Rabu, 21 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

SEKOLAH BUDAYA BIAK: MERAWAT WARISAN, MENYEMAI IDENTITAS, MEWARISKAN KEINDAHAN LEWAT GENERASI

BIAK NUMFOR, SUARA ANAK NEGERI  — Pagi itu, Selasa, 20 Oktober 2026, Lapangan Cenderawasih, Biak, tidak hanya menjadi ruang perayaan budaya. Di sana, di antara kesibukan Festival Budaya Biak Melanesia 2026, berlangsung sebuah proses penting yang jauh lebih dalam daripada hanya belajar membuat kerajinan tangan. Sejumlah utusan sekolah tingkat SMP, SMA, dan SMK dari wilayah Biak Kota dan Samofa berkumpul dalam kegiatan Sekolah Budaya Biak, untuk mengenal kembali jejak leluhur melalui keterampilan, busana adat, dan seni hias tradisional.

Di ruang belajar terbuka itu, tangan-tangan muda diajak menyentuh kembali pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka tidak hanya belajar membuat benda-benda budaya, tetapi juga memahami makna yang bersemayam di balik bentuk, pola, dan susunannya. Sebab, bagi masyarakat Biak, kebudayaan bukan semata-mata sesuatu yang dipertontonkan ketika festival tiba. Kebudayaan adalah ingatan kolektif, penanda identitas, sekaligus warisan nilai yang harus terus hidup di dalam masyarakat.

Baca juga: Generasi Literat Luncurkan Buku Antologi 25 Suara Hati Anak Muda Lintas Agama dan Kepercayaan

Salmon Rumaikeu, demisioner Ketua Umum Dewan Kesenian Biak yang hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa kelas handicraft atau kerajinan tangan memperkenalkan sejumlah perlengkapan adat Biak, mulai dari sisir berhias hingga aksesori yang melengkapi busana laki-laki dan perempuan.

Mengenal Sisir Berhias dan Kelengkapan Adat Biak

Materi pertama yang diperkenalkan adalah pembuatan asis pamanggo, yakni sisir berhias yang menjadi bagian dari pengetahuan kerajinan tradisional Biak. Setelah itu, peserta mempelajari asis som, yaitu sisir adat yang memiliki bentuk berbeda untuk laki-laki dan perempuan.

Baca juga: HARMONI SUARA DAN GERAK: SMA NEGERI 1 BIAK TAMPIL MEMIKAT DI FESTIVAL BUDAYA BIAK MELANESIA 2026

Perbedaan tersebut bukan sekadar persoalan rupa. Di dalamnya terdapat pengetahuan budaya yang memberi penanda tentang identitas dan kelengkapan busana adat.

Menurut Salmon, bentuk asis som untuk perempuan menyerupai perahu, sedangkan bentuk untuk laki-laki memiliki kemiripan dengan udang. Perbedaan bentuk ini menunjukkan bahwa perlengkapan adat Biak mempunyai ciri dan tata susun tersendiri yang perlu dipahami, bukan sekadar ditiru.

Pembelajaran kemudian berlanjut pada prewo, perlengkapan yang berfungsi sebagai penyangga kepala laki-laki, tempat menancapkan asis som laki-laki. Melalui pengenalan tersebut, peserta diajak memahami hubungan antara satu perlengkapan dengan perlengkapan lainnya sehingga terbentuk susunan busana adat yang utuh.

Bagi Salmon, pengetahuan semacam ini penting agar generasi muda tidak hanya mengenali nama benda, tetapi juga memahami fungsi, bentuk, dan cara penggunaannya.

Sebab, sebuah perlengkapan adat tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari keseluruhan tata busana yang memiliki aturan dan nilai estetika. Ketika setiap bagian dipahami dan ditempatkan secara tepat, keindahan busana adat akan tampil sebagai satu kesatuan yang mencerminkan pengetahuan budaya masyarakat pemiliknya.

Semar dan Yom: Busana Adat yang Menegaskan Identitas

Dari perlengkapan kepala, pembelajaran beralih pada pola busana tradisional laki-laki dan perempuan. Salmon menjelaskan dua istilah penting, yakni Semar atau Yom, yang merujuk pada bentuk busana berbeda menurut penggunaannya.

 

Dalam penjelasan Salmon, Semar merupakan cawat untuk laki-laki, sedangkan Yom merupakan rok untuk perempuan. Pengenalan istilah dan bentuk busana ini menjadi bagian penting dari upaya mengembalikan pemahaman masyarakat terhadap tata berpakaian adat Biak.

Ia menilai, masih diperlukan pembelajaran yang lebih luas agar masyarakat, terutama generasi muda, memahami bentuk busana tradisional sesuai dengan peruntukannya. Menurutnya, pengenalan pola busana tidak boleh berhenti pada kegiatan mengenakan pakaian adat ketika ada perlombaan atau pertunjukan. Pengetahuan mengenai bentuk, fungsi, dan cara pemakaiannya juga perlu diwariskan.

Di sinilah Sekolah Budaya Biak menemukan arti pentingnya. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada hasil akhir berupa busana yang indah, tetapi juga diajak memahami proses dan pengetahuan yang membentuknya.

Ketika mereka mengetahui mengapa suatu perlengkapan dibuat dalam bentuk tertentu, siapa yang menggunakannya, serta bagaimana perlengkapan tersebut dipadukan, kebudayaan tidak lagi terasa asing. Ia menjadi pengetahuan yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Salmon berharap pemahaman semacam ini tumbuh menjadi pengetahuan kolektif, sehingga masyarakat memiliki landasan yang sama dalam mengenali dan mempertahankan warisan budayanya.

Rajah Hias: Sastra Leluhur yang Kehilangan Kemampuan untuk Dibaca

Selain kelas kerajinan tangan, kegiatan Sekolah Budaya Biak juga menghadirkan pembelajaran body painting, yakni seni hias tubuh yang berkaitan dengan rajah dan motif tradisional.

Dalam sesi body painting, Salmon mengajak peserta melihat rajah hias bukan semata-mata sebagai corak yang memperindah tubuh. Ia memandangnya sebagai bentuk sastra kuno lisan yang menyimpan pesan dan pengetahuan dari masa lalu.

Menurut Salmon, motif-motif itu sesungguhnya dapat dipahami sebagai rangkaian tanda yang dahulu mempunyai makna dan dapat dibaca oleh masyarakat pemilik tradisinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kemampuan untuk membaca pesan yang terkandung di dalamnya semakin memudar.

“Kita masih bisa mengenal bentuknya dan mempertahankannya,” demikian inti penjelasannya kepada peserta.

Pernyataan itu menyimpan sebuah keprihatinan sekaligus harapan. Bentuk-bentuk warisan budaya mungkin masih dapat dijumpai, tetapi pengetahuan tentang makna yang dikandungnya belum tentu bertahan dengan kekuatan yang sama.

Keadaan itu mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk fisik. Diperlukan pula usaha untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan meneruskan pengetahuan tentang makna yang terkandung di dalamnya.

Jika motif hanya dipandang sebagai hiasan, sebagian kekayaan pengetahuan leluhur berisiko berhenti pada keindahan visual. Sebaliknya, apabila generasi muda terus diajak mengenali konteks dan sejarahnya, motif-motif dimaksud dapat menjadi pintu masuk untuk memahami cara masyarakat terdahulu memandang kehidupan, alam, dan identitas mereka.

Karena itu, pembelajaran body painting dalam Sekolah Budaya Biak menjadi kesempatan untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan seni yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan jejak ingatan kolektif.

Bagi Salmon, mengenali dan mempertahankan bentuk yang masih tersisa merupakan langkah penting agar warisan  tidak hilang sepenuhnya. Pada saat yang sama, upaya menggali kembali maknanya perlu terus dilakukan agar pengetahuan yang diwariskan tidak terputus di tengah perjalanan zaman.

Sekolah Budaya untuk Memudahkan Sekolah dan Meringankan Beban Siswa

Di balik pembelajaran seni dan kerajinan, Salmon menyampaikan harapan yang sangat praktis. Menurutnya, Sekolah Budaya Biak perlu menjadi ruang pewarisan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah dalam mempersiapkan peserta didik mengikuti kegiatan budaya.

Selama ini, persiapan untuk mengikuti kegiatan seni dan budaya dapat menuntut berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan hingga bahan pendukung. Jika siswa dan sekolah telah memiliki pengetahuan serta keterampilan dasar, sebagian kebutuhan,  dapat dipersiapkan secara mandiri.

Ia berharap, melalui kegiatan seperti ini, sekolah-sekolah memperoleh kemudahan karena siswa sudah mengenal bahan, bentuk, dan cara membuat perlengkapan budaya yang diperlukan.

Dengan demikian, peserta didik tidak selalu harus membeli berbagai perlengkapan setiap kali sekolah mengikuti kegiatan budaya. Mereka dapat belajar menyiapkan kebutuhan  melalui keterampilan yang diperoleh, tentu dengan tetap memperhatikan ketepatan bentuk dan nilai adat yang berlaku.

Lebih jauh, Salmon menginginkan agar pengetahuan yang disampaikan tidak berhenti pada peserta yang hadir di Lapangan Cenderawasih. Pengetahuan itu perlu menjangkau sekolah-sekolah lain sehingga dapat menjadi pemahaman bersama.

Ia membayangkan suatu keadaan ketika istilah, bentuk, dan perlengkapan adat Biak tidak lagi terasa asing bagi para siswa. Ketika sekolah mempersiapkan sebuah kegiatan budaya, para siswa sudah mengetahui apa yang dibutuhkan, bagaimana mempersiapkannya, dan apa makna yang perlu mereka pahami.

Harapan itu menempatkan Sekolah Budaya Biak bukan hanya sebagai kegiatan pendamping festival, melainkan sebagai bagian dari pendidikan budaya yang dapat memperkuat pembelajaran di sekolah.

Di dalamnya terdapat pertemuan antara keterampilan praktis, pengetahuan tradisional, pendidikan karakter, dan pembentukan identitas. Siswa belajar membuat, tetapi sekaligus belajar memahami. Mereka belajar mengenakan busana adat, tetapi juga belajar menghormati nilai yang melekat di dalamnya.

Dari Festival Menuju Pewarisan Pengetahuan

Kegiatan Sekolah Budaya Biak dalam rangka Festival Budaya Biak Melanesia 2026 memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: sebuah sisir berhias, penyangga kepala, gelang tangan, pola busana, atau motif rajah hias.

Benda-benda itu mungkin terlihat sederhana bagi orang yang hanya memandangnya dari kejauhan. Namun, ketika dipelajari dengan sungguh-sungguh, setiap bentuk dapat menjadi pintu menuju pengetahuan yang lebih luas tentang identitas dan sejarah masyarakat Biak.

Karena itu, kegiatan ini memiliki arti yang melampaui suasana festival. Festival menyediakan panggung, sedangkan Sekolah Budaya menghadirkan ruang belajar. Festival mempertemukan masyarakat dengan kekayaan tradisinya, sementara pendidikan budaya berusaha memastikan bahwa pengetahuan tersebut tidak berhenti pada satu generasi.

Kehadiran utusan SMP, SMA, dan SMK dari Biak Kota dan Samofa menjadi bagian penting dari proses itu. Mereka adalah generasi yang kelak akan menentukan apakah warisan budaya hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu atau tetap hidup sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Pewarisan budaya membutuhkan lebih dari sekadar rasa bangga. Ia memerlukan kesempatan untuk belajar, kemauan untuk memahami, dan ruang bagi generasi muda untuk berlatih. Pengetahuan yang semula hanya dimiliki oleh segelintir orang perlu dibagikan agar semakin banyak anak muda mampu mengenali dan merawatnya.

Pada akhirnya, tujuan Sekolah Budaya Biak bukan hanya melahirkan siswa yang terampil membuat perlengkapan adat atau mengenakan busana tradisional. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menumbuhkan generasi yang memahami bahwa kebudayaan merupakan bagian dari jati diri mereka sendiri.

Sebab, warisan leluhur tidak akan bertahan hanya karena bentuknya masih terlihat. Ia akan tetap hidup apabila maknanya terus dipelajari, keterampilannya terus dipraktikkan, dan nilainya diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di Lapangan Cenderawasih pagi itu, di antara sisir berhias, asis som, prewo, Semar, Yom, dan rajah hias, sebuah pesan kembali ditegaskan: budaya tidak cukup diwariskan sebagai benda; budaya harus diteruskan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran tentang siapa kita.

Dari tangan anak-anak sekolah itulah, harapan untuk menjaga warisan Biak menemukan jalannya agar kebudayaan tidak sekadar tampil ketika festival berlangsung, tetapi terus berdenyut dalam kehidupan masyarakat, hari ini dan pada masa yang akan datang.

 

Kategori:
Tags:

Terkini