Minggu, 19 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

REPUBLIK SAPU-SAPU: SATU NEGARA, SATU MUSUH, SEEKOR IKAN

Oleh: Rizal Tanjung

Di sebuah negeri yang luasnya seperti janji-janji, di mana sungai mengalir membawa sejarah dan lumpur, tiba-tiba lahirlah satu musuh bersama: seekor ikan bernama sapu-sapu. Ia kecil, bersisik keras, dan tampak seperti pekerja kebersihan yang tak digaji—tetapi dalam narasi besar republik, ia menjelma menjadi antagonis utama, seolah seluruh kerusakan ekosistem hanyalah kisah tentang satu spesies yang tersesat.

Baca juga: UNCRI Jadi Pusat Penguatan HAM: KemenHAM Papua Barat Libatkan 150 Mahasiswa dalam Edukasi Strategis

Padahal, kita tahu—atau pura-pura lupa—bahwa kerusakan tidak pernah lahir dari satu makhluk saja.

Ikan yang Datang dari Jauh, dan Kesalahan yang Datang dari Dekat

Baca juga: Perkuat Sinergi Seni dan Adat, Wakil Bupati Usulkan Perubahan Nama Menjadi Dewan Kebudayaan

Ikan sapu-sapu, atau keluarga Loricariidae, bukanlah anak kandung perairan Nusantara. Ia adalah pendatang—dari sungai-sungai Amazon yang jauh, dari akuarium-akuarium yang sempit, dari tangan manusia yang bosan memelihara. Ketika ia dilepas ke sungai, ia tidak membawa dosa—ia hanya membawa naluri.

Namun di perairan republik ini, ia berubah. Ia berkembang biak dengan cepat, menguasai dasar sungai, memakan sumber nutrisi organisme lain, bahkan merusak habitat dengan perilaku menggali dan mengaduk dasar air . Ia menjadi spesies invasif—tangguh, rakus, dan hampir tak terkendali .

Ia bahkan melubangi tepian sungai, merusak jaring nelayan, dan mencemari perairan dengan dominasi biologisnya .

Tetapi mari jujur sejenak—

Bukankah yang paling invasif di negeri ini bukanlah ikan?

Republik yang Sibuk Menyalahkan Sisik

Di negeri ini, sungai-sungai mati bukan hanya karena ikan. Mereka mati karena plastik yang tak pernah mengaku sebagai pelaku, limbah yang tak pernah diadili, dan kebijakan yang selalu datang terlambat seperti hujan di musim kemarau.

Namun, betapa mudahnya narasi dibangun:

> “Mari kita lawan ikan sapu-sapu!”

Seolah-olah:

pencemaran industri tidak pernah ada,

sedimentasi bukan akibat penebangan liar,

dan ekosistem rusak bukan karena tangan manusia sendiri.

Ikan itu menjadi kambing hitam yang bersisik.

Ekosistem yang Retak: Dari Dalam, Bukan dari Dasar Sungai

Sapu-sapu memang merusak. Ia mengganggu rantai makanan, mengancam ikan lokal, dan membuat air menjadi keruh . Tapi ia hanya mempercepat sesuatu yang sudah lama retak.

Ekosistem kita bukan runtuh karena satu spesies, melainkan karena:

ketidaktahuan yang dilegalkan,

kebijakan yang setengah hati,

dan keserakahan yang diberi izin.

Sapu-sapu hanyalah gejala.

Penyakitnya adalah kita.

Satire Republik: Ketika Negara Berperang Melawan Ikan

Ada sesuatu yang tragis sekaligus lucu:

Negara yang tak mampu menertibkan tambang ilegal, justru berani mengumumkan perang terhadap ikan.

Negara yang membiarkan sungai menjadi tempat pembuangan raksasa, tiba-tiba menjadi pahlawan saat menangkap sapu-sapu.

Negara yang lupa mengedukasi rakyat tentang spesies invasif, kini sibuk memanen akibatnya.

Ini seperti seseorang yang membakar rumahnya sendiri, lalu marah kepada asap.

Dari Pembantaian ke Pengelolaan—atau Sekadar Ganti Narasi?

Belakangan, muncul wacana “pengelolaan” setelah sebelumnya ramai pembantaian massal ikan sapu-sapu. Sebuah ironi: dari kekerasan menuju kebijakan—tapi tanpa refleksi.

Padahal, persoalan utamanya bukan pada ikan itu sendiri, melainkan pada:

bagaimana ia bisa masuk,

siapa yang melepaskannya,

dan mengapa ekosistem kita begitu rapuh hingga mudah ditaklukkan.

Selama pertanyaan ini tidak dijawab, maka:

> Hari ini sapu-sapu,
besok spesies lain,
lusa mungkin manusia sendiri.

Sungai yang Menangis Tanpa Suara

Sungai tidak pernah berteriak.

Ia hanya menjadi keruh.
Ia hanya kehilangan ikan-ikan kecilnya.
Ia hanya perlahan mati—tanpa headline, tanpa pidato.

Dan di atasnya, republik berdiri, mengangkat jaring, menangkap seekor ikan, dan berkata:

> “Inilah musuh kita.”

Padahal, di cermin air yang kotor itu, yang paling jelas terlihat— bukanlah ikan.

Melainkan wajah kita sendiri.

—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini