Oleh : joko
http://suaraanaknegeri.com | ManilaDari Central Seminary University of Santo Tomas (UST), Manila, Filipina, Jumat (12/6/2026), Pastor Mahasiswa UST Manila, RD. Domincs Baldawins Masriat, mengajak umat untuk meneladani Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati sebagai fondasi kehidupan beriman yang autentik.
Melalui renungan “Sejenak Sabda” yang berlandaskan Bacaan Liturgi Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus, yakni Ulangan 7:6-11, 1 Yohanes 4:7-16, dan Injil Matius 11:25-30, RD. Domincs menyoroti tantangan manusia modern yang sering terjebak dalam kesombongan intelektual maupun ego pribadi.
Menurutnya, kesombongan merupakan salah satu tembok terbesar yang menghalangi seseorang memahami kebenaran dan mengalami kedamaian sejati.
“Kita diajak untuk menanggalkan topeng merasa paling tahu atau paling benar. Milikilah hati yang polos, tulus, dan siap dibentuk seperti anak kecil yang sadar bahwa ia selalu membutuhkan bimbingan orang tuanya, yaitu Tuhan,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa kerendahan hati bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang memungkinkan manusia membuka diri terhadap karya Tuhan dalam hidupnya.
Manajemen Hati di Tengah Dunia yang Keras
Dalam perenungannya, RD. Domincs juga menyoroti realitas kehidupan modern yang sering diwarnai kompetisi tanpa batas, sikap egosentris, hingga budaya balas dendam.
Di tengah situasi demikian, umat beriman dipanggil untuk menghadirkan cara hidup yang berbeda melalui apa yang disebutnya sebagai “manajemen hati”.
“Menjadi lemah lembut bukan berarti lemah secara fisik, melainkan memiliki kekuatan besar untuk mengendalikan amarah, mudah mengampuni, dan memperlakukan sesama dengan rasa hormat serta kehangatan,” katanya.
Pesan tersebut mengandung kritik halus terhadap kecenderungan masyarakat yang lebih mengedepankan kekuasaan, gengsi, dan kemenangan pribadi dibandingkan membangun relasi yang sehat dan manusiawi.
Bagi RD. Domincs, ukuran kedewasaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa besar kuasa yang dimiliki, melainkan oleh kemampuannya mengendalikan diri dan menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi Pribadi yang Aman bagi Sesama
Lebih jauh, imam asal Indonesia yang tengah menjalani studi di Filipina itu mengingatkan bahwa pengalaman merasakan kasih dan kehangatan Hati Yesus tidak boleh berhenti pada diri sendiri.
Sebaliknya, setiap orang dipanggil menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi sesama yang sedang memikul beban hidup.
“Dengan kata lain, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang aman bagi orang lain. Jangan menjadi sumber beban melalui gosip, tuntutan yang kaku, atau sikap toksik, melainkan jadilah pendengar yang baik, pemberi solusi, dan pembawa kedamaian bagi mereka yang sedang letih lesu menghadapi kerasnya hidup,” tuturnya.
Pesan ini terasa relevan di tengah meningkatnya polarisasi sosial, tekanan psikologis, serta berbagai persoalan kehidupan yang kerap membuat banyak orang kehilangan ruang aman untuk didengar dan dipahami.
Memikul Kuk dengan Iman
RD. Domincs menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari tanggung jawab maupun penderitaan. Namun, iman Kristiani mengajarkan bahwa setiap beban kehidupan dapat dijalani dengan pengharapan ketika seseorang berjalan bersama Kristus.
“Hidup ini tidak pernah bebas dari tanggung jawab atau penderitaan. Ketika kita berjalan beriringan dengan nilai-nilai kasih Yesus, beban seberat apa pun akan terasa ringan karena kita tahu kita tidak berjalan sendirian,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penutup refleksi yang menegaskan bahwa kekuatan iman bukan terletak pada kemampuan menghindari masalah, melainkan keberanian menghadapi setiap tantangan dengan hati yang dipenuhi kasih, kerendahan hati, dan pengharapan.
Dari Manila, suara refleksi itu mengalir melampaui batas geografis, mengingatkan umat bahwa di tengah dunia yang semakin bising oleh ego dan ambisi, Hati Yesus tetap menawarkan jalan sunyi menuju kedamaian sejati.
“Ya Allah, berkatilah kami dan jadikanlah hati kami seperti Hati Yesus Putera-Mu agar kami selalu lemah lembut, rendah hati, dan selalu terbuka bagi mereka yang menderita, penuh empati, belas kasih, dan ketulusan bagi sesama,” demikian doa yang dipanjatkan RD. Domincs Baldawins Masriat menutup renungannya.





