BOGOR – SUARA ANAK NEGERI, 15 Agustus 2026| Generasi Literat bekerja sama dengan Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), serta didukung oleh Sejuk, menyelenggarakan pelatihan “Peace Stand Up Nusantara: Amplifying Interfaith Youth Voices in Digital Spaces” di Bogor Valley Hotel, Bogor, pada 15–17 Agustus 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh 25 anak muda dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan, seperti Kapribaden, Sunda Wiwitan, Parmalim, Sikh, dan Eden. Program ini didukung oleh Tifa Foundation dan CIVICUS Alliance.

Baca juga: TIDURLAH ANAKKU
Program Peace Stand Up Nusantara yang mengusung tagline “Beda Cerita. Satu Indonesia” dirancang khusus untuk memperkuat kapasitas dan kepercayaan diri anak muda lintas agama dan kepercayaan, khususnya dari komunitas yang masih kurang dikenal di Indonesia, agar dapat berpartisipasi aktif dalam ruang sipil dan digital yang inklusif.
Selama tiga bulan, Agustus hingga Oktober 2026, peserta diajak mengembangkan cerita personal mereka sebagai warga negara di negeri yang beragam menjadi cerita yang lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan anak muda di ruang digital.
Founder dan Direktur Generasi Literat, Mila Muzakkar, mengatakan bahwa di ruang digital, kisah hidup penganut kepercayaan dan agama lebih sering diceritakan dan diperdebatkan oleh orang lain. Akibatnya, algoritma media sosial kerap menampilkan hoaks, kemarahan, hingga kebencian terhadap penganut agama dan kepercayaan.
Baca juga: IGNATIUS, RUMI DAN PAUL TILLICH
Sementara itu, anak muda dari berbagai komunitas agama dan kepercayaan lebih sering memilih diam karena merasa ragu atau takut bersuara di ruang digital. Padahal, suara mereka sangat penting dalam membangun narasi perdamaian berdasarkan perspektif dan pengalaman mereka sendiri.

“Program ini dirancang khusus untuk memperkuat kapasitas dan kepercayaan diri 25 anak muda lintas agama dan kepercayaan sebagai pemegang hak (Right Holders) untuk berpartisipasi aktif dalam ruang sipil dan digital yang inklusif melalui cerita yang bermakna tentang kebinekaan dan perdamaian antarumat beragama,” ujar Mila Muzakkar.
Melalui pelatihan ini, peserta mendapatkan ruang untuk memahami identitas keberagaman Indonesia dan hak-hak penganut agama dan kepercayaan, etika serta ruang aman digital, strategi kampanye di ruang digital, serta teori dan praktik menulis cerita personal yang bermakna.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai teori dan praktik Peace Stand Up sebagai cara menyampaikan pengalaman dan pesan perdamaian. Mereka didorong untuk menggunakan media sosial secara kreatif dan bertanggung jawab sebagai ruang untuk memperkenalkan keberagaman serta membangun dialog yang lebih inklusif.

Program Peace Stand Up Nusantara akan menghasilkan 25 video Peace Stand Up dari masing-masing peserta dan satu buku antologi yang merupakan kumpulan tulisan 25 peserta tentang pengalaman mereka dalam menjalani kehidupan sebagai warga negara di tengah keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia.
Tidak berhenti hanya sebagai ruang belajar dan berbagi kisah hidup yang aman, Peace Stand Up Nusantara juga diharapkan dapat memperkuat jejaring anak muda lintas agama dan kepercayaan yang berani dan percaya diri menyuarakan kebinekaan dan perdamaian di ruang digital.
Melalui suara dan pengalaman mereka sendiri, anak-anak muda ini diharapkan dapat ikut menghadirkan narasi alternatif yang lebih inklusif, damai, dan mencerminkan wajah Indonesia yang beragam.


