungnya bersandar pada batang yang terluka. Aku menghampirinya. Untuk beberapa saat kami hanya mendengarkan suara air. Suara itu mengalir dari sela akar seperti cerita yang telah lama terkubur.
“Ayah.”
Ia tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju ke arah lereng: ke arah bekas jalan yang dibuat alat berat. Ke arah tanah yang tercabik roda-roda baja.
“Aku pernah berbohong kepadamu.”
Suaranya nyaris tenggelam dalam suara air. Aku menunggu.
“Dulu aku bilang hutan tidak ingat apa-apa.”
Ia tersenyum pahit.
“Ternyata yang tidak mau mengingat adalah manusia.”
Angin kembali lewat. Membawa aroma tanah basah. Aroma yang mengingatkanku pada masa kecil ketika Ayah mengajakku mencari durian jatuh di dalam hutan.
Saat itu hutan terasa tak berujung. Penuh suara, rahasia, kehidupan. Kini aku menyadari bahwa sebagian besar tempat yang dulu kami kunjungi telah berubah menjadi jalan tanah, kebun monokultur, atau lubang-lubang terbuka yang menganga seperti luka.
“Ayah takut?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Ia tersenyum. Kali ini lebih lembut.
“Ya.”
“Takut pada apa?”
Ayah memandangi tangannya sendiri. Telapak tangannya kasar, dipenuhi bekas kerja bertahun-tahun.Namun sore itu tangannya tampak sangat tua.
“Ayah takut suatu hari nanti kau mewarisi dunia yang tidak lagi mengenal hujan.”
Matahari mulai turun. Cahayanya menyelinap di antara batang-batang pohon seperti lembaran emas tipis yang perlahan dilipat oleh malam. Kerumunan warga berangsur pulang.
Perdebatan belum selesai. Tidak ada keputusan yang benar-benar final. Namun tidak ada lagi penebangan hari itu. Untuk sementara waktu, pohon itu selamat.
Ketika orang terakhir meninggalkan lereng, hanya tersisa aku, Ayah, Nenek, dan Pohon Penjaga Hujan. Kami duduk dalam diam Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Kemudian Nenek berkata pelan,
“Waktu kecil, aku pernah mendengar pohon ini bermimpi.”
Aku menoleh. Ia tersenyum samar.
“Mimpinya sederhana.”
“Apa?”
“Air.”
Aku menunggu penjelasan lain. Namun tidak ada.
Hanya satu kata itu: “air”. Dan anehnya, semakin kupikirkan, semakin aku merasa kata itu cukup untuk menjelaskan segalanya: sungai, hujan, darah, air mata, keringat, kehidupan. Barangkali sejak awal seluruh dunia memang hanya sedang mencari jalan pulang menuju air.
Malam tiba perlahan. Tidak ada badai. Tidak ada petir. Tidak ada mukjizat. Hanya malam biasa yang turun di atas bukit. Namun sebelum benar-benar gelap, sesuatu terjadi. Bukan sesuatu yang besar. Bahkan mungkin tidak dianggap penting oleh orang lain.
Seekor burung kecil mendarat di cabang terendah Pohon Penjaga Hujan. Lalu datang beberap ekor lagi. Mereka diam di sana, tidak bernyanyi, hanya bertengger. Seolah sedang memeriksa apakah rumah mereka masih ada. Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara rangkong. Nenek tersenyum.
Ketika aku menatap kembali ke arah pohon, aku tidak tahu apakah itu hanya permainan cahaya senja terakhir atau sesuatu yang lain. Namun aku merasa melihat batang raksasa itu bernapas dengan sangat pelan, seperti seseorang yang baru saja selamat dari mimpi buruk panjang.
Malam akhirnya menelan bukit. Suara sungai terus mengalir di bawah sana. Kini, aku merasa dunia masih memiliki kesempata kecil, rapuh, mudah hilang. Tetapi kesempatan itu selalu ada, seperti benih yang tertidur di dalam tanah, menunggu musim yang tepat untuk bermimpi kembali.
–
Melbourne, Australia, 2012
————-

Leni Marlina adalah penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.
Sejak tahun 2006, ia mengajar di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam berbagai kegiatan penerjemahan dan penyuntingan.
Baginya, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta sastra.
Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.
Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id
Wattpad: @lenimarlina_write
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun





