Bincang Bersama Reporter dan Siswa
–
Baca juga: KABUT MORVA DI ATAS KOTA LUNARA
Hari Pendidikan Versi Anak Sekolah
Dialog Reporter dan Siswa
Reporter:
Menurut kamu, sekolah itu penting enggak?
Siswa:
Penting, soalnya kalau nggak sekolah aku nggak tahu kapan harus libur.
Baca juga: BERUBAHNYA SYARAT MENJADI KREATOR DAN SENIMAN DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Reporter:
Apa itu Hari Pendidikan Nasional?
Siswa:
Kayaknya hari di mana guru ingat kalau muridnya banyak.
Reporter:
Kenapa kita harus sekolah?
Siswa:
Biar nggak dimarahin orang tua, itu dulu yang utama.
Reporter:
Pelajaran favorit kamu apa?
Siswa:
Jam kosong.
Reporter:
Pelajaran paling susah?
Siswa:
Matematika, soalnya dia nggak pernah tanya kabar dulu, langsung soal.
Reporter:
Cita-cita kamu apa?
Siswa:
Pengennya jadi orang sukses biar nggak ditanya lagi, “PR udah belum?”
Reporter:
Menurut kamu, guru itu seperti apa?
Siswa:
Baik, tapi kalau ulangan berubah jadi bos terakhir.
Reporter:
Apa yang kamu pelajari di sekolah selain pelajaran?
Siswa:
Belajar nahan lapar sebelum istirahat.
Reporter:
Kalau jadi Menteri Pendidikan, kamu mau ngapain?
Siswa:
Tambah hari libur, biar pendidikan mental terjaga.
Reporter:
Apa arti pintar menurutmu?
Siswa:
Bisa jawab soal, walaupun nggak ngerti kenapa jawabannya itu.
Reporter:
Menurut kamu, sekolah itu menyenangkan nggak?
Siswa:
Menyenangkan kalau pulang.
Reporter:
Pesan buat orang-orang yang lagi sekolah?
Siswa:
Semangat ya, sebentar lagi juga lulus… terus kangen sekolah.
Reporter:
Aduh, kamu ini bikin saya ketawa terus. Lucu sekali jawabannya!
—000—
Analisis oleh Paulus Laratmase)*
–
Mari simak dialog di atas dengan sedikit analisis yang saya jabarkan sebagai pengingat bagi para pendidik:
Seorang anak menjawab pertanyaan reporter dengan polos, lucu, tetapi menghantam kesadaran orang dewasa lebih keras daripada pidato para pejabat pendidikan.
“Kenapa sekolah itu penting?”
Anak itu menjawab,
“Penting, soalnya kalau nggak sekolah aku nggak tahu kapan harus libur.”
Semua tertawa. Tetapi sesungguhnya, jawaban itu menyimpan luka kecil yang sering tidak kita dengar. Bagi banyak anak, sekolah bukan lagi ruang yang selalu dirindukan, melainkan rutinitas yang dijalani sambil menunggu bel pulang berbunyi. Mereka datang dengan tas besar, mata mengantuk, dan pikiran yang belum selesai bermain di rumah. Mereka duduk rapi di bangku kayu sambil belajar menjadi dewasa terlalu cepat.
Lalu reporter bertanya lagi,
“Pelajaran favorit kamu apa?”
“Jam kosong.”
Jawaban itu kembali mengundang tawa. Namun di balik kelucuan itu, ada ironi yang pahit. Anak-anak mulai mencintai kekosongan lebih daripada pelajaran. Mereka merasa lebih bebas ketika guru tidak masuk. Mereka merasa lebih hidup ketika tekanan berhenti sejenak. Dunia pendidikan perlahan berubah menjadi ruang yang terlalu sibuk mengejar angka, tetapi lupa memelihara jiwa.
Kita sering bertanya mengapa anak-anak sekarang sulit fokus belajar. Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sekolah sudah menjadi tempat yang membuat mereka merasa didengar?
Sebab anak kecil itu berkata lagi,
“Matematika paling susah, soalnya dia nggak pernah tanya kabar dulu, langsung soal.”
Kalimat sederhana itu seperti tamparan halus bagi sistem pendidikan kita. Pendidikan terlalu sering datang sebagai perintah, bukan percakapan. Guru masuk kelas membawa target kurikulum, membawa lembar evaluasi, membawa angka-angka ketuntasan, tetapi kadang lupa membawa empati. Padahal sebelum anak mampu memahami rumus, mereka terlebih dahulu ingin dipahami sebagai manusia.
Anak-anak bukan mesin penghafal.
Mereka punya rasa takut, rasa malu, rasa lapar, dan rasa lelah.
Ketika ditanya apa yang dipelajari di sekolah selain pelajaran, anak itu menjawab,
“Belajar nahan lapar sebelum istirahat.”
Jawaban itu terdengar jenaka, tetapi bagi sebagian anak Indonesia, itu adalah kenyataan. Ada yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Ada yang menahan kantuk karena semalaman membantu orang tua. Ada yang duduk di kelas sambil memikirkan uang SPP yang belum dibayar. Pendidikan bagi mereka bukan sekadar mengejar cita-cita, tetapi perjuangan bertahan hidup.
Hari Pendidikan Nasional sering dirayakan dengan upacara, baliho besar, dan pidato penuh slogan. Namun suara anak-anak jarang benar-benar didengarkan. Kita sibuk membicarakan pendidikan dari meja seminar, sementara anak-anak memaknainya dengan cara yang sangat sederhana.
“Menyenangkan kalau pulang.”
Betapa jujurnya kalimat itu.
Anak-anak tidak pandai berbohong tentang perasaan mereka. Mereka tidak tahu cara menyembunyikan kecewa dengan bahasa akademik. Mereka bicara apa adanya. Dan justru karena itulah, suara mereka penting.
Sistem pendidikan kita terlalu lama mengukur kecerdasan hanya dari kemampuan menjawab soal. Padahal ketika reporter bertanya, “Apa arti pintar menurutmu?”, anak itu menjawab:
“Bisa jawab soal, walaupun nggak ngerti kenapa jawabannya itu.”
Kalimat itu terdengar lucu, tetapi sesungguhnya menggambarkan tragedi pendidikan modern: anak-anak dipaksa menghafal tanpa memahami, menjawab tanpa mengalami, dan lulus tanpa benar-benar mengerti kehidupan.
Sekolah akhirnya menjadi tempat mengejar nilai, bukan makna.
Padahal pendidikan sejatinya bukan sekadar membuat anak pintar berhitung, tetapi membuat mereka mampu menghargai manusia lain. Pendidikan bukan hanya tentang rangking, melainkan tentang membentuk hati yang tidak mudah merendahkan sesama.
Lucunya lagi, ketika ditanya apa yang akan dilakukan jika menjadi Menteri Pendidikan, anak itu menjawab:
“Tambah hari libur, biar pendidikan mental terjaga.”
Semua tertawa lagi.
Tetapi mungkin anak kecil itu sedang mengatakan sesuatu yang gagal dipahami orang dewasa: bahwa mental anak-anak juga lelah. Mereka hidup di zaman penuh tekanan. Mereka dibandingkan dengan teman sekelas, dibebani target nilai, dipaksa cepat sukses, bahkan sejak kecil sudah ditanya cita-cita seolah hidup adalah perlombaan tanpa jeda.
Kita lupa bahwa anak-anak juga butuh ruang bernapas.
Hari Pendidikan seharusnya bukan hanya perayaan tentang sekolah, tetapi juga hari untuk bertanya: apakah anak-anak masih bahagia belajar?
Karena pendidikan yang hebat bukan pendidikan yang menghasilkan murid paling takut, melainkan murid paling berani bertanya. Bukan sekolah yang paling sunyi, tetapi sekolah yang paling hidup oleh rasa ingin tahu.
Dan mungkin, justru dari jawaban-jawaban polos anak-anak itu kita belajar sesuatu yang penting: pendidikan tidak boleh kehilangan kemanusiaannya.
Sebab sekolah tanpa tawa hanya akan melahirkan generasi yang pandai menyembunyikan lelah. Sekolah tanpa kasih sayang hanya akan mencetak manusia yang tahu rumus, tetapi lupa cara memahami air mata.
Mungkin benar anak itu berkata sambil bercanda,
“Semangat ya, sebentar lagi juga lulus… terus kangen sekolah.”
Karena pada akhirnya, sekolah bukan hanya tentang pelajaran yang tertulis di papan tulis. Sekolah adalah kenangan tentang suara teman-teman, tentang guru yang pernah percaya pada kita, tentang rasa takut saat ulangan, tentang bekal makan siang, tentang hujan di halaman sekolah, dan tentang masa kecil yang perlahan hilang.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya mengingatkan kita bahwa anak-anak tidak membutuhkan sekolah yang sempurna.
Mereka hanya membutuhkan sekolah yang membuat mereka merasa menjadi manusia.
—
*(Paulus Laratmase adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia, Pendidik.





