JAKARTA – SUARA ANAK NEGERI, 17 Oktober 2026| Dua puluh lima anak muda dari berbagai agama dan kepercayaan menyuarakan pengalaman, identitas, dan harapan mereka tentang perdamaian melalui peluncuran buku antologi Dengarkan Aku, Sebelum Kamu Menilai dalam acara Pesta Peace Stand Up Nusantara di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Sabtu (17/10).

Buku ini merupakan hasil dari program Peace Stand Up Nusantara yang diinisiasi oleh Yayasan Generasi Literat berkolaborasi dengan Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), serta didukung oleh Sejuk, Tifa Foundation, dan Civicus Alliance. Program ini berlangsung di Bogor pada 15–17 Agustus 2026 dan melibatkan 25 anak muda dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan, khususnya komunitas yang masih kurang dikenal di Indonesia.
Melalui pelatihan tersebut, para peserta belajar mengolah pengalaman pribadi menjadi naskah stand-up, membuat video, serta menulis cerita reflektif tentang kehidupan mereka sebagai warga negara di tengah keberagaman Indonesia. Program ini menghasilkan 25 video Peace Stand Up yang dipublikasikan melalui kanal digital Generasi Literat, serta satu buku antologi yang menghimpun tulisan para peserta.
Direktur Generasi Literat, Mila Muzakkar, mengatakan bahwa program ini memberikan ruang bagi anak muda dari kelompok agama dan kepercayaan yang selama ini kurang terwakili dalam percakapan publik untuk menyampaikan pengalaman mereka dengan suara sendiri. “Kalau selama ini yang bicara tentang keragaman adalah kelompok mayoritas, sekarang adalah saatnya untuk menyuarakannya sendiri. Buku ini merupakan salah satu wujud dari suara teman-teman komunitas muda penghayat, dan juga dari berbagai agama dan kepercayaan,” ujar Mila.
Menurutnya, sejumlah video peserta mendapatkan respons beragam, mulai dari pujian hingga hujatan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menyuarakan identitas dan keberagaman di ruang digital bukan perkara mudah. Namun, keberanian untuk berbicara menjadi bagian penting dari upaya membangun ruang publik yang lebih inklusif.
Baca juga: Dari Biak untuk Papua: Pesparani II Menyalakan Api Iman, Persaudaraan, dan Harapan
Mila berharap buku ini tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan, tetapi dapat mendorong pembaca untuk merefleksikan cara mereka memandang orang lain. “Kami ingin teman-teman, bapak ibu kakak di sini pulang bukan hanya bawa buku, bukan hanya bawa foto, tapi pulang dengan bertanya pada diri kita: apakah selama ini kita sudah betul-betul mendengarkan orang lain atau kita hanya mendengarkan apa yang ingin kita dengarkan?” katanya.
Membangun Ruang Digital yang Inklusif
Pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Lutfi, mengapresiasi kolaborasi berbagai organisasi dalam menyelenggarakan Peace Stand Up Nusantara. Ia menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun masa depan Indonesia yang damai dan inklusif, terutama di era digital.

Menurut Lutfi, anak muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat menjadi pencipta gagasan, penyebar pesan, dan penggerak perubahan melalui berbagai platform digital. Mempertemukan anak muda dari berbagai agama dan kepercayaan, lanjutnya, merupakan langkah penting untuk membangun pemahaman bersama. Keberagaman tidak cukup hanya dibicarakan sebagai gagasan, tetapi perlu dialami melalui perjumpaan, dialog, dan karya bersama.
Senada dengan itu, Alfiana dari Tifa Foundation menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan upaya mempromosikan demokrasi digital, kebebasan berekspresi, dan inklusivitas di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Ia mengingatkan bahwa keberagaman bukan hanya tentang menghargai perbedaan, tetapi juga memastikan bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup, berpendapat, berekspresi, dan menjalankan keyakinannya. “Jangan takut untuk berekspresi, jangan takut untuk mengeluarkan pendapat dan jangan takut untuk mengungkapkan ide kita,” pesannya kepada para peserta.
Sementara itu, pimpinan MLKI, Retno, menyambut baik kolaborasi lintas agama dan kepercayaan yang memungkinkan generasi muda saling mengenal dan memahami pengalaman satu sama lain. Ia berharap anak muda terus menyuarakan keberagaman sebagai bagian dari identitas Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Peluncuran buku Dengarkan Aku, Sebelum Kamu Menilai menjadi pengingat bahwa membangun perdamaian dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan pengalaman orang lain tanpa terburu-buru menghakimi. Melalui cerita dan karya anak muda lintas agama dan kepercayaan, Peace Stand Up Nusantara mengajak masyarakat melihat keberagaman bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih adil, setara, dan inklusif.
Generasi Literat berharap buku dan video yang dihasilkan melalui program ini dapat menjangkau lebih banyak orang, memantik percakapan tentang keberagaman, serta mendorong lahirnya ruang-ruang perjumpaan yang aman bagi semua. Sebab, perdamaian tidak cukup diwujudkan dengan mengakui adanya perbedaan, tetapi juga melalui tindakan nyata untuk menghormati hak setiap orang agar dapat hidup, bersuara, dan menjalankan keyakinannya tanpa diskriminasi. Mendengarkan sebelum menilai adalah langkah awal untuk merawat keberagaman dan membangun Indonesia yang damai bagi semua.



