Selasa, 19 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Lelaki yang Dituduh Mencuri Isi Kepalanya Sendiri

Oleh : Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
Tiktok @ririeaiko_djaf

(Puisi esai ini didramatisasi dari kisah Ir. Ryantori, insinyur sipil Indonesia pencipta teknologi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL), sebuah sistem fondasi tahan gempa yang dikembangkan bersama Ir. Sujipto sejak 1975–1976 dan digunakan luas di berbagai proyek konstruksi nasional. Pada 2020, ia menghadapi proses hukum terkait hak atas inovasinya sendiri hingga akhirnya wafat di tengah tekanan persidangan.) (1)

—000—

Baca juga: Fakultas Hukum UNCRI Gelar Ujian Skripsi dengan Beragam Isu Aktual Hukum dan Adat

Di atas meja yang dipenuhi sisa coretan kapur,
seorang lelaki menekuri tanah
seolah bumi menyimpan bahasa rahasia
yang hanya mampu dibaca
oleh mereka yang memikirkan keselamatan sesama.

Namanya Ryantori.
Bukan wajah yang berseliweran di layar kaca,
bukan pula lidah manis pengumbar janji
di panggung kuasa.
Ia hanya seorang insinyur yang tekun menjaga logika,
yang percaya bahwa bangunan tak boleh runtuh
ketika bumi kehilangan keseimbangan.

Bersama rekannya, Ir. Sujipto,
ia menghabiskan tahun-tahun panjang
mempelajari tanah Indonesia
yang lunak, retak, dan rawan guncangan.
Dari kegelisahan itulah
seutas gagasan perlahan dilahirkan.

Baca juga: Hari Pendidikan Versi Anak Sekolah

Fondasi sarang laba-laba,
perpaduan pelat beton tipis
dengan rib-rib yang menjalar di bawah tanah
menyerupai jaring kehidupan.
Sebuah rajutan yang menahan beban,
seperti akar pohon yang mencengkeram bumi
agar rumah-rumah tidak tumbang
saat gempa datang mengguncang malam.

Pada 1978 temuannya mulai dipakai.
Gedung-gedung berdiri tegak,
rumah sakit, kantor pemerintahan,
jalan, bandara, dan fasilitas publik
menopang ribuan langkah manusia setiap hari.
Dari Aceh, Sumatera Barat, Nias, hingga Papua,
fondasi itu ditanam diam-diam
menjaga bangunan tetap bertahan
di atas tanah yang mudah berguncang.

Tak sedikit orang merasa aman
tanpa pernah tahu
di bawah semen dan tiang penyangga itu
ada buah pikir seorang lelaki
yang menghabiskan hidupnya
agar orang lain tak tertimbun reruntuhan.

—000—

Tetapi negeri ini punya penyakit kronis:
ia pandai memakai hasil pemikiran,
namun kerap gagap menjaga pemilik gagasan.

Orang-orang yang berpikir terlalu tinggi
sering kali berjalan lebih dekat ke arah jeruji
daripada menuju ruang penghargaan.

Negeri ini tampak cemas
pada kepala-kepala yang dipenuhi ilmu.
Ia lebih mudah akrab
dengan tangan yang bau jarahan.

Para perusak duduk tenang
di ruangan dingin berpenyejuk udara
sementara para penemu kadang disingkirkan
oleh tuduhan yang tak berkesudahan.

Puluhan tahun temuannya dipakai,
bahkan disebut mampu bertahan
menghadapi gempa berkekuatan besar.
Bangunan-bangunan tetap berdiri,
sementara nama penciptanya
perlahan tenggelam di balik proyek raksasa.

—000—

Pada 2020 ruang sidang memanggil. (2)
Nama Ryantori dihadirkan bukan sebagai penemu,
melainkan seorang terdakwa
atas teknologi yang lahir dari pikirannya sendiri.

Palu hakim diketukkan perlahan,
hentakannya lebih keras daripada retakan beton.
Lelaki yang dulu sibuk menghitung kekuatan tanah
mendadak berdiri sebagai tertuduh
di hadapan negeri
yang bertahun-tahun memakai pikirannya.

Ia tidak merampok kas negara.
Ia tidak menimbun tanah para petani.
Ia juga tidak pernah menelan keringat rakyat.
Dosanya hanya satu: ia menciptakan sesuatu.

Di tempat ini,
pencipta kadang dianggap lebih berbahaya
daripada perusak.

—000—

Hari-hari panjang dipersidangan
membuat tubuhnya terjebak dalam ruang pengap.
Sang insinyur pelan-pelan kehilangan tenaga,
digerogoti tuduhan yang diulang-ulang.

Hukum di sini seperti lorong juling:
begitu jeli melihat celah
untuk menghukum mereka yang berpikir,
tetapi mendadak rabun
di hadapan orang-orang yang punya kuasa.

Meski akhirnya nama itu dipulihkan,
jiwanya terlampau lama dipatahkan.
Sebab ada luka yang tak tercatat dalam putusan,
ada lelah yang membuat tubuhnya
pelan-pelan menyerah.

Pada November 2020,
lelaki itu pun pergi untuk selamanya. (3)
bukan karena fondasi yang gagal bekerja,
melainkan karena tekanan panjang
yang menggerus masa tuanya
di tengah ruang sidang dan tuduhan.

Meski vonis bebas akhirnya diketukkan,
tak ada yang benar-benar terasa dimenangkan.
Sebab pertanyaan itu tetap hidup
di hati banyak orang:

“Masihkah negeri ini memberi tempat
bagi mereka yang membangun dengan ilmu?”

Jawabannya terkubur
bersama Ryantori.

Catatan:
(1)https://www.unesa.ac.id/konstruksi-sarang-laba-laba-karya-asli-indonesia
(2)https://www.goparlement.com/2026/05/tragedi-ir-ryantori-penemu-fondasi-anti.html
(3)https://www.instagram.com/reel/DYPCCTZTuvV/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Kategori:
Tags:

Terkini