Minggu, 19 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Hujan Gerimis

Oleh: Rizal Tanjung

ah,
apa kabarmu hari ini—
aku bertanya pada hujan yang jatuh setengah hati,
pada gerimis yang menggigil di antara sela-sela daun,
pada langit yang seakan lupa bagaimana caranya menangis dengan utuh.

Baca juga: DPRK Biak Numfor Dorong Rekonsiliasi dan Pengawasan Ketat Dana Kampung Usai Pelantikan Kepala Kampung

di sini tadi hujan turun,
tidak deras—
ia hanya menyentuh bumi seperti rindu yang malu-malu,
cukup untuk meredakan debu yang kian amuk,
cukup untuk menenangkan jalanan yang resah oleh langkah-langkah tanpa tujuan,
cukup untuk membuatku ingat—
bahwa segala yang singkat justru paling lama menetap di dada.

ah,
bukankah kita tak bisa terlalu berharap
di musim yang tak pernah setia pada dirinya sendiri?
angin berubah arah seperti pikiranmu dahulu,
matahari pun kadang lupa menghangatkan,
dan langit…
langit sering kali menjadi cermin retak
yang memantulkan wajah-wajah yang tak lagi kita kenal.

biarlah musim berjalan sesukanya,
katamu waktu itu,
biarlah ia menjadi liar seperti burung yang tak mengenal peta.
dan kita—
ya, kita pun serupa itu,
dua jiwa yang berpura-pura tahu arah
padahal hanya saling tersesat di dalam satu sama lain.

Baca juga: Bupati Biak Numfor Lantik 249 Kepala Kampung, Tegaskan Amanah Pelayanan dan Sinergi Pembangunan

ah,
di manakah kini kau?
di kota manakah kau menyimpan namamu yang baru?
di lorong mana kau gantungkan kenangan kita
agar tak lagi membebani langkahmu yang ingin terbang?

kau bilang,
kau akan mengejar gemerlap lampu—
lampu-lampu kota yang dulu kita pandang dari kejauhan
seperti bintang yang jatuh ke bumi
dan lupa kembali ke langit.

aku ingat matamu waktu itu—
ia menyala seperti api kecil di tengah gelap,
penuh tekad, penuh lapar akan perubahan,
seolah dunia adalah pintu
dan kau telah menemukan kuncinya.

kau ingin bermetamorfosa, katamu,
menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar luka yang berjalan,
menjadi cahaya yang tak lagi bergantung pada matahari,
menjadi langit yang tak lagi takut pada badai.

dan aku—
aku hanya diam,
menjadi tanah tempatmu berpijak sebelum terbang,
menjadi akar yang kau tinggalkan
karena sayapmu terlalu sibuk memimpikan langit.

ah,
adakah sayap telah mengepak sekarang?
adakah udara telah mengenal namamu?
adakah awan telah menyambutmu
sebagai bagian dari dirinya?

atau jangan-jangan,
sayap itu hanya luka yang kau lipat rapi,
dan langit hanyalah bayangan yang terlalu jauh untuk disentuh?

di sini,
aku masih berbicara dengan hujan,
masih mengumpulkan tetes-tetesnya
seperti mengumpulkan sisa-sisa suaramu yang pernah tinggal di telingaku.

gerimis menjadi bahasa baru bagiku—
ia mengajari bagaimana cara kehilangan
tanpa harus benar-benar pergi,
bagaimana cara menunggu
tanpa harus berharap pulang.

aku berjalan di bawah langit yang setengah menangis,
membawa tubuh yang setengah hidup,
dan hati yang sepenuhnya tertinggal
di suatu tempat yang mungkin telah kau hapus dari ingatanmu.

ah,
kau tahu?
kehilangan itu tidak pernah datang dengan suara keras.
ia datang seperti gerimis—
perlahan, diam-diam,
menyelinap di antara detik-detik yang tampak biasa,
lalu tiba-tiba
seluruh dunia terasa basah tanpa alasan.

aku kehilanganmu
bukan saat kau pergi,
tetapi saat aku menyadari
bahwa aku tak lagi bisa menemukan diriku
di dalam namamu.

kau telah menjadi kota asing,
dengan jalan-jalan yang tak lagi mengarah pulang,
dengan lampu-lampu yang terlalu terang
hingga menghapus bayanganku darimu.

dan aku—
aku hanyalah hujan kecil
yang pernah singgah di jendelamu,
yang kini jatuh di tempat lain
tanpa pernah benar-benar dimiliki langit.

ah,
jika suatu hari kau bertanya pada gerimis
tentang seseorang yang pernah mencintaimu dengan diam,
maka dengarkanlah baik-baik suaranya—
mungkin itu aku,
yang masih jatuh
di antara jarak dan waktu,
yang masih mengeja namamu
dalam bahasa kehilangan.

dan bila sayapmu benar-benar telah mengepak,
terbanglah—
aku tak akan memanggilmu kembali.

sebab cinta,
pada akhirnya,
bukan tentang memiliki—
melainkan tentang merelakan
bahkan ketika hati masih ingin menetap
di tubuh yang telah memilih langit.

ah,
hujan kembali turun malam ini,
lebih pelan dari sebelumnya,
seperti ingin mengingatkanku
bahwa kehilanganmu
adalah musim yang tak akan pernah benar-benar usai.


Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini