http://suaraanaknegeri.com | Manila – Di tengah dunia yang semakin gemar menampilkan citra, mengejar pengakuan, dan mengukur keberhasilan dari apa yang tampak di permukaan, pesan Injil justru mengajak manusia kembali ke ruang yang paling sunyi: hati.
Refleksi itulah yang disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di Central Seminary University of Santo Tomas (UST), Manila, Filipina, dalam renungan harian “Sejenak Sabda”, Sabtu (6/6/2026), yang berlandaskan Bacaan Kedua Timotius 4:1-8 dan Injil Markus 12:38-44.
Melalui kisah tentang seorang janda miskin yang mempersembahkan dua keping uang logam ke dalam peti persembahan Bait Allah, RD. Domincs mengajak umat untuk melihat kembali makna ketulusan yang kerap terlupakan di tengah budaya pencitraan.
Baca juga: Polsek Selaru Perkuat Pencegahan Kejahatan Lewat Patroli Humanis
Menurutnya, Tuhan tidak pertama-tama menilai besarnya pemberian, melainkan motivasi yang melatarbelakanginya. “Tuhan melihat motivasi hati kita, bukan apa yang kita pamerkan di luar. Kebaikan, ibadah, atau sumbangan yang dilakukan demi popularitas atau gengsi sosial tidak memiliki nilai moral yang sejati di mata Tuhan. Ketulusan dalam kesunyian jauh lebih mulia daripada kepalsuan yang megah. Ketulusan hati lebih berharga dari formalitas,” ungkap RD. Domincs Baldawins Masriat.
Pesan tersebut menjadi kritik moral yang relevan bagi kehidupan modern. Di era ketika kebaikan sering kali dipublikasikan dan pengorbanan diukur dari besarnya angka, Injil justru memperlihatkan bahwa nilai sejati sebuah tindakan terletak pada kedalaman hati yang memberi.
Janda dalam Injil, kata RD. Domincs, tidak memberikan kelebihan yang dimilikinya. Ia memberikan seluruh nafkahnya. Ia menyerahkan rasa aman yang dimiliki dan mempercayakan masa depannya kepada Tuhan.
Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu Menabur Kasih
“Nilai sebuah pemberian atau pengorbanan tidak diukur dari nominal angka atau ukuran fisiknya, melainkan dari seberapa besar arti pemberian itu bagi si pemberi,” katanya.
Lebih jauh, refleksi tersebut juga mengandung peringatan keras terhadap penyalahgunaan kepercayaan dan simbol-simbol kesalehan untuk kepentingan pribadi. Dalam Injil, Yesus mengecam para ahli Taurat yang menggunakan kedudukan dan citra religius untuk memperoleh keuntungan, bahkan dengan mengorbankan mereka yang lemah.
“Jangan pernah memanipulasi kepercayaan, kedudukan, atau topeng kesalehan agama untuk memanfaatkan dan merugikan orang lain, terutama mereka yang lemah, miskin, dan tidak berdaya. Menindas kaum lemah di balik jubah kesucian adalah pelanggaran moral yang sangat serius,” tegasnya.
Bagi RD. Domincs, pesan Injil hari itu tidak hanya berbicara tentang sedekah, melainkan tentang kemerdekaan batin. Tentang keberanian melepaskan diri dari rasa takut akan kekurangan yang sering kali menjadi sumber keserakahan manusia.
Di tengah ketidakpastian hidup, janda miskin dalam Injil menghadirkan sebuah kesaksian bahwa rasa aman sejati tidak lahir dari akumulasi harta, melainkan dari kepercayaan kepada Tuhan dan rasa syukur atas kehidupan yang dianugerahkan.
“Injil hari ini mengajak kita untuk mengikis rasa serakah dan ketakutan akan kekurangan. Janda dalam Injil hari ini mengajarkan moralitas tentang kemerdekaan batin bahwa kebahagiaan dan rasa aman sejati tidak dijamin oleh tumpukan harta, melainkan oleh iman dan rasa syukur atas kehidupan,” tutur RD. Domincs.
Pada akhirnya, refleksi ini mengingatkan bahwa ukuran terbesar kehidupan bukanlah apa yang berhasil dikumpulkan manusia, melainkan apa yang rela dibagikan dengan tulus. Sebab di hadapan Tuhan, hati yang jujur dan rendah hati selalu lebih bernilai daripada kemegahan yang hanya ingin dilihat manusia.
Menutup renungannya, RD. Domincs mengajak umat memanjatkan doa sederhana namun mendalam: “Ya Allah bantulah kami agar kami mampu hidup dengan ketulusan dan kerendahan hati seperti sang janda.”(jk)





