Jumat, 07 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD Ponsianus Ongirwalu Ajak Umat Menjadi Terang Kristus

Oleh: johanis kopong

 

suaraanaknegeri.com | Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Kamis, 6 Agustus 2026 – Perayaan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya atau Transfigurasi menjadi momentum rohani bagi umat Katolik untuk kembali meneguhkan iman di tengah dinamika kehidupan.

Baca juga: Barisan Merah Putih Yapen Deklarasikan Pengawalan Konstruktif Program Strategis Negara; Yehud Ataruri Tekankan Sinergi dan Akuntabilitas

Melalui refleksi yang disampaikan dalam rangka Novena Santa Clara dari Assisi hari kedua, RD Ponsianus Ongirwalu, Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, mengajak umat memaknai pengalaman di Gunung Tabor sebagai panggilan untuk menghadirkan terang Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi tersebut disampaikan kepada para peziarah yang mengikuti Misa dan Novena Santa Clara sejak pagi hari di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat. Suasana doa yang hening menjadi ruang bagi umat untuk meninggalkan sejenak kesibukan hidup dan memperbarui relasi dengan Tuhan.

Naik ke Gunung untuk Berjumpa dengan Tuhan
Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, langkah para peziarah yang datang sejak pukul 05.30 WIT bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin untuk mencari wajah Allah.

Baca juga: Insiden Keracunan Massal di Depapre: 200 Warga Terduga Korban Program Makan Bergizi Gratis, Desakan Investigasi Mendalam Menggema

“Langkah kaki kita pada pukul 05.30 WIT ini adalah bukti nyata dari kerinduan hati kita untuk ‘naik ke atas gunung’, mengasingkan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan berjumpa dengan Tuhan,” ungkapnya.

Ia mengajak umat merenungkan peristiwa Transfigurasi dalam Injil, ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes menyaksikan wajah Yesus bercahaya serta pakaian-Nya menjadi putih berkilau.

Pengalaman itu, menurutnya, merupakan penegasan identitas Yesus sebagai Putra Allah sekaligus penguatan iman sebelum para murid menghadapi penderitaan di Kalvari.

Dalam refleksinya, ia kembali menggemakan sabda Allah Bapa yang menjadi inti perayaan tersebut. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Santa Clara dan Terang Kesederhanaan
Refleksi itu semakin diperkaya dengan permenungan atas Novena Santa Clara dari Assisi. RD Ponsianus melihat adanya keterkaitan yang mendalam antara kemuliaan Kristus di Gunung Tabor dan kesaksian hidup Santa Clara.

Menurutnya, nama Clara berarti “terang” atau “bercahaya”, tetapi terang yang dipancarkan Santa Clara lahir bukan dari kemewahan ataupun kekuasaan, melainkan dari kehidupan yang sederhana, miskin, dan penuh penyerahan kepada Allah.

“Di atas Gunung Tabor, Yesus menampakkan kemuliaan-Nya; di dalam Biara San Damiano, Santa Clara memancarkan kemuliaan itu dengan menjadi cermin kasih Kristus yang miskin dan dina,” tuturnya.

Pesan tersebut mengingatkan bahwa kemuliaan Allah tidak selalu tampak melalui hal-hal besar menurut ukuran dunia, tetapi justru bersinar melalui hati yang rendah, tulus, dan setia.

Belajar Mendengarkan Tuhan dalam Keheningan
Dalam refleksinya, RD Ponsianus juga mengajak umat meneladani Santa Clara yang dikenal memiliki devosi mendalam kepada Sakramen Mahakudus. Baginya, kemampuan mendengarkan Tuhan hanya lahir dari hati yang tenang dan terbuka.

“Santa Clara adalah teladan utama dalam mendengarkan Kristus. Cinta Santa Clara yang begitu mendalam pada Sakramen Mahakudus mengajarkan kita bahwa untuk mendengar suara Tuhan, kita perlu menyediakan hati yang tenang dan penuh penyerahan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa di tengah kesibukan hidup, umat perlu menyediakan waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan agar mampu membedakan kehendak-Nya dalam setiap keputusan hidup.

Memandang Kristus Sebagai Cermin Kehidupan
RD Ponsianus kemudian mengajak umat merenungkan saat para murid tidak lagi melihat Musa maupun Elia setelah awan berlalu. Yang tinggal hanyalah Yesus seorang diri.

Pengalaman itu, menurutnya, sejalan dengan nasihat Santa Clara yang mengarahkan setiap orang untuk memusatkan pandangan kepada Kristus.
“Tataplah Kristus, cermin tanpa noda, dan renungkanlah Dia setiap hari,” demikian pesan Santa Clara yang dikutip dalam refleksi tersebut.

Ia pun mengajak setiap peziarah bertanya kepada diri sendiri apakah perjalanan iman selama Novena telah menjadi kesempatan untuk menyerahkan beban, kelelahan, maupun kegelisahan hidup kepada Hati Kudus Yesus agar diubah menjadi terang dan harapan baru.

Turun dari Gunung Menjadi Terang bagi Sesama
Mengakhiri refleksinya, RD Ponsianus menegaskan bahwa pengalaman rohani tidak berhenti di altar ataupun di puncak Gunung Tabor. Seperti para murid yang akhirnya turun dari gunung mengikuti Yesus, setiap orang beriman dipanggil membawa terang Kristus ke tengah keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa pengalaman doa hanya akan menjadi bermakna apabila menghasilkan perubahan hidup dan menghadirkan kasih Allah dalam tindakan nyata kepada sesama.

Melalui doa penutup, RD Ponsianus memohon agar umat dianugerahi rahmat untuk tetap setia mendengarkan Sabda Tuhan, hidup dalam kesederhanaan, serta menjadi pembawa terang kasih Kristus di mana pun mereka berada.

“Tuhan Yesus Kristus, Hati Kudus-Mu adalah sumber terang dan kasih yang tak terhingga. Melalui perantaraan Santa Clara dari Assisi, mampukanlah kami untuk selalu memandang kemuliaan-Mu di tengah dinamika dan pergumulan hidup kami. Ajarilah kami untuk setia mendengarkan Sabda-Mu, hidup dalam kesederhanaan, dan menjadi pemancar terang kasih-Mu bagi sesama kami. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.”

(Sumber: Refleksi RD Ponsianus Ongirwalu)

Kategori:
Tags:

Terkini