Oleh: Dr. Didik Murwantono, M.Hum
Dosen Sastra Inggris Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)
Kehadiran MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) di tengah – tengah Masyarakat Modern 5.0 dan Industrial Revolution 4.0 memberikan tantangan yang berbeda kepada para dosen untuk melakukan kreatifitas maupun pembaharuan dalam proses belajar mengajar dengan pemanfaatan teknologi canggih. Saat ini dunia pendidikan sudah memasuki era revolusi digital dan teknologi (Young, 2018). Penggunaan teknologi dan sosial media sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar pada masyarakat modern (Ünsal, 2018); (Valetsianos & Moe, 2017). Selain keuntungan dari penggunaan sosial media, terutama blogs, videos, dan WhatsApp, munculnya inovasi dan kreatifitas dalam pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan juga menjadi sebuah tuntutan.
Pembelajaran sastra dan budaya menjadi tantangan tersendiri dalam masyarakat modern 5.0 saat ini. Diperlukan strategi belajar mengajar yang efektif dan efisien yang di dukung dengan pemanfaatan teknologi modern serta pemilihan metode pendekatan pengajaran yang tepat. Maka dari itu, seorang pengajar harus memiliki suatu strategi untuk model pengajarannya di kelas.
Di dalam kelas, seorang pengajar harus memperhatikan komunikasinya dengan para mahasiswa sehingga materi yang disampaikan bisa dipahami oleh mereka. Menurut Beauchamp & Baran (2019) komunikasi yang efektif bisa dilakukan dengan memberikan makna, merekonstruksi ide dan menciptakan suatu interaksi yang efektif. Bagaimana mahasiswa merasakan pengalaman langsung dalam berinteraksi merupakan proses suatu persepsi (Maulidah, 2017). Singkatnya, inilah proses berpikir atau merasakan sesuatu dari mahasiswa dalam memahami suatu fenomena dalam kajian Amerika. Sedangkan Kajian Amerika merupakan salah satu penjurusan dari ilmu humaniora yang menekankan isu seputar Amerika termasuk orang – orang Amerika di dalamnya.
Kajian ini sudah banyak diadopsi oleh universitas yang tersebar di seluruh Indonesia. ASSINDO (American Studies Society of Indonesia) mencatat telah ada sekitar 40 universitas yang memiliki kajian Amerika. Kajian ini memiliki karakteristik berupa ‘interdisciplinary Study dan Trans-National Mind’ yang mampu mendorong mahasiswa dalam memahami dan menganalisis suatu fenomena tentang Amerika.
Pendekatan interdisciplinary Study merupakan pendekatan pengajaran Kajian Amerika yang menitik beratkan kepada pemakaian antar bidang ilmu dalam memahami suatu fenomena. Sedangkan ‘Trans-national Mind’ menunjukkan bahwa setiap kejadian besar yang terjadi di Amerika pasti akan berpengaruh terhadap negara lain, baik itu kebijakan Politik Dalam Negeri Amerika maupun Politik Luar Negerinya.
Memberikan materi masyarakat dan budaya untuk mahasiswa kelas L2 maupun EFL merupakan suatu tantangan bagi para dosen Kajian Amerika. Bukanlah suatu tugas yang mudah untuk memancing motivasi mahasiswa dalam belajar sastra dan budaya asing. Banyak diantara mahasiswa yang merasa malas untuk masuk kelas sastra maupun budaya. Kalau hal ini dibiarkan, lama kelamaan tentunya akan merugikan baik mahasiswa, fakultas maupun universitas. Maka dari itu, perubahan mendasar sangat diperlukan, terutama strategi pemilihan metode mengajar yang tepat bisa membantu mahasiswa dalam berinteraksi dengan materi yang diajarkan dan mahasiswa bisa menjadi ‘student-centered’ dalam proses pembelajaran
Metode ‘The CIJECT-BASL’
Metode “the CIJECT-BASL”, yaitu ‘The Creative Project-Based American Studies Learning’ terhadap mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tentang kajian Amerika di Perguruan Tinggi Islam. Metode ini digunakan untuk mengoptimalkan kemampuan dan ketrampilan mahasiswa dalam menghadapi perubahan jaman, terutama pembelajaran Kajian Amerika mengenai pemaparan konsep, menganalisis dan mensintesa teori melalui mental evidence, berupa video, film, biografi, iklan dan karya sastra yang berkaitan dengan fenomena – fenomena besar di abad ini. Konsep ini merupakan kajian ‘Smart Education of Higher Education 21’ yang akan membawa mahasiswa untuk memahami sesuatu fenomena dalam hybrid culture dengan artificial intelligent-nya
Pengkajian Amerika telah mengadopsi perkembangan teknologi melalui pemanfaatan sosial media dalam pengajarannya. Di era Revolusi Industri 4.0 ini, ketrampilan yang harus dimiliki oleh mahaiswa juga mengalami perkembangan. Adapun ketrampilan masa kini yang sepatutnya dimiliki oleh para mahasiswa adalah complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with other, emotional intelligence, judgment and decision making, service orientation, negotiation, and cognitive flexibility (Dauletbekova et al., 2020).
Baca juga: UGM TELAH MENJELASKAN: SAATNYA MENGHORMATI KEPASTIAN HUKUM DAN OTORITAS AKADEMIK
Kreativitas menjadi salah satu kunci utama untk bertahan di era tersebut. Dengan kreativitas individu akan semakin tumbuh dan berkembang akan potensi yang dimiliki. Sebelumnya hanya ada entrepreneurship, saat ini berkembang menjadi techno-preneurship bahkan creative-preneurship. Dengan kata lain, pembelajaran yang kreatif akan memberikan dampak yang positif kepada para mahasiswa.
Mahasiswa juga dapat merasakan sendiri berlatih untuk menjadi techno-preneurship. Pembelajaran seperti ini sangat cocok di abad ini seperti yang dinyatakan oleh (Heriyanto & Khudlori, 2020) bahwa dengan melakukan performa/ pertunjukan/ simulasi merupakan strategi/ metode pembelajaran yang memiliki potensi besar yang cocok untuk diterapkan pada pembelajaran pedagogi bahasa Inggris di abad 21.
Kesimpulan
CIJECT-BASL merupakan metode alternatif pembelajaran yang bersifat aplikatif tentang pembelajaran Kajian Amerika berbasis kreativitas. Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebuah metode pembelajaran yang menggunakan sebuah proyek/kegiatan sebagai media pembelajaran. CIJECT-BASL—the Creative Project Based on American Studies Learning-dapat menciptakan lebih banyak lagi content creator mahasiswa Indonesia meski di masa pandemic (didik.m@unissula.ac.id)
Baca juga: PENGEMBANGAN HUKUM BERDASARKAN NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PEMBENTUKAN HUKUM NASIONAL





