Oleh: johanis kopong
Di Balik Serah Terima Pastor Paroki HKY Arui, Gereja Menegaskan Bahwa Pelayanan Bukan Milik Seorang Pribadi, Melainkan Misi Kristus yang Terus Berjalan Melalui Para Gembala-Nya.
suaraanaknegeri.com | Arui, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku | Kamis, 6 Agustus 2026- Pergantian seorang pastor paroki dalam Gereja Katolik tidak pernah berhenti pada prosesi seremonial. Di balik penyerahan tongkat penggembalaan, tersimpan makna yang jauh lebih mendalam tentang kesinambungan karya Allah yang terus berlangsung dari satu pelayan kepada pelayan berikutnya. Seorang imam datang dan pergi sesuai perutusan Gereja, tetapi kasih Kristus yang menjadi dasar pelayanan tetap tinggal, menyapa umat dari generasi ke generasi.
Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu Ajak Umat Menjadi Terang Kristus
Nuansa itulah yang menyelimuti Acara Serah Terima Jabatan Pastor Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Arui dari RD. Petrus Kowarin kepada RP. Andries Christafel Fredy, MSC. Bertepatan dengan Perayaan Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya, momentum tersebut menjadi ruang kontemplasi bersama bahwa Gereja senantiasa hidup dalam ziarah iman yang terus bergerak, menghadirkan wajah Kristus melalui para gembala yang diutus-Nya.
Dalam sambutannya, RD. Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, mengajak seluruh umat memandang pergantian kepemimpinan pastoral sebagai bagian dari penyelenggaraan ilahi yang membawa Gereja terus bertumbuh dalam iman dan persaudaraan.
“Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan penyelenggaraan-Nya, hari ini kita boleh berkumpul dalam suasana iman yang penuh sukacita dan keharuan. Di atas Gunung Tabor pelayanan, pada Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya ini, kita menjadi saksi dari kelanjutan ziarah iman dan perutusan Gereja-Nya di Paroki Hati Kudus Yesus Arui.”
Jejak Pengabdian yang Menjadi Warisan Iman
Dalam kehidupan Gereja, seorang pastor tidak hanya meninggalkan bangunan atau program kerja. Lebih dari itu, ia meninggalkan jejak kasih yang tertanam dalam hati umat, menjadi bagian dari sejarah iman sebuah komunitas yang terus hidup bahkan setelah masa tugasnya berakhir.
Atas nama pimpinan Keuskupan dan Kevikepan Kepulauan Tanimbar, RD. Ponsianus Ongirwalu menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang mendalam kepada RD. Petrus Kowarin atas dedikasi dan pengabdiannya selama menggembalakan Paroki Hati Kudus Yesus Arui.
“Selama masa pelayanannya di Paroki HKY Arui, Romo Petrus telah membuktikan diri sebagai seorang gembala yang tekun, murah hati, dan berdedikasi tinggi.”
Pengabdian tersebut, menurutnya, tidak hanya tampak melalui karya-karya yang kasatmata, tetapi juga melalui pertumbuhan iman umat yang menjadi buah pelayanan pastoral selama bertahun-tahun.
“Banyak karya, baik yang nampak secara fisik maupun yang terukir halus di dalam batin dan iman umat Arui, telah Romo kerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Romo telah menggarami paroki ini dengan dedikasi dan kesetiaan seorang imam projo.”
Ungkapan “menggarami paroki” menggambarkan panggilan seorang imam untuk menghadirkan cita rasa Injil dalam kehidupan umat. Sebab sebagaimana garam bekerja tanpa terlihat, demikian pula pelayanan sejati sering kali meninggalkan pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan.
Karena itu, penghentian dengan hormat dari jabatan pastor paroki tidak dipandang sebagai akhir pelayanan, melainkan awal dari perutusan baru yang tetap berada dalam karya keselamatan Allah.
“Hari ini, ketika Romo dihentikan dengan hormat dari jabatan Pastor Paroki HKY Arui, ketahuilah bahwa jejak-jejak kasih dan pengorbanan Romo tidak akan pernah terhapus dari hati umat Arui.”
Sebagai peneguhan spiritual, Vikaris Episkopal mendoakan agar motto imamat yang dihayati RD. Petrus Kowarin terus menjadi kekuatan dalam setiap tempat perutusannya.
“Semoga semangat ‘Dominus Mihi Sufficit’ Cukuplah Hanya Allah Saja, senantiasa menjadi kekuatan Romo di mana pun Romo diutus.”
Tongkat Penggembalaan Beralih, Misi Kristus Tetap Sama
Dalam Gereja Katolik, pergantian pastor merupakan bagian dari dinamika pelayanan yang memastikan karya pastoral terus berjalan. Yang berganti adalah pelayannya, sedangkan misi Gereja tetap sama, yakni mewartakan Injil, menggembalakan umat, serta menghadirkan kasih Allah di tengah dunia.
Dalam kesempatan tersebut, pimpinan Gereja secara resmi mempercayakan pelayanan Paroki Hati Kudus Yesus Arui kepada RP. Andries Christafel Fredy, MSC untuk masa tugas 11 Juli 2026 hingga 11 Juli 2030.
Mewakili Kevikepan Kepulauan Tanimbar, RD. Ponsianus Ongirwalu menyampaikan sambutan hangat kepada pastor baru yang diharapkan membawa semangat pelayanan yang semakin memperkaya kehidupan umat.
“Atas nama Kevikepan KKT, saya mengucapkan selamat datang dan selamat bertugas kepada RP. Andries Christofel Fredy, MSC.”
Ia menegaskan bahwa jabatan pastor paroki bukanlah kedudukan administratif semata, melainkan amanah rohani yang menuntut kesetiaan untuk menggembalakan, mengajar, serta menguduskan umat Allah.
Menjadi Gembala yang Hidup Bersama Umat
Salah satu pesan paling mendalam dalam sambutan tersebut adalah ajakan agar pastor baru sungguh mengenal umat yang dilayaninya. Kepemimpinan pastoral, menurut Gereja, bukan dibangun dari jarak, melainkan dari kedekatan, kehadiran, dan kesediaan mendengar.
“Tetaplah menjadi gembala yang berbau domba. Kenalilah umat Arui, cintailah mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengarkanlah jerit hati dan harapan mereka.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa seorang gembala dipanggil untuk berjalan bersama umat, memahami pergumulan mereka, serta menjadi tanda kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Selain kedekatan dengan umat, keharmonisan dengan seluruh unsur Gereja juga menjadi fondasi penting dalam pelayanan pastoral.
“Jagalah senantiasa komunikasi, koordinasi, dan sinergisitas yang harmonis dengan Kevikepan KKT, rekan-rekan imam, biarawan-biarawati, serta Dewan Paroki. Kita adalah satu tubuh di dalam Kristus; keharmonisan kepemimpinan adalah kunci utama mekarnya reksa pastoral di paroki ini.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa pelayanan Gereja hanya dapat berkembang apabila seluruh unsur berjalan dalam semangat persaudaraan, saling menopang, dan memiliki tujuan yang sama.
Umat Diajak Menjadi Mitra Pelayanan
Pergantian pastor bukan hanya menjadi tanggung jawab imam yang baru menerima tugas. Lebih dari itu, seluruh umat dipanggil untuk menjadi bagian dari perjalanan pelayanan tersebut melalui doa, dukungan, dan kerja sama.
Karena itu, RD. Ponsianus Ongirwalu mengingatkan bahwa pergantian kepemimpinan tidak mengubah identitas Gereja yang tetap berakar pada kasih Kristus.
“Pastor paroki bisa berganti, periode kepemimpinan bisa berganti, namun Cinta Hati Kudus Yesus dan Gereja Kristus tetap sama kemarin, hari ini, dan selama-lamanya.”
Ia mengajak seluruh umat menyambut pastor baru dengan hati yang terbuka dan semangat kebersamaan sebagaimana telah diberikan kepada pastor sebelumnya.
“Sambutlah RP. Andries Christofel Fredy, MSC dengan hati yang terbuka, tangan yang siap bekerja sama, dan doa-doa yang tulus. Bukalah pintu rumah dan pintu hati Anda sekalian untuk mendukung pelayanan beliau sebagaimana Anda sekalian telah mendukung RD. Petrus Kowarin.”
Ajakan tersebut berpuncak pada pesan yang menggambarkan hakikat Gereja sebagai persekutuan umat Allah.
“Jangan biarkan pastor paroki Anda berjalan sendirian; berjalanlah bersama-sama sebagai satu keluarga Allah.”
Menatap Masa Depan dalam Terang Kemuliaan Kristus
Menutup sambutannya, RD. Ponsianus Ongirwalu mengajak seluruh umat menyerahkan masa depan Paroki Hati Kudus Yesus Arui ke dalam perlindungan Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus.
“Marilah kita menyerahkan seluruh masa depan Paroki Hati Kudus Yesus Arui ke dalam lindungan Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus yang Maha Kudus. Semoga kemuliaan Kristus yang kita rayakan hari ini senantiasa menerangi setiap langkah pelayanan kita di tanah Tanimbar yang kita cintai ini.”
Refleksi tersebut menjadi penutup yang menegaskan bahwa Gereja senantiasa bertumbuh melalui kesetiaan para pelayannya. Seorang pastor menyelesaikan tugasnya, pastor yang lain melanjutkan pengabdian, sementara Kristus tetap menjadi pusat dari seluruh perjalanan iman umat.
Di Arui, tongkat penggembalaan memang telah berpindah tangan. Namun yang sesungguhnya terus hidup adalah semangat pelayanan, persaudaraan, dan kasih Kristus yang tidak pernah berubah, menjadi cahaya yang menuntun Gereja melangkah menuju masa depan dengan penuh harapan.





