Minggu, 21 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

GBI Milos Saumlaki: Kemuliaan Sejati Lahir dari Karakter Kristus

Oleh: joko

http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Kemuliaan sejati dalam kehidupan orang percaya tidak diukur dari jabatan, kehormatan, atau keberhasilan menurut ukuran dunia. Kemuliaan yang sesungguhnya justru lahir ketika karakter Kristus terpancar melalui kehidupan yang rendah hati, rela berkorban, dan menghasilkan buah yang memuliakan Allah. Pesan itu mengemuka dalam Ibadah Minggu Raya di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki, Jalan Ir. Soekarno, Minggu (21/6/2026).

Ibadah yang berlangsung penuh sukacita tersebut dipimpin dalam suasana penyembahan yang khusyuk. Jemaat diajak meninggalkan berbagai kesibukan dan pergumulan hidup untuk memusatkan hati kepada Tuhan melalui pujian dan penyembahan.

Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu: WKRI HKY Olilit Barat Menyalakan Harapan Lewat Aksi Kasih

Diawali Pujian dan Penyembahan
Rangkaian ibadah dibuka dengan pujian dan penyembahan yang dipandu Pelayan Tuhan, Ibu Ani Boritnaban, bersama tim singer dan pemusik yang mengiringi menggunakan keyboard, drum, dan gitar. Lagu-lagu rohani bernuansa penyembahan mengantar jemaat memasuki hadirat Tuhan dengan penuh rasa syukur.

Di awal ibadah, jemaat diajak mengarahkan hati kepada Tuhan melalui ajakan sederhana namun sarat makna, “Mari kita hampiri Tuhan dengan rasa syukur.”

Ibadah berlangsung di bawah penggembalaan Gembala Jemaat GBI Milos Saumlaki, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, S.Th, bersama para pelayan Tuhan, yakni Pdt. Haris Boritnaban, S.Th, Pdt. Johan Batmomolin, S.Th.

Baca juga: Penguatan Tata Kelola Dana Desa: Pemkab Biak Numfor Intensifkan Bimtek untuk Cegah Maladministrasi dan Optimalisasi PSN

Salib Bukan Kehinaan, Melainkan Jalan Kemuliaan
Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Johan Batmomolin, S.Th berdasarkan dengan tema mengenai kematian Yesus sebagai jalan menuju kemuliaan Allah.

Mengawali khotbahnya, Pdt. Johan menjelaskan bahwa ketika Yesus berbicara tentang kematian-Nya, banyak orang, khususnya bangsa Yunani pada masa itu, memandang salib sebagai lambang kehinaan dan kebodohan. “Orang Yunani saat itu melihat salib sebagai kebodohan,” ujarnya.

Namun, menurutnya, justru melalui salib Allah menyatakan kasih dan kemuliaan-Nya kepada dunia.

Kemuliaan Sejati Tercermin dalam Karakter Kristus
Pada bagian pertama khotbahnya, Pdt. Johan mengajak jemaat mengoreksi pemahaman mengenai arti kemuliaan.
Menurutnya, manusia sering menghubungkan kemuliaan dengan penghormatan, popularitas, dan pencapaian. Padahal firman Tuhan menunjukkan ukuran yang berbeda.

“Saat manusia mendengar kata dimuliakan, yang terpikir adalah penghormatan. Padahal kemuliaan sejati adalah terpancar karakter Kristus di dalam kita tanpa bersungut-sungut. Kita harus menyenangkan hati Tuhan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kehidupan yang memuliakan Tuhan tercermin melalui sikap rendah hati, kasih, kesabaran, dan ketaatan kepada firman-Nya.

Mematikan Ego agar Menghasilkan Buah
Mengulas perumpamaan tentang biji gandum, Pdt. Johan menjelaskan bahwa kehidupan yang berbuah selalu diawali dengan pengorbanan. Menurutnya, kulit luar biji gandum melambangkan ego manusia yang harus dihancurkan agar kehidupan baru dapat bertumbuh.

“Yesus adalah biji gandum yang utama. Pelayanan tidak akan berdampak apabila kita tidak menghancurkan ego. Kikislah kedagingan kita, itulah persembahan yang murni. Hidup bukan lagi untuk diri sendiri, tetapi untuk Tuhan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pelayanan tidak diukur dari banyaknya aktivitas, tetapi dari kesediaan seseorang untuk hidup semakin serupa dengan Kristus.

Radikal Mengikut Kristus
Pada bagian berikutnya, Pdt. Johan mengajak jemaat memahami makna radikalitas dalam mengikut Kristus. Ia menegaskan bahwa orang yang terlalu mencintai kehidupannya menurut ukuran dunia akan kehilangan kehidupan yang sejati. Sebaliknya, mereka yang rela menyerahkan hidup kepada Kristus akan memperoleh hidup yang kekal.

“Kita tidak melihat surga dengan mata, tetapi kita percaya. Karena itu, hadirkan Kristus dalam hidup supaya kita tidak mudah tersinggung,” pesannya.

Pelayan Kristus Dipanggil Menjadi Teladan
Menutup khotbahnya, Pdt. Johan menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar menjalankan aktivitas gereja, tetapi menghadirkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

“Di mana Aku berada, di situ juga pelayan-Ku berada. Melayani bukan hanya urusan aktivitas gereja, tetapi mengikuti karakter Yesus. Kita menjadi pelayan yang palsu bila masih hidup dalam keserakahan, mudah tersinggung, dan tidak menjadi penyambung lidah Kristus,” ujarnya.

Menurutnya, dunia membutuhkan lebih banyak orang percaya yang menjadi teladan melalui kasih, kerendahan hati, kejujuran, dan kesetiaan kepada Tuhan.

Jemaat Disambut Hangat dan Diajak Mendukung Pembangunan Gereja
Usai pemberitaan firman, ibadah dilanjutkan dengan persembahan syukur. Mewakili jemaat, Pelayan Tuhan Ibu Ani Boritnaban menyampaikan apresiasi kepada hamba Tuhan yang telah melayani pemberitaan firman. “Atas nama jemaat, kami mengucapkan terima kasih kepada pendeta atas khotbah yang telah memberkati kami,” ujarnya.

Dalam sesi pengumuman, gembala jemaat bersama seluruh staf pelayanan juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada jemaat yang baru pertama kali hadir serta mengundang mereka untuk kembali beribadah pada kesempatan berikutnya.

Jemaat turut diinformasikan bahwa jadwal ibadah Komsel dapat diperoleh melalui grup WhatsApp masing-masing Komsel.
Semangat Membangun Rumah Tuhan
Ibadah ditutup dengan doa berkat yang dipimpin Gembala Jemaat GBI Milos Saumlaki, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, S.Th.

Setelah ibadah berakhir, panitia pembangunan melanjutkan rapat membahas pelaksanaan usaha produksi batako sebagai salah satu sumber pendanaan pembangunan gedung gereja.

Jemaat diimbau mendukung program tersebut dengan membantu memasarkan batako kepada masyarakat yang membutuhkan untuk pembangunan rumah tinggal, sekolah, rumah kos, maupun bangunan lainnya.

Dengan wajah penuh sukacita, jemaat saling berjabat tangan sebelum meninggalkan rumah ibadah. Mereka pulang membawa pesan firman bahwa kemuliaan sejati tidak lahir dari penghargaan manusia, melainkan dari kehidupan yang rela mati terhadap ego, setia mengikut Kristus, dan menghadirkan karakter-Nya di tengah keluarga, pekerjaan, pelayanan, serta kehidupan bermasyarakat.

Kategori:
Tags:

Terkini