Elza Peldi Taher
–
JAKARTA – SUARA ANAK NEGERI| Komaruddin Hidayat kembali menulis buku. Kali ini judulnya Islam yang Saya Pahami. Buku ini hadir ketika usianya genap 73 tahun. Bagi Mas Komar, demikian saya biasa memanggilnya, bertambahnya usia bukan sekadar peristiwa biologis yang ditandai dengan ucapan selamat dan tiupan lilin. Usia adalah kesempatan untuk kembali merenung, menengok perjalanan hidup, dan mewariskan sesuatu kepada generasi berikutnya. Sejak beberapa tahun terakhir, ia membangun tradisi yang menarik. Setiap kali usianya bertambah, lahirlah sebuah buku. Isinya bukan sekadar kumpulan gagasan, melainkan endapan pengalaman panjang seorang intelektual yang terus bergulat dengan persoalan agama, kebangsaan, kemanusiaan, dan makna kehidupan. Seakan-akan ia ingin mengatakan bahwa usia boleh bertambah, tetapi pikiran tidak boleh berhenti bertumbuh.
Tradisi itu mulai berkembang ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Ketika orang-orang terkurung di rumah, pertemuan dibatasi, dan kehidupan sosial seolah berhenti berputar, Mas Komar justru menemukan ruang baru untuk terus berdialog. Ia mendirikan forum Urban Sufism, sebuah ruang perjumpaan intelektual dan spiritual yang secara rutin menyelenggarakan webinar dua kali sebulan. Dalam forum itu, Mas Komar hampir selalu hadir sebagai pembicara. Namun, ada sesuatu yang menarik dari caranya berdiskusi. Ia tidak merasa harus mendominasi pembicaraan. Justru ia lebih senang mendengarkan narasumber lain, mengajukan pertanyaan yang menggugah, lalu membuka ruang bagi lahirnya pandangan-pandangan baru. Di tengah kebiasaan banyak orang yang ingin terus berbicara, Mas Komar memperlihatkan bahwa seorang intelektual juga harus memiliki kesabaran untuk mendengarkan. Barangkali di situlah salah satu tanda kedalaman ilmunya.
Kini buku terbarunya segera diperkenalkan kepada publik. Berbagai komunitas telah bersiap menyambut kelahirannya. Satupena akan mendiskusikan buku Islam yang Saya Pahami dalam webinar pada 22 Oktober 2026. Komunitas Caknurian juga merencanakan peluncuran buku tersebut pada akhir Oktober di kediaman seorang intelektual Muslim terkemuka. Sambutan semacam ini tentu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Buku-buku Mas Komar memang memiliki pembaca setia. Ia menulis dengan bahasa sederhana, jernih, dan mudah dipahami, tetapi di balik kesederhanaan itu tersimpan perenungan yang dalam.
Pembaca tidak merasa sedang digurui. Mereka seperti diajak duduk bersama, berbincang tentang Tuhan, manusia, dan kehidupan. Menariknya, buku-bukunya tetap mendapat sambutan di tengah anggapan bahwa zaman buku cetak sedang menuju senja. Mas Komar seolah membuktikan bahwa buku yang ditulis dengan hati dan pikiran yang jernih akan selalu menemukan pembacanya. Tidak mengherankan jika penerbit besar seperti Gramedia tetap menaruh kepercayaan pada karya-karyanya.
Baca juga: PETA AGAMA DUNIA 2026: Islam Tumbuh Paling Cepat, Bagaimana Komposisinya pada 2036?
Bagi saya, Mas Komar bukan sekadar intelektual yang buku-bukunya saya baca. Ia adalah sahabat lama yang kehadirannya menyimpan banyak kenangan. Perkenalan kami bermula pada awal 1990-an, ketika ia baru menyelesaikan pendidikan doktornya di Turki dan mulai bergabung dengan Paramadina. Suatu hari, seusai memberikan kuliah dalam Forum Studi Islam Paramadina di Pondok Indah, Cak Nur tiba-tiba berkata kepada saya bahwa akan ada seorang anak muda pintar yang bergabung. Namanya Komaruddin Hidayat. Saya menyambut kabar itu dengan gembira. Meskipun belum pernah bertemu langsung, saya sudah cukup sering mendengar namanya. Tidak lama kemudian Mas Komar datang ke kantor Paramadina. Saya menyambutnya dan kami berbincang cukup panjang. Kesan pertama saya sangat kuat. Ia lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada berbicara. Tidak ada sedikit pun kesan ingin memamerkan pengetahuan, apalagi menggurui. Padahal, ia baru saja pulang membawa gelar doktor dari luar negeri.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Mas Komar untuk menjadi salah seorang pengajar yang sangat disukai peserta kajian Paramadina. Cara mengajarnya hidup, bahasanya mudah dipahami, dan ia mampu menjelaskan persoalan filsafat maupun keagamaan yang rumit menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada masa itulah kami juga terlibat dalam sebuah pekerjaan penting, yakni mempersiapkan penerbitan naskah-naskah kuliah Cak Nur yang selama bertahun-tahun disampaikan dalam Klub Kajian Agama Paramadina. Setelah melalui proses penyuntingan, naskah tersebut kami kirimkan kepada Cak Nur yang ketika itu sedang berada di Turki untuk menjalankan tugas mengajar. Tidak lama kemudian datanglah kata pengantar dari Cak Nur. Pendek saja, sekitar tiga halaman. Mas Komar membaca pengantar itu dan merasa belum cukup. Ia mengusulkan agar Cak Nur menulis pengantar yang lebih panjang, yang sekaligus dapat menjelaskan kerangka besar pemikirannya.
Kami pun menunggu. Cukup lama tidak ada kabar. Namun, penantian itu ternyata menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Cak Nur akhirnya mengirimkan kata pengantar yang panjangnya hampir 50 halaman. Bukan lagi sekadar pengantar buku, melainkan sebuah uraian mendalam tentang gagasan-gagasan keislaman yang selama ini dikembangkannya. Buku itu kemudian terbit dengan judul Islam, Doktrin dan Peradaban, sebuah karya monumental yang menjadi salah satu rujukan penting dalam khazanah pemikiran Islam Indonesia. Hingga kini buku tersebut tetap dibaca, dikaji, dan menjadi referensi bagi kalangan akademisi maupun peminat studi Islam. Saya sering mengenang peristiwa itu. Bayangkan, seandainya Mas Komar tidak mendorong Cak Nur memperpanjang kata pengantarnya, mungkin kita tidak akan memperoleh sebuah tulisan penting yang begitu kaya. Kadang-kadang sebuah sumbangan besar terhadap dunia pemikiran justru bermula dari percakapan sederhana di antara orang-orang yang memiliki kegelisahan intelektual yang sama.
Sejak masa itulah persahabatan dan kerja sama intelektual kami semakin erat. Bersama Mas Komar, Budhy Munawar Rachman, dan Nafis, kami merancang berbagai kursus Studi Islam Paramadina sekaligus mempersiapkan penerbitan sejumlah buku. Kami ingin agar gagasan-gagasan besar tentang Islam tidak berhenti sebagai bahan perbincangan di ruang kuliah, tetapi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Paramadina ketika itu menjadi semacam rumah intelektual, tempat berbagai pemikiran dipertemukan, diperdebatkan, dan dikembangkan dalam suasana yang terbuka. Mas Komar memainkan peran penting dalam proses tersebut. Ia bukan hanya seorang pengajar yang disukai, tetapi juga kawan berdiskusi yang selalu menghadirkan gagasan segar. Bagi saya, masa-masa itu merupakan salah satu periode paling berkesan dalam perjalanan intelektual kami. Kami tidak sekadar bekerja bersama menerbitkan buku atau menyelenggarakan kursus, tetapi juga ikut merawat sebuah tradisi pemikiran Islam yang terbuka, kritis, dan menghargai keberagaman.
Ada satu kebiasaan Mas Komar yang selalu saya kenang sejak masa-masa di Paramadina. Setiap kali selesai mengajar, ia hampir selalu mengajak kami makan bersama. Dan seperti sudah menjadi hukum tidak tertulis, Mas Komarlah yang selalu menjadi juru bayar. Kami tinggal menikmati makanan dan melanjutkan obrolan yang sering kali tak kalah menarik dibandingkan diskusi di ruang kuliah. Dari persoalan agama, filsafat, politik, hingga cerita-cerita ringan kehidupan sehari-hari, semuanya mengalir begitu saja di meja makan. Menariknya, kebiasaan itu tidak pernah berubah hingga sekarang. Mas Komar tetap senang mengajak sahabat-sahabatnya makan, dan tetap pula menjadi orang yang paling cepat menyelesaikan tagihan. Bagi saya, di situlah salah satu keistimewaannya. Ia bukan hanya pandai merawat gagasan, tetapi juga pandai merawat persahabatan. Barangkali karena itulah orang selalu merasa nyaman berada di dekatnya. Ilmunya membuat orang menghormatinya, tetapi kehangatan dan kemurahan hatinya membuat orang menyayanginya.
Di luar kehidupan intelektualnya, Mas Komar adalah pribadi yang hangat, sederhana, dan menyenangkan. Ada kalanya ia menelepon hanya untuk menanyakan kabar. Pernah suatu hari, ketika masih menjabat sebagai rektor, ia tiba-tiba datang ke rumah saya sepulang bermain golf di lapangan yang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tidak ada acara khusus. Ia datang, duduk sebentar, berbincang santai, lalu pulang. Peristiwa sederhana semacam itu justru meninggalkan kesan mendalam. Saya melihat seorang intelektual yang tidak kehilangan kehangatan manusiawinya di tengah kesibukan dan kedudukannya. Ia tetap memelihara persahabatan, bahkan melalui perhatian-perhatian kecil yang sering kali lebih bermakna daripada pertemuan resmi yang penuh basa-basi.
Perhatian Mas Komar terhadap saya kembali terasa ketika saya menjalankan ibadah haji pada 2025. Selama berada di Tanah Suci, saya hampir setiap hari menulis pengalaman dan renungan tentang perjalanan spiritual tersebut. Mas Komar termasuk orang yang rajin membaca tulisan-tulisan saya. Sesekali ia memberikan komentar dan apresiasi yang membuat saya semakin bersemangat menulis. Sepulang dari Tanah Suci, ketika saya berkeinginan menerbitkan catatan perjalanan itu menjadi buku Mencari Tuhan di Tanah Suci, Mas Komar ikut membantu mencarikan jalan. Ia menghubungi dan menjajaki kemungkinan dengan pihak-pihak yang dapat mendukung penerbitannya. Alhamdulillah, buku itu akhirnya terbit dengan dukungan dana dari BPKH. Saya tahu, di balik terbitnya buku tersebut, ada perhatian dan ikhtiar seorang sahabat yang tidak pernah merasa perlu menonjolkan jasanya.
Ada satu kalimat Mas Komar yang terus terngiang dalam ingatan saya. Suatu ketika, dalam sebuah percakapan, ia berkata, “Elza, yang tetap harus kita lakukan di usia senja adalah menulis.” Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Saya membayangkan, bagi Mas Komar, menulis bukan lagi sekadar kegiatan intelektual, melainkan sebuah pengabdian sunyi yang harus terus dipelihara. Pada usia kami sekarang, ketika perjalanan hidup sudah begitu panjang dan waktu yang tersisa semakin terbatas, menulis menjadi cara untuk berdamai dengan usia sekaligus melawan kefanaan. Pada masa muda, orang mungkin menulis untuk mencari nama, membangun reputasi, atau memperjuangkan gagasan. Namun, ketika senja kehidupan mulai datang, menulis memperoleh makna yang berbeda. Ia menjadi cara untuk berbagi pengalaman, mewariskan kebijaksanaan, dan meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi yang datang kemudian. Tubuh boleh semakin renta, langkah boleh semakin lambat, tetapi pikiran harus terus berjalan. Sebab, apa yang telah kita pelajari sepanjang hidup tidak seharusnya ikut terkubur bersama usia.
Saya melihat Mas Komar menjalani keyakinan itu dengan penuh ketekunan. Ia tidak berhenti menulis setelah memperoleh gelar akademik, menduduki jabatan penting, atau dikenal luas sebagai intelektual Muslim. Justru semakin bertambah usianya, semakin terasa keinginannya untuk berbagi. Buku demi buku lahir, seolah menjadi penanda perjalanan hidup yang tidak pernah selesai mencari makna. Dalam tradisi intelektual, mungkin inilah salah satu warisan paling berharga: bukan hanya gagasan yang disampaikan, tetapi juga keteladanan untuk terus berpikir, membaca, berdialog, dan menulis. Sebab, peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang kekuasaan, tetapi juga oleh orang-orang yang dengan tekun merawat ingatan, menghidupkan gagasan, dan mewariskan pengetahuan melalui tulisan.
Selamat ulang tahun ke-73, Mas Komar. Selamat pula atas kelahiran buku Islam yang Saya Pahami. Semoga kesehatan, kejernihan pikiran, dan semangat berkarya selalu menyertai perjalanan hidupmu. Teruslah menulis. Sebab, buku bukan sekadar tumpukan halaman yang akan memenuhi rak perpustakaan. Di dalamnya ada pikiran yang terus berbicara, pengalaman yang terus mengalir, dan kebijaksanaan yang dapat melintasi batas usia. Suatu hari, ketika langkah kita tidak lagi sejauh sekarang dan suara kita mungkin tak lagi terdengar, tulisan-tulisan itulah yang akan melanjutkan percakapan kita dengan dunia. Manusia boleh menua, tetapi gagasan tidak harus ikut menua. Dan selama masih ada orang yang membaca, sebuah pemikiran akan terus hidup, melintasi waktu, menjaga nyala peradaban.
Pondok Cabe Udik 19 Oktober 2026
Elza Peldi Taher



