Reiner Emyot Ointoe
–
“Pejabat yang menguasai sumber daya vital tidak hanya mengendalikan ekonomi, tetapi juga kehidupan sosial dan politik, sehingga kekuasaan berubah menjadi total power.“ — Karl August Wittfogel (1896-1988), Oriental Despotism: A Comparative Study of Total Power (1957).
Baca juga: “Aroma Pisang Goreng di Subuh Hari: Warisan Nilai Joel Lololuan yang Tak Pernah Mati”
HATIPENA.COM // Di tengah merosot kepercayaan publik pada pemerintah — dari rupiah anjlok, harga minyak global terus melonjak, bahan kebutuhan pokok nyaris tak terbeli hingga efisiensi tak peka krisis — langit korupsi kembali menyala.
Tak main-main. Praktik megakorupsi berjamaah Badan Gizi Nasional (BGN) atas program Makan Bergizi Gratis (MBG) — yang nilainya mencapai Rp 19,8 triliun — adalah sebuah tragedi sosial yang menyingkap wajah bandit modern di tubuh negara.
Data resmi dari Kejaksaan Agung, tvOneNews, dan pernyataan Elza Syarief sebagai pengacara Sony, menunjukkan keterlibatan 32 orang dari berbagai lapisan.
Mulai dari mantan kepala (3 orang) dan wakil BGN, pejabat tinggi kementerian (8 orang), pengusaha/pelaksana proyek (9 orang), politisi (5 orang), aparat/pengawas (4 orang), hingga pelaksana teknis/eksekutor lapangan (4 orang).
Jaringan yang begitu rapat ini, dengan bukti aliran dana yang sudah disita penyidik, memperlihatkan bagaimana korupsi bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, melainkan sebuah sistem yang dijalankan dan beroperasi secara kolektif.
Di laman Facebook, Peter F. Gontha (78), asal Minahasa kelahiran Semarang — politisi Nasdem sekaligus pencetus Java Jazz — menulis kasus ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Ia menekankan bahwa data yang bocor ke publik adalah bukti paling lengkap dan valid, sehingga tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.
Dalam konteks ini, perilaku para pelaku korupsi dapat dibaca melalui lensa Eric Hobsbawm (1917-2012) dalam Bandits (1969).
Hobsbawm menulis bahwa “bandit sosial adalah bagian dari dinamika politik dan ekonomi, bukan sekadar bayangan romantis dalam imajinasi rakyat.”
Kutipan ini menegaskan bahwa bandit, baik dalam bentuk tradisional maupun modern, selalu lahir dari ketidakstabilan politik dan ekonomi.
Namun berbeda dengan noble robbers seperti Robin Hood yang digambarkan sebagai pahlawan rakyat melawan ketidakadilan, bandit-bandit dalam kasus MBG justru mencuri dari mulut rakyat miskin.
Mereka bukan simbol perlawanan, melainkan simbol pengkhianatan.
Jika Robin Hood pernah dipuja karena “mengambil dari yang kaya untuk diberikan kepada yang miskin,” maka para koruptor MBG justru melakukan sebaliknya: mengambil dari anggaran untuk anak-anak miskin dan mengalirkannya ke kantong pribadi.
Hobsbawm juga menulis tentang avengers yang menebar ketakutan sekaligus dihormati karena kekejaman mereka.
Dalam kasus MBG, figur ini tampak dalam bentuk politisi dan aparat yang melindungi jaringan korupsi, menebar ancaman bagi siapa pun yang berusaha membongkar.
Sony Sonjaya, mantan Wakil Ketua BGN, pencatat program MBG, salah satu tersangka utama sekaligus whistleblower, menjadi bukti bahwa di tengah jaringan bandit, selalu ada individu yang berani membuka tabir.
Tetapi keberanian itu pun harus dibayar dengan risiko besar.
Kasus MBG menunjukkan bahwa bandit modern tidak lagi bersembunyi di hutan atau gunung, melainkan duduk di kursi birokrasi, parlemen, dan ruang rapat kementerian.
Mereka bukan lagi figur ambivalen antara kriminal dan pahlawan rakyat, melainkan kriminal murni yang merampas hak hidup generasi muda.
Seperti ditulis Hobsbawm, “mereka adalah tanda bahwa di balik hukum dan ketertiban, selalu ada suara rakyat yang mencari keadilan dengan cara yang tak terduga.”
Dalam konteks Indonesia hari ini, suara itu adalah tuntutan agar keadilan ditegakkan, agar bandit-bandit birokrasi dan politisi bercampur oligarki tidak lagi merajalela.
Dengan demikian, program MBG yang seharusnya menyelamatkan anak-anak dari malnutrisi tidak berubah menjadi ladang pembancakan berjamaah.
Dengan demikian, megakorupsi MBG bukan hanya soal angka Rp19,8 triliun, melainkan soal moralitas bangsa.
Ia adalah cermin bahwa bandit modern telah menyusup ke jantung negara, menjadikan rakyat sebagai korban, dan mengkhianati amanah.
Refleksi Hobsbawm membantu kita memahami bahwa fenomena banditry selalu berulang dalam bentuk berbeda, dan tugas masyarakat adalah memastikan bahwa bandit tidak lagi dipuja, melainkan diadili. (*)
coversongs:
“Greed & Corruption: Revival” adalah sebuah rilisan musik yang keluar pada Maret 2026, bukan buku atau film.
Judul ini menyoroti tema kebangkitan kembali kritik terhadap kerakusan dan praktik korupsi, dengan makna ‘revival’ sebagai seruan untuk menghidupkan kembali kesadaran moral dan perlawanan terhadap sistem yang rusak.
credit foto dibikin AI dengan bayangan 32 bandit korupsi sedang makan gratis di penjara.





