Sabtu, 04 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

DI BAWAH LANGIT YANG TAK PERNAH MELUPAKAN

Oleh: Rizal Tanjung

Aku tak lagi menangisi kepergianmu.

Baca juga: KETIKA LANGIT MENULIS TAKDIR DI DAUN-DAUN WAKTU

Air mata telah bermigrasi menjadi akar-akar sunyi, menembus tanah dada hingga menemukan ruang yang bahkan tak pernah didatangi cahaya.

Di sanalah namamu tumbuh sebagai pohon yang tak mengenal musim gugur.

Aku tak lagi memanggilmu.

Baca juga: Pertempuran belum Usai

Sebab suaramu telah menjelma desir daun yang gemetar disentuh fajar,

menjadi hujan yang jatuh perlahan seperti doa para leluhur yang masih setia mengetuk pintu langit,

menjadi burung-burung senja yang mengepakkan jingga di antara luka-luka cakrawala,

dan menjadi bulan yang setiap malam menggantungkan sepi di kening dunia.

Kau pergi.

Setenang kabut yang meninggalkan lembah tanpa sempat berpamitan kepada rumput-rumput yang sepanjang hidup setia memeluk embunnya.

Kau pergi.

Meninggalkan kursi-kursi kenangan tetap menghadap ke arah yang sama.

Meninggalkan jendela-jendela harapan tetap terbuka meski angin telah berganti nama.

Dan aku—

hanya rumah tua yang masih menyalakan lampu untuk seseorang yang telah lupa jalan menuju pulang.

Mula-mula aku menggugat waktu.

Mengapa ia begitu murah menghadiahkan perjumpaan,

namun begitu kikir memelihara kebersamaan?

Mengapa ia mengajari bunga cara membuka kelopak,

sementara pada angin ia bisikkan rahasia tentang gugur?

Mengapa dua sungai dipertemukan jika akhirnya salah satunya harus lenyap di balik bukit-bukit takdir?

Lalu aku memahami—

cinta tak selalu diciptakan untuk tinggal.

Ada yang hanya singgah seperti burung-burung pengembara yang menitipkan musim di halaman jiwa.

Ada yang datang sekadar mengajari hati bahwa kehilangan adalah sekolah tempat manusia belajar menjadi dewasa.

Dan kau—

adalah kitab yang tak pernah selesai kubaca.

Beberapa halamanmu masih disembunyikan waktu.

Beberapa kalimatmu tetap menjadi rahasia yang digantung Tuhan di langit kehidupanku.

Sejak kepergianmu,

malam berubah menjadi samudra hitam.

Aku mendayung tanpa mercusuar.

Tanpa peta.

Tanpa arah.

Hanya sunyi.

Sunyi yang menumbuhkan hutan di dalam dada.

Sunyi yang melahirkan gurun di dalam ingatan.

Sunyi yang menjelma ribuan burung gagak berputar-putar di langit pikiranku.

Dan aku berjalan di bawah sayap-sayap gelap itu

hingga telapak kakiku berdarah oleh kerikil-kerikil kenangan.

Namun, aku tak pernah membencimu.

Bagaimana mungkin bumi membenci hujan karena ia tak turun selamanya?

Bagaimana mungkin cakrawala membenci matahari karena ia tenggelam?

Bagaimana mungkin fajar membenci bintang karena pagi telah lahir?

Tidak.

Aku memilih menyimpanmu.

Seperti bumi menyimpan fosil di kedalaman bisunya.

Seperti laut menyimpan mutiara di rahim gelapnya.

Seperti langit menyimpan galaksi yang bahkan cahaya membutuhkan jutaan tahun untuk menyentuhnya.

Kelak,

bila dunia yang kau kejar ternyata hanya bayang-bayang,

bila segala gemerlap yang memalingkan langkahmu tak lebih dari serpih kaca yang menyamar menjadi berlian,

bila jalan-jalan panjangmu berakhir pada persimpangan sepi,

dan bahagiamu ternyata hanyalah topeng yang diam-diam menangis,

dengarkanlah—

masih ada satu suara yang tak pernah meninggalkanmu.

Bukan angin.

Bukan hujan.

Bukan gemuruh lautan.

Melainkan cinta.

Cinta yang tetap menyala meski tubuh-tubuh berpisah.

Cinta yang tetap hidup meski musim berganti wajah.

Cinta yang memilih diam, karena ia tahu

keabadian tak pernah lahir dari teriakan.

Jika suatu hari langkahmu kembali,

aku tak ingin menjadi penjara.

Tak ingin menjadi rantai.

Tak ingin menjadi tembok.

Aku ingin menjadi langit.

Tempat segala burung menemukan arah pulangnya.

Tempat segala awan bebas mengembara.

Tempat segala luka berubah menjadi hujan,

lalu turun sebagai kehidupan yang baru.

Datanglah.

Bawalah seluruh retakmu.

Bawalah seluruh dukamu.

Bawalah seluruh reruntuhan yang kau pungut di sepanjang perjalanan.

Karena kini aku mengerti—

cinta bukanlah menggenggam.

Cinta adalah menyediakan ruang agar seseorang tetap menjadi dirinya sendiri.

Dan jika kau tak pernah kembali,

aku tetap akan hidup.

Menjadi pohon yang tumbuh dari bekas sambaran petir.

Menjadi sungai yang lahir dari mata air kehilangan.

Menjadi puisi yang ditulis kesedihan,

namun dibaca sebagai harapan.

Sebab tidak semua cinta ditakdirkan bersatu.

Ada cinta yang ditakdirkan menjadi langit—

terlalu luas untuk dimiliki,

terlalu tinggi untuk digapai,

namun tak pernah berhenti menaungi kehidupan dengan biru yang tak mengenal akhir.

Maka pergilah, bila memang kepergian adalah bahasa yang dipilih takdir.

Aku akan tetap menyimpanmu.

Bukan di dalam rumah.

Bukan di dalam kenangan.

Bukan pula di dalam air mata.

Melainkan di ufuk yang tak mampu disentuh waktu,

tak mampu dicuri kehilangan,

tak mampu diruntuhkan perpisahan.

Di bawah langit yang tak pernah melupakan.

Di sana, bulan akan terus bergantung sebagai saksi,

bahwa pernah ada cinta

yang memilih tetap bercahaya,

meski tak lagi berjalan di jalan yang sama.

—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini