RD. Domincs Baldawins Masriat Ingatkan Bahaya Hilangnya Integritas
http://suaraanaknegeri.com | Manila – Di tengah dunia yang semakin dipenuhi berbagai tantangan moral, manusia kerap dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan nilai-nilai kebenaran atau larut dalam arus yang menyesatkan. Dalam refleksi rohani bertajuk Sejenak Sabda, Selasa (9/6/2026), Pastor Mahasiswa Universitas Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, RD. Domincs Baldawins Masriat, mengajak umat untuk kembali merenungkan makna menjadi “garam dan terang dunia” sebagaimana diajarkan dalam Injil Matius 5:13-16.
Bertempat di Central Seminary UST Manila, refleksi yang berlandaskan Bacaan Pertama 1 Raja-Raja 17:7-16 dan Injil Matius 5:13-16 itu tidak hanya berbicara tentang kehidupan iman, tetapi juga menyentuh realitas sosial yang dihadapi masyarakat dewasa ini.
Baca juga: Pastor Pius Heljanan MSC Serukan Persatuan dalam Ekaristi
Menurut RD. Domincs Baldawins Masriat, simbol garam dalam Kitab Suci memiliki makna yang sangat mendalam. Pada masa lampau, garam bukan sekadar pelengkap makanan, melainkan berfungsi sebagai pengawet yang menjaga daging agar tidak membusuk serta memberikan cita rasa agar makanan tidak hambar.
“Di mana pun kita ditempatkan, baik di rumah, sekolah, tempat kerja maupun lingkungan sosial, kita harus menjadi pengawet moral. Kehadiran kita harus mampu mencegah kebusukan moral seperti korupsi, gosip, ketidakadilan, maupun kebencian,” ujarnya.
Pesan tersebut terasa relevan di tengah berbagai persoalan sosial yang terus mengemuka. Korupsi, konflik sosial, penyebaran informasi yang menyesatkan, hingga menurunnya etika publik menjadi tantangan nyata yang membutuhkan kehadiran individu-individu berintegritas.
Baca juga: RD. Domincs Baldawins Masriat: Menjadi Roti yang Terpecah bagi Sesama
Namun, menurutnya, ancaman terbesar bukanlah kejahatan yang berkembang di sekitar manusia. Bahaya yang sesungguhnya justru muncul ketika seseorang kehilangan identitas moralnya dan mulai berkompromi dengan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.
“Bahaya terbesar seorang manusia bukan karena dunia ini jahat, melainkan ketika kita kehilangan jati diri dan berkompromi dengan kejahatan,” tegas RD. Domincs Baldawins Masriat.
Pernyataan itu menjadi peringatan keras bahwa integritas bukanlah sesuatu yang dapat ditawar. Ketika seseorang kehilangan prinsip hidupnya, maka perlahan ia kehilangan kemampuan untuk menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi sesama.
Dalam refleksinya, imam asal Indonesia yang sedang menjalankan tugas akademik dan pastoral di Manila itu juga mengingatkan bahwa kebaikan tidak boleh disembunyikan. Ketakutan, rasa malu, ataupun tekanan lingkungan sering kali membuat seseorang enggan menyatakan kebenaran secara terbuka.
Padahal, menurutnya, setiap orang dipanggil menjadi terang yang menerangi kehidupan sesama.
“Menjadi terang berarti menjadi teladan hidup yang nyata melalui kejujuran, keramahan, dan keadilan, sehingga mereka yang berada dalam kebingungan, kesedihan, maupun dosa dapat menemukan jalan yang benar melalui hidup kita,” katanya.
Refleksi tersebut tidak hanya menjadi ajakan spiritual bagi umat beriman, tetapi juga mengandung pesan universal tentang pentingnya menjaga nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Di era ketika informasi bergerak tanpa batas dan nilai-nilai moral sering kali diuji oleh kepentingan sesaat, seruan untuk menjadi garam dan terang dunia menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keteladanan pribadi.
Menutup refleksinya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak seluruh umat untuk memohon kekuatan Tuhan agar mampu menjalankan panggilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu menjadi garam dan terang dunia,” doanya.
Dari Central Seminary UST Manila, pesan sederhana itu bergema melampaui batas ruang dan negara: dunia tidak membutuhkan lebih banyak penonton, melainkan pribadi-pribadi yang berani menjaga integritas, menebarkan harapan, dan menghadirkan terang bagi sesamanya.(rls:dbm/jk)





