Minggu, 09 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD Ponsianus Ongirwalu: Saat Tangan Kristus Mengangkat yang Tenggelam

Oleh: johanis kopong

Refleksi Minggu Biasa XIX tentang ketakutan manusia, keheningan Allah, dan tangan Kristus yang tetap terulur di tengah badai kehidupan.

Olilit Barat, Kepulauan Tanimbar, Maluku, Minggu, 9 Agustus 2026 | suaraanaknegeri.com – Ada saat ketika kehidupan manusia menyerupai sebuah perahu kecil yang terombang-ambing di tengah laut. Angin datang tanpa peringatan, gelombang meninggi, arah perjalanan menjadi kabur, sementara rasa takut perlahan mengambil alih hati. Dalam situasi seperti itu, manusia sering bertanya: Di manakah Tuhan? Mengapa Ia seolah diam ketika hidup sedang berada dalam badai?

Baca juga: Tanimbar Menyambut, Panggilan Diteguhkan

Melalui refleksi atas bacaan Minggu Biasa XIX, Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, RD Ponsianus Ongirwalu, mengajak umat melihat bahwa pertanyaan tersebut justru dapat menjadi pintu menuju kedalaman iman.

Sebab, pesan utama bacaan-bacaan hari ini bukan bahwa orang beriman akan terbebas dari badai, melainkan bahwa kehadiran Allah selalu lebih besar daripada badai yang dihadapi manusia.

Bertemu Allah di Tengah Badai dan Keheningan
Bacaan pertama dari 1 Raja-raja 19:9a, 11-13a memperlihatkan Nabi Elia yang berada dalam situasi genting. Ia melarikan diri dari ancaman pembunuhan Ratu Izebel. Elia mengalami ketakutan, kesendirian, dan kelelahan batin. Namun di Gunung Horeb, pengalaman perjumpaannya dengan Allah justru berlangsung dengan cara yang tidak ia duga.

Baca juga: Mekanisme Pemilihan Anggota DKJ 2026 dan Pelanggaran Pergub No.4/2020

Allah tidak hadir dalam angin besar yang membelah gunung, tidak dalam gempa bumi, dan tidak pula dalam api. Allah hadir dalam suara yang lembut.

Bagi RD Ponsianus, pengalaman Elia memperlihatkan bahwa Allah tidak selalu menyatakan diri melalui peristiwa yang spektakuler. Ada kalanya Tuhan justru hadir dalam keheningan, dalam ketenangan batin, dan dalam suara lembut yang hanya dapat didengar ketika manusia berhenti dari kebisingan hidup.

Sementara itu, Injil Matius 14:22-33 membawa umat ke tengah Danau Galilea. Para murid berada di dalam perahu ketika angin sakal menerpa. Gelombang mengguncang perahu, malam menjadi gelap, dan ketakutan menguasai mereka. Ketika Yesus datang berjalan di atas air, mereka bahkan tidak langsung mengenali-Nya. Mereka mengira-Nya hantu.

Ketakutan ternyata dapat membuat manusia gagal mengenali Tuhan yang sebenarnya sedang mendekat.

Di tengah situasi tersebut, terdengar suara Yesus yang sederhana tetapi sangat menentukan: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Bagi umat beriman, kalimat itu bukan sekadar penghiburan. Ia adalah pewartaan tentang kehadiran Kristus.

Ketika manusia melihat badai, Kristus justru hadir di tengah badai. Ketika manusia melihat ancaman, Tuhan melihat jalan keselamatan. Ketika manusia merasa sendirian, Tuhan sedang mendekat.

Petrus dan Rapuhnya Fokus Iman
Petrus kemudian menjadi gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Dengan keberanian iman, ia mencoba berjalan di atas air mendekati Yesus.

Namun keberanian itu mulai runtuh ketika fokus pandangannya berpindah. Ia tidak lagi melihat Yesus, tetapi melihat angin dan gelombang. Ketakutan mengambil alih, dan Petrus mulai tenggelam.

Di sinilah refleksi RD Ponsianus menjadi sangat relevan dengan kehidupan umat masa kini. Ketakutan sering kali bukan hanya muncul karena besarnya persoalan, tetapi karena perhatian manusia terlalu lama tertuju kepada persoalan tersebut.

Masalah memang nyata. Gelombang kehidupan memang dapat tinggi. Namun ketika seluruh perhatian hanya tertuju kepada badai, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk melihat bahwa Tuhan tetap hadir.

Petrus kemudian mengucapkan doa yang sangat pendek: “Tuhan, tolonglah aku!” Tidak ada kalimat panjang. Tidak ada argumentasi. Tidak ada pembelaan diri. Hanya sebuah pengakuan jujur bahwa ia tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri.

Dan respons Yesus datang segera. Ia mengulurkan tangan, memegang Petrus, dan menyelamatkannya.

Ketika Tangan Tuhan Memegang Manusia
Kisah tersebut menghadirkan sebuah gambaran sederhana tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ada ilustrasi tentang seorang anak kecil yang harus menyeberangi jembatan kayu lapuk bersama ayahnya di tengah malam. Anak itu takut lalu meminta agar tangannya memegang tangan sang ayah. Namun ayahnya berkata, jangan anak yang memegang tangan ayah, tetapi biarlah ayah yang memegang tangan anak.

Alasannya sederhana. Jika anak yang menggenggam tangan ayah, ketakutan dapat membuat genggamannya terlepas. Tetapi jika ayah yang memegang tangan anak, sebesar apa pun ketakutan dan derasnya arus di bawah jembatan, sang ayah tidak akan melepaskannya.

Gambaran itu menjadi refleksi mendalam tentang iman. Manusia sering merasa bahwa ia harus memegang Tuhan dengan kekuatannya sendiri. Padahal, dalam banyak keadaan, justru Tuhanlah yang memegang manusia. Ketika kekuatan iman terasa melemah, ketika doa terasa kering, ketika hidup terasa tidak memiliki arah, tangan Tuhan tidak otomatis terlepas.

Dari Badai Kehidupan Menuju Tangan yang Terulur
Dalam konteks kehidupan masa kini, “angin sakal” dan “gelombang tinggi” hadir dalam berbagai bentuk. Ketidakpastian ekonomi, kecemasan tentang masa depan, persoalan kesehatan, krisis keluarga, tekanan pekerjaan, konflik sosial, hingga derasnya arus informasi yang sering kali memperbesar kepanikan merupakan bagian dari realitas manusia modern.

Karena itu, pesan “Jangan takut” bukan berarti umat diminta menutup mata terhadap persoalan. Sebaliknya, umat diajak melihat persoalan dengan perspektif iman. Badai tetap badai. Persoalan tetap persoalan. Namun orang beriman tidak menghadapinya sendirian.

Iman bukan berarti hidup tanpa badai. Iman adalah keyakinan bahwa Kristus hadir di tengah badai.

Karena itu, fokus pandangan perlu dikembalikan dari badai kepada wajah Kristus. Sebagaimana Petrus mulai tenggelam ketika pandangannya beralih dari Yesus kepada gelombang, manusia pun dapat kehilangan ketenangan ketika seluruh perhatian hanya diarahkan kepada masalah. Persoalan harus dihadapi, tetapi tidak boleh menjadi pusat kehidupan.

Pengalaman Nabi Elia memberikan pelajaran yang sama pentingnya. Di tengah dunia yang semakin bising, manusia perlu menyediakan ruang untuk hening. Media sosial, pemberitaan, komentar publik, perdebatan, dan berbagai informasi dapat membuat hati manusia terus berada dalam keadaan gelisah. Dalam situasi semacam itu, doa, adorasi, permenungan Kitab Suci, dan keheningan menjadi ruang untuk kembali mendengarkan suara Tuhan yang lembut.

Mungkin Tuhan tidak selalu berbicara melalui sesuatu yang besar. Bisa jadi Ia hadir melalui ketenangan yang perlahan tumbuh dalam hati. Bisa jadi jawaban doa datang melalui seseorang yang mengulurkan tangan. Bisa jadi pertolongan Tuhan hadir melalui keberanian untuk memulai kembali.

Karena itu, umat tidak perlu malu mengucapkan doa Petrus: “Tuhan, tolonglah aku!”

Doa tersebut bukan tanda kelemahan iman. Justru di dalamnya terdapat kejujuran iman. Mengakui keterbatasan berarti membuka ruang bagi pertolongan Tuhan.

Ketika manusia menyadari bahwa ia tidak sanggup berjalan sendiri, di situlah ia belajar menyerahkan hidupnya kepada Dia yang mampu memegang tangannya.

Namun refleksi ini tidak berhenti pada keselamatan diri sendiri. Mereka yang telah mengalami pertolongan Kristus dipanggil menjadi tangan yang terulur bagi orang lain. Di tengah dunia yang dipenuhi kesepian, kecemasan, keputusasaan, dan ketidakpastian, orang beriman dipanggil untuk hadir.

Mungkin kita tidak mampu menghentikan seluruh badai kehidupan seseorang. Tetapi kita dapat menemani. Kita dapat mendengar. Kita dapat menguatkan. Kita dapat mendoakan. Dan terkadang, sebuah tangan yang terulur dengan tulus sudah cukup untuk membuat seseorang percaya bahwa ia tidak sendirian.

Pada akhirnya, ketiga bacaan Minggu Biasa XIX mempertemukan manusia dengan satu kenyataan: ketakutan adalah bagian dari pengalaman manusia, tetapi ketakutan bukan akhir dari perjalanan iman. Elia menemukan Tuhan dalam keheningan. Paulus membawa dukanya kepada Allah. Petrus menemukan tangan Kristus ketika ia mulai tenggelam.

Ketiganya mengajarkan bahwa Tuhan tidak selalu datang dengan cara yang kita bayangkan. Tetapi Ia datang pada saat yang tepat.

Maka, ketika hidup terasa seperti perahu yang dihantam gelombang, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Tuhan telah pergi. Ketika doa terasa sunyi, jangan mengira Tuhan berhenti mendengar. Ketika kaki mulai kehilangan pijakan, jangan berhenti berseru.

Sebab di tengah badai itu, suara Kristus tetap bergema: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Dan ketika tangan manusia mulai kehilangan kekuatan untuk menggenggam, tangan Kristus tetap terulur.

Kategori:
Tags:

Terkini