Selasa, 18 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

IGNATIUS, RUMI DAN PAUL TILLICH

*(Oleh Dr. Budhy Munawar-Rachman

Baca juga: 65 Balon Harapan Membumbung Tinggi: Semarak Hari Pramuka ke-65 di SMPN 13 Padang

Membaca Ignatius dari Loyola dan Jalaluddin Rumi melalui lensa Paul Tillich menghasilkan sebuah sintesis yang sangat kaya. Ketiganya berbicara dalam bahasa yang berbeda—Ignatius dalam bahasa discernment dan latihan rohani, Rumi dalam bahasa cinta mistik dan puisi, Tillich dalam bahasa filsafat eksistensial dan ontologi—namun ketiganya sesungguhnya mengarahkan manusia kepada satu gerak yang sama: transformasi keberadaan menuju kedalaman realitas ilahi.

Yang menarik, Tillich dapat menjadi “jembatan hermeneutik” yang memungkinkan spiritualitas Katolik Ignasian dan tasawuf Rumi dibaca dalam kerangka filosofis yang sama. Ia tidak menghapus perbedaan teologis di antara keduanya, tetapi menunjukkan bahwa keduanya berbicara tentang pengalaman manusia yang terdalam.

Dari Tuhan sebagai Objek Menuju Tuhan sebagai Kedalaman

Baca juga: Di Bawah Terik Matahari, Umat Santa Maria Biak Tetap Bertahan dalam Sukacita Iman

Tillich memulai dengan kritik terhadap gambaran Allah sebagai “zat tertinggi” yang berada di luar dunia. Baginya, Allah adalah Ground of Being, dasar segala keberadaan.

Ketika membaca Ignatius, konsep ini membuat semboyan Finding God in All Things memperoleh makna ontologis. Menemukan Allah bukan berarti menemukan suatu objek religius yang tersembunyi di balik dunia, melainkan menyadari bahwa seluruh kenyataan memiliki kedalaman ilahi.

Ketika membaca Rumi, konsep yang sama menjelaskan mengapa cinta kepada Tuhan selalu meluap menjadi cinta kepada seluruh ciptaan. Dalam banyak puisinya, Rumi melihat setiap bunga, angin, musik, bahkan penderitaan sebagai jendela menuju Yang Tak Terbatas.

Dengan demikian, baik Ignatius maupun Rumi mengajak manusia masuk ke kedalaman realitas, sementara Tillich memberi bahasa filosofis mengenai apa yang dimaksud dengan “kedalaman” itu.

Jalan Discernment dan Jalan Cinta

Ignatius berbicara mengenai discernment, kemampuan membedakan roh yang membawa kepada kehidupan dan roh yang membawa kepada keterasingan. Rumi berbicara mengenai ‘isyq, cinta ilahi yang membakar ego sehingga hanya Tuhan yang tinggal. Sekilas keduanya berbeda.

Namun Tillich memperlihatkan bahwa keduanya merupakan dua cara mengatasi apa yang ia sebut estrangement, keterasingan manusia dari dasar keberadaannya. Discernment adalah jalan melalui kejernihan. Cinta adalah jalan melalui peleburan. Yang satu lebih reflektif. Yang lain lebih puitis.

Tetapi keduanya membawa manusia keluar dari keterasingan menuju keutuhan.

Ultimate Concern sebagai Pusat Hidup

Konsep paling terkenal Tillich adalah ultimate concern, perhatian tertinggi yang menguasai seluruh hidup seseorang. Semua manusia memiliki ultimate concern.

Pertanyaannya hanyalah: Apakah pusat hidup itu Allah? Ataukah kekuasaan? Ataukah uang? Ataukah ego? Ignatius menjawab pertanyaan ini melalui discernment. Rumi menjawabnya melalui cinta.

Bila seseorang sungguh mencintai Tuhan, seluruh orientasi hidupnya berubah. Bila seseorang mampu melakukan discernment secara jujur, ia juga akan menemukan bahwa hanya Allah yang layak menjadi pusat hidupnya. Ultimate concern menjadi titik temu keduanya.

Holy Indifference  dan Fana’

Ignatius mengembangkan gagasan holy indifference, kebebasan batin dari segala keterikatan terhadap yang terbatas. Rumi mengenal konsep fanā’, lenyapnya ego dalam kehadiran Tuhan. Keduanya sering dianggap berbeda. Namun Tillich menunjukkan bahwa keduanya berbicara mengenai proses yang sama.

Selama identitas manusia masih melekat pada sesuatu yang terbatas, ia akan hidup dalam kecemasan. Holy indifference membebaskan manusia dari keterikatan. Fanā’ membebaskan manusia dari ego. Keduanya membuka jalan menuju keberadaan yang lebih otentik.

Consolation dan Sukacita Mistik

Dalam spiritualitas Ignatius terdapat pengalaman consolation, yaitu keadaan ketika seluruh diri bergerak menuju Allah. Dalam puisi-puisi Rumi terdapat pengalaman ekstase cinta. Tillich akan mengatakan bahwa keduanya merupakan pengalaman ketika manusia menyentuh kedalaman keberadaan. Bukan sekadar emosi religius. Melainkan pengalaman ontologis. Seseorang merasakan dirinya menjadi lebih nyata. Lebih hidup. Lebih utuh.

Keberanian Menjadi

Dalam karya The Courage to Be, Tillich menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam tiga kecemasan besar: kecemasan terhadap kematian, kecemasan terhadap rasa bersalah, kecemasan terhadap kehampaan makna. Ignatius menjawab kecemasan itu melalui latihan rohani yang membawa kepada kebebasan batin. Rumi menjawabnya melalui cinta yang melampaui rasa takut. Dalam salah satu syairnya Rumi menulis: “Mengapa engkau tinggal di penjara ketika pintunya terbuka?” Tillich mungkin akan menafsirkannya sebagai undangan untuk keluar dari keterasingan menuju keberanian menjadi diri yang sejati.

Simbol sebagai Jalan Menuju Misteri

Tillich memiliki teori simbol yang sangat penting. Menurutnya, simbol religius tidak sekadar menunjuk kepada Tuhan. Ia membuka dimensi realitas yang tidak dapat dicapai oleh bahasa biasa. Ignatius menggunakan kontemplasi imajinatif. Rumi menggunakan metafora cinta, anggur, taman, burung bulbul, dan tarian. Semuanya merupakan simbol. Bukan dekorasi sastra.  Melainkan pintu menuju Misteri.

Kristus dan Kekasih Ilahi

Di sinilah muncul salah satu perbedaan penting. Bagi Ignatius, pusat seluruh kehidupan rohani adalah Kristus. Seluruh Spiritual Exercises diarahkan untuk mengikuti Kristus. Tillich juga melihat Kristus sebagai New Being, manifestasi keberadaan baru yang mengatasi keterasingan. Rumi, sebagai seorang Muslim sufi, tidak membangun seluruh mistiknya di atas Kristologi, melainkan di atas cinta kepada Allah sebagaimana dipahami dalam Islam. Meski demikian, ia sangat menghormati Yesus sebagai nabi agung dan lambang kehidupan rohani. Dalam banyak puisinya, Yesus tampil sebagai simbol kebangkitan jiwa, tetapi bukan sebagai pusat ontologis dalam arti yang sama seperti pada Ignatius atau Tillich.

Di sinilah dialog lintas agama menjadi menarik: pengalaman mistik memiliki banyak kesamaan, sementara fondasi teologisnya tetap berbeda.

Kontemplasi dan Aksi

Ignatius terkenal dengan semboyan: Contemplatives in Action. Rumi tidak pernah memisahkan cinta kepada Tuhan dari pelayanan kepada manusia. Tillich pun menolak pemisahan antara pengalaman religius dan tanggung jawab sejarah. Semakin seseorang menyentuh Ground of Being, semakin ia terlibat dalam dunia. Mistisisme bukan pelarian. Melainkan sumber keberanian untuk mencintai dunia.

Jalan Universal Menuju Kedalaman

Bila ketiganya dibaca bersama, muncul sebuah peta spiritual yang sangat indah. Ignatius mengajarkan disiplin batin. Rumi mengajarkan api cinta. Tillich mengajarkan kedalaman ontologis. Ignatius membantu manusia mendengarkan gerak-gerak halus hati. Rumi membantu manusia mencairkan ego melalui cinta. Tillich membantu manusia memahami mengapa pengalaman-pengalaman itu menyentuh inti keberadaan. Ketiganya tidak sedang menawarkan agama sebagai kumpulan aturan atau dogma semata. Mereka menawarkan agama sebagai jalan transformasi eksistensial: dari keterasingan menuju keutuhan, dari kecemasan menuju keberanian, dari ego menuju kasih, dari permukaan kehidupan menuju kedalaman realitas.

Sintesis Filosofis

Jika ketiga tokoh ini dipertemukan, maka lahirlah suatu spiritualitas yang dapat disebut sebagai spiritualitas kedalaman (spirituality of depth). Dari Ignatius kita belajar seni membedakan gerak-gerak batin agar hidup diarahkan kepada Allah. Dari Rumi kita belajar bahwa cinta adalah daya transformatif yang melampaui rasa takut dan menghancurkan ego. Dari Tillich kita memperoleh bahasa filsafat untuk memahami bahwa kedua jalan tersebut merupakan respons terhadap kerinduan manusia akan Dasar Keberadaan (Ground of Being).

Dalam perspektif ini, latihan rohani Ignatian, puisi cinta Rumi, dan teologi eksistensial Tillich bukanlah tiga jalan yang saling meniadakan, melainkan tiga ekspresi berbeda dari pencarian manusia akan Yang Tak Terbatas. Ignatius memberi struktur, Rumi memberi nyala, dan Tillich memberi kerangka konseptual. Bersama-sama, mereka menunjukkan bahwa kedalaman iman bukan terletak pada banyaknya pengetahuan religius, melainkan pada transformasi cara manusia berada di dunia—hidup dengan kebebasan, keberanian, kasih, dan keterbukaan terhadap Misteri yang selalu melampaui setiap konsep manusia.

Menurut saya, sebuah glosari akan sangat membantu pembaca karena ketiga tokoh ini menggunakan bahasa yang berbeda. Ignatius berbicara dengan bahasa spiritualitas Kristiani, Rumi dengan bahasa tasawuf dan puisi mistik, sedangkan Paul Tillich menggunakan bahasa filsafat eksistensial dan ontologi. Dengan glosari ini, pembaca dapat memahami bahwa meskipun istilah-istilahnya berbeda, banyak di antaranya saling berkorespondensi tanpa harus disamakan. Glosari ini juga dapat menjadi kunci membaca diagram dan keseluruhan artikel Anda.

GLOSARI

Ignatius – Rumi – Paul Tillich (Penjelasan gambar dan artikel  di atas).

Apabila seluruh istilah ini dibaca bersama, tampak bahwa ketiga tokoh sebenarnya bergerak dalam tiga “bahasa” yang berbeda. Ignatius berbicara dalam bahasa latihan dan pembentukan kehendak, Rumi dan Ibn Arabi dalam bahasa cinta mistik dan penyatuan dengan Allah, sedangkan Tillich dalam bahasa filsafat eksistensial dan ontologi.

Ketiganya bertemu pada satu horizon yang sama: transformasi manusia dari keterasingan menuju keutuhan, dari ego menuju kasih, dari kehidupan yang dangkal menuju kedalaman realitas Ilahi. Dalam pengertian inilah Tillich menjadi jembatan hermeneutik yang membantu pembaca melihat kesatuan arah tanpa menghapus perbedaan teologis antara Spiritualitas Ignatian dan Tasawuf.

 

*(Dr. Budhy Munawar-Rachman, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara.

Kategori:
Tags:

Terkini