(Puisi Esai ini mengangkat kisah driver ojek online yang memperjuangkan nasib keluarganya di depan Satpol PP) (1)
Oleh Mila Muzakkar
(Founder Generasi Literat)
_
Baca juga: SELAMAT ULANG TAHUN REDAKTUR PELAKSANA MEDIA GROUP SUARA ANAK NEGERI (SAN)
Bau tanah sisa hujan semalam masih menyengat.
Tanah basah.
Air menggenang di depan teras rumah berukuran empat kali tiga meter persegi.
Di atas genangan itu,
kendaraan roda dua yang mulai renta bertengger diam,
seolah ikut menanggung beban hidup pemiliknya.
Pada kasur yang mulai usang itu,
istri dan empat orang anaknya tertidur pulas.
Wajah mereka tenang. Tak ada ketakutan.
Tak ada kecemasan tentang tagihan yang menunggu di ujung bulan.
Tak ada bayangan tentang harga beras yang terus menanjak seperti tangga yang tak berujung.
Di balik horden biru yang warnanya mulai pudar dimakan usia,
Agung, lelaki paruh baya itu,
menatap wajah-wajah yang masih terlelap.
Lama.
Seolah sedang menyimpan gambar mereka ke dalam dadanya.
“Apapun akan kulakukan untuk membahagiakan mereka,” batinnya.
Bukan dengan gagah.
Bukan dengan dada membusung.
Bukan pula dengan pidato tentang tanggung jawab.
Melainkan dengan doa-doa yang sering tercekat di tenggorokan,
dan air mata yang diam-diam jatuh sebelum matahari terbit.
*
Pagi itu,
Agung meninggalkan rumah dengan rompi hijaunya.
Beras satu liter,
telur seperempat kilogram,
ia tinggalkan untuk keluarganya.
Persediaan yang bahkan tak cukup untuk mengusir cemas hingga lusa.
Yang ia tahu,
ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri
jika istri dan keempat anaknya kelaparan.
Yang ia tahu,
ia harus pulang membawa modal hidup untuk hari berikutnya.
Pesanan pertama masuk.
Alangkah bahagia hatinya.
Bagi sebagian orang,
notifikasi itu mungkin hanya bunyi biasa.
Namun bagi Agung,
bunyi itu adalah harapan yang mengetuk pintu rumahnya.
Di trotoar depan mal di Jakarta Timur,
motor tuanya ia parkir sekenanya.
Secepat kilat ia mengambil pesanan pelanggan.
Goody bag hijau itu ia genggam erat.
Siap diantar kepada handai taulan yang bahkan tak pernah mengenal namanya,
tetapi dari merekalah uang hari itu akan datang.
Baru dua menit jarum jam bergeser.
Sesampainya di parkiran,
jantungnya seperti terlempar dari rongga dada.
Motor yang menemaninya sejak tahun 2015
tak lagi tampak di depan mata.
Pikirannya huru-hara.
Hatinya porak-poranda.
Dunia seperti mendadak kehilangan pijakan.
Namun pesanan makanan di tangannya tetap ia pegang erat.
Ia sadar,
yang ia genggam bukan sekadar kantong hijau berisi makanan.
Di dalamnya ada uang sekolah anaknya.
Ada beras untuk esok hari.
Ada tagihan listrik yang menunggu dibayar.
Ada mimpi-mimpi kecil keluarganya yang sedang berusaha bertahan hidup.
Matanya kemudian terhenti pada sebuah truk milik Satpol PP.
Motornya telah diangkut.
Teman seperjuangannya.
Saksi bisu hujan dan panas selama bertahun-tahun.
Barisan lelaki berseragam bersiap membawanya pergi.
Dan pada saat itulah,
Agung merasa seolah sebagian hidupnya sedang dicabut paksa.
Seperti berjalan di atas air,
secepat kilat Agung melompat ke pintu sopir truk.
Tangannya mencengkeram besi.
Tubuhnya menggantung.
Martabatnya luruh bersama air mata.
“Saya butuh uang, Pak. Anak saya sekolah.”
Air matanya mulai deras.
“Tolonglah, Pak. Saya butuh makan. Rumah saya di Bekasi.”
Agung terus memohon. Ia masih menggelantung di truk.
Menggelantung pada harapan terakhir.
Menggelantung pada kemungkinan akan belas kasih masih hidup di negeri ini.
Wajah istri dan keempat anaknya berputar-putar di kepalanya.
Seperti film yang diputar berulang tanpa jeda.
Hatinya menjerit.
“Mau makan apa mereka besok?”
“Iuran BPJS kelas tiga, dua bulan sudah tak terbayar.”
Tak ada pengeras suara.
Tak ada demonstrasi.
Tak ada spanduk tuntutan.
Yang ada hanya seorang ayah miskin
yang sedang bernegosiasi dengan nasib.
Di jalanan, mereka yang berseragam coklat itu berusaha menenangkan.
“Ini peraturan, Pak. Tidak boleh parkir sembarangan.”
Mereka benar.
Peraturan memang harus ditegakkan.
Namun negeri ini terlalu sering berhenti pada pasal,
dan lupa menoleh pada manusia.
Terlalu sering sibuk mengatur ketertiban,
namun abai pada perut yang belum sempat terisi.
Mereka lupa kemanusiaan selalu lebih tinggi daripada peraturan.
Dan keadilan tak pernah cukup hanya ditegakkan dari atas meja.
Barisan pasal-pasal itu begitu mudah menyentuh Agung.
Begitu cepat menjangkau mereka yang hidup di pinggir jalan.
Namun tumpul dan sering kehilangan arah ketika berhadapan dengan mereka yang berdasi,
bermobil mewah,
dan memiliki kuasa.
Agung tak meminta uang pada negara.
Ia juga tak meminta diskon biaya pendidikan anak-anaknya.
Agung tak meminta kesejahteraan pada negara.
Sebab terlalu lama hidup membuatnya paham,
bahwa rakyat kecil sering kali hanya menjadi angka dalam laporan,
bukan wajah yang sungguh-sungguh dilihat.
Ia hanya meminta motornya.
Teman hidupnya.
Sahabat seperjuangannya.
Kendaraan yang setiap hari mengantarkannya menjemput rezeki.
Jembatan kecil yang menghubungkan keluarganya.dengan kemungkinan hidup yang sedikit lebih baik.
Bagi Agung, motor bukan hanya besi dan mesin.
Motor itu adalah dapur yang tetap mengepul.
Adalah buku sekolah anak-anaknya.
Adalah beras di meja makan.
Adalah alasan mengapa keluarganya masih bisa bermimpi tentang hari esok.
Dan di negeri yang semakin mahal ini,
kadang-kadang, seorang ayah harus rela menggelantung di pintu truk
hanya untuk mempertahankan haknya paling sederhana… Agar keluarganya bisa makan.
Minggu, 21 Juni 2026
Catatan Kaki
https://kumparan.com/kumparannews/di-balik-aksi-ojol-panjat-truk-dishub-jaktim-panik-motor-buat-cari-nafkah-27dfNaa5ses/full





