Oleh: Johanis Kopong
Baca juga: ATR/BPN Perkuat Tata Ruang untuk Dukung KSPEAN Papua Selatan
http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Sukacita sederhana sering kali menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada kemegahan sebuah perayaan. Itulah suasana yang menyelimuti Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY), Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, pada Sabtu (13/6/2026), bertepatan dengan Peringatan Wajib Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria dan Santo Antonius dari Padua.
Di tengah perayaan Ekaristi pagi, anak-anak tampil bukan sekadar sebagai peserta ibadah, tetapi sebagai pelayan liturgi yang mempersembahkan talenta mereka di hadapan Tuhan. Kehadiran mereka menjadi gambaran nyata bahwa pembinaan iman sejak usia dini mampu melahirkan generasi yang mencintai Gereja dan Ekaristi.
Di balik suara mazmur yang mengalun, tersimpan rasa haru seorang anak yang mengatasi kegugupannya demi melayani Tuhan.
Baca juga: BPN Tanimbar Tetapkan Lokasi Akses Reforma Agraria Fase I 2026
Agustina Bwarleli, siswi kelas VI SD Don Bosco 1 Olilit Barat yang bertugas sebagai pemazmur, mengaku momen tersebut menjadi hadiah yang paling berkesan baginya.
“Meskipun sempat deg-degan sebelum naik ke mimbar, saya merasa sangat bahagia dan bersyukur hari ini. Menyanyikan Mazmur Tanggapan di hari ulang tahun Rukun Santo Antonius Padua adalah kado terindah untuk saya. Terima kasih untuk Papa dan Mama yang selalu mendukung, dan terima kasih banyak kepada Pastor Paroki atas hadiah Buku Tulis dan Buku Gambar Tuhan Yesus. Hadiah ini membuat saya semakin semangat untuk terus belajar bernyanyi bagi Tuhan,” ungkap Agustina.
Kebahagiaan serupa juga dirasakan Adonia Abi, siswa kelas I SMP Negeri 2 Saumlaki yang mendapat kepercayaan sebagai lektor.
Bagi Adonia, melayani Sabda Tuhan bukan sekadar menjalankan tugas liturgi, tetapi sebuah kehormatan yang akan selalu dikenang.
“Membaca Kitab Suci di hadapan umat pada misa pagi ini adalah sebuah kehormatan besar bagi saya. Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk menghormati Santo Antonius yang menjadi pelindung Rukun kami. Saat Pastor memberikan penghargaan tadi, rasanya luar biasa senang. Buku ini akan saya jaga dan gunakan dengan baik sebagai pengingat bahwa melayani Tuhan itu selalu membawa sukacita,” tuturnya.
Suasana gereja pun semakin hangat ketika kepolosan anak-anak usia taman kanak-kanak menghadirkan senyum bagi umat yang hadir.
Dengan wajah ceria, Nando berkata,
“Senang sekali! Tadi bangun pagi-pagi tidak nangis karena mau ke gereja. Eh, ternyata dapat buku gambar Yesus dan uang dari Pastor. Besok mau ikut misa pagi lagi!”
Tak kalah antusias, Guntur menambahkan,
“Iya, Guntur juga senang! Buku gambarnya bagus sekali, ada gambar Tuhan Yesus. Terima kasih Pastor, besok-besok Guntur dan Nando tidak akan absen misa pagi.”
Bagi para orang tua, momen itu bukan sekadar kebanggaan atas keberanian anak-anak mereka tampil di altar. Lebih dari itu, mereka melihat tumbuhnya benih iman yang kelak menjadi bekal kehidupan.
Mewakili para orang tua, disampaikan ungkapan syukur yang sarat makna.
“Sebagai orang tua, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat anak-anak kami tumbuh dekat dengan altar Tuhan. Di tengah perkembangan zaman yang luar biasa ini, melihat anak-anak mau bangun pagi untuk menjadi Lektor, Pemazmur, bahkan sekadar rajin mengikuti Misa seperti Nando dan Guntur, adalah sebuah mukjizat kecil bagi keluarga kami.”
Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada Pastor Paroki atas perhatian yang diberikan kepada anak-anak.
“Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Pastor Paroki HKY Olilit Barat atas perhatian, apresiasi, dan kasih sayang yang nyata kepada anak-anak kami. Penghargaan ini bukan sekadar materi, melainkan pupuk iman yang akan membuat mereka semakin mencintai Gereja.”
Dalam homili penutup dan pesan pastoralnya, RD Ponsianus Ongirwalu, Pastor Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Olilit Barat, menegaskan bahwa pelayanan anak-anak merupakan kesaksian iman yang patut dipelihara bersama.
“Apa yang dilakukan oleh Adonia, Agustina, Nando, dan Guntur hari ini adalah teladan iman yang hidup. Mereka telah mempersembahkan waktu dan talenta terbaik mereka di pagi hari yang suci ini,” ujar RD Ponsianus Ongirwalu.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan iman anak tidak dapat dipisahkan dari peran keluarga sebagai Gereja pertama.
“Pendidikan iman yang paling utama bermula dari rumah. Terima kasih kepada para orang tua yang tidak lelah mengantarkan dan mendidik anak-anaknya untuk mencintai Ekaristi sejak dini. Teruskan memupuk benih panggilan ini,” pesannya.
Kepada anak-anak, RD Ponsianus Ongirwalu berpesan agar penghargaan yang diterima menjadi motivasi untuk terus bertumbuh dalam kehidupan rohani.
“Untuk anak-anakku terkasih, jadikan hadiah yang kalian terima hari ini sebagai pengingat bahwa Tuhan Yesus selalu menyayangi anak-anak yang rajin dan taat. Jangan pernah bosan datang ke gereja, teruslah membaca Kitab Suci, memuji Tuhan lewat lagu, dan jadilah terang bagi teman-temanmu di sekolah maupun di rumah,” tuturnya.
Perayaan sederhana di Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat pagi itu menghadirkan pesan yang kuat: Gereja yang kokoh dibangun bukan hanya oleh megahnya bangunan atau banyaknya umat, melainkan oleh keluarga-keluarga yang setia menanamkan iman sejak dini dan anak-anak yang dengan sukacita mempersembahkan talenta terbaiknya kepada Tuhan.
Semangat Santo Antonius dari Padua dan keteladanan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria menjadi inspirasi agar benih-benih iman yang tumbuh hari ini kelak berkembang menjadi generasi yang berkarakter, rendah hati, serta setia melayani Gereja dan sesama.





