Selasa, 18 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Ketika Kita Berhenti Mencari Kepastian: Ulasan Buku The Wisdom of Insecurity Karya Alan Watts

Oleh Amelia Fitriani

“The pursuit of security is itself insecurity” — Alan Watts

Baca juga: George Matus: Anak yang Menyentuh Langit, Menjadi Obor Semangat Wirausaha Generasi Muda

Belakangan ini aku merasa semakin sering mendengar cerita tentang ketidakpastian.

Di media sosial, misalnya. Banyak yang berbagi cerita dan diawali dengan kalimat, “in this economy…”, lalu dilanjutkan dengan cerita tentang pekerjaan yang semakin sulit, harga-harga yang naik, rencana yang harus ditunda, atau kehidupan yang rasanya tidak lagi berjalan seperti yang dibayangkan.

Dari teman-teman pun ceritanya beragam. Ada yang sedang menghadapi persoalan personal, masalah dalam hubungan, kecewa karena sikap seseorang berubah, atau sedang belajar menerima bahwa sesuatu yang dulu terasa pasti ternyata tidak lagi demikian.

Baca juga: Mendengar Pidato Prabowo Dalam Sidang Tahunan MPR 2026

Di tengah banyak cerita seperti itu, aku kebetulan membaca The Wisdom of Insecurity: A Message for an Age of Anxiety karya Alan Watts.

Buku ini pertama kali terbit pada 1951. Aku sendiri baru membacanya belakangan ini lewat Kindle. Dan menariknya, buku yang sudah berusia lebih dari tujuh dekade ini terasa sangat relevan dengan kehidupan hari ini.

Mungkin karena manusia memang tidak banyak berubah dalam satu hal, yaitu kita selalu ingin merasa aman.

Kita ingin tahu bahwa pekerjaan akan baik-baik saja, uang akan cukup, orang yang kita cintai akan tetap bersama kita, dan masa depan akan berjalan sesuai rencana.

Masalahnya, menurut Watts, justru di situlah kecemasan dimulai. Ia menawarkan sebuah paradoks, bahwa pengejaran terhadap rasa aman itu sendiri bisa menjadi sumber ketidakamanan.

Kita ingin punya cukup uang supaya tidak khawatir soal uang. Setelah memilikinya, kita khawatir apakah jumlahnya cukup untuk masa depan.

Kita ingin hubungan yang pasti, lalu takut ketika orang yang kita cintai berubah.

Kita ingin masa depan yang aman, tetapi semakin banyak yang ingin kita pastikan, semakin banyak pula hal yang bisa membuat kita cemas.

Kita mengejar keamanan karena takut pada ketidakpastian. Padahal ketidakpastian adalah hukum besi kehidupan.

Tidak ada yang benar-benar permanen. Orang berubah. Keadaan berubah. Tubuh berubah. Pekerjaan berubah. Hubungan berubah. Bahkan diri kita sendiri berubah.

Kita tahu semua itu, tetapi tetap berusaha hidup seolah-olah semuanya bisa dibuat permanen. Mungkin karena itu kita sering kecewa. Bukan hanya karena sesuatu berubah, tetapi karena kenyataan tidak sesuai dengan gambaran tentang bagaimana sesuatu seharusnya berjalan.

Di sinilah aku menemukan gagasan detachment sebagai salah satu esensi penting buku ini. Detachment bukan berarti tidak peduli atau tidak berusaha. Sebaliknya, itu adalah kemampuan untuk peduli dan berusaha dengan mengikhlaskan diri bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.

Watts tidak mengajak kita berhenti berusaha. Kita justru harus punya ambisi, harus mencintai, harus membuat rencana, harus mengejar sesuatu, dan harus berharap. Tetapi jangan menggantungkan seluruh ketenangan hidup kita pada hasil akhirnya.

Aku bisa mencintai seseorang tanpa harus mengendalikan perasaannya. Aku bisa mengejar sesuatu tanpa menganggap hasilnya menentukan harga diriku.

Aku bisa membuat rencana dengan tetap membuka ruang untuk gaga. Aku bisa berharap dengan tetap membuka ruang bahwa bisa jadi tidak semua bisa terpenuhi sebagaimana yang kita inginkan.

Watts juga mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan, yaitu the present moment. Kita terlalu sibuk memikirkan masa depan sampai lupa bahwa satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki adalah sekarang.

Kita memang perlu bekerja hari ini untuk kehidupan yang kita harapkan nanti. Menabung untuk masa depan, membuat rencana, mengejar pencapaian, dan mempersiapkan berbagai kemungkinan adalah bagian dari hidup. Semuanya penting. Sangat penting.

Tetapi, ada kalanya kita terlalu sibuk mempersiapkan hari esok sampai lupa bahwa hari ini juga sedang berlangsung. Sebab ketika masa depan akhirnya datang, ia selalu datang sebagai “sekarang”.

Jadi, mungkin persoalannya bukan berhenti merencanakan masa depan, melainkan tidak membiarkan masa depan mengambil seluruh ruang dari kehidupan yang sedang kita jalani hari ini. Kita boleh mempersiapkan hari esok, sambil tetap hadir untuk menikmati hari ini.

Mungkin itulah mengapa buku ini terasa begitu relevan, karena tidak mendorong soal bagaimana menemukan keamanan, melainkan bagaimana berdamai dengan ketidakamanan.

Kita sudah pasti tidak bisa mengubah hukum besi kehidupan. Ketidakpastian akan selalu ada. Yang bisa kita lakukan adalah belajar menyesuaikan diri.

Tetap mencintai, tetapi tidak menggenggam terlalu erat. Tetap punya ambisi, tetapi tidak menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya sumber nilai diri.

Tetap membuat rencana, tetapi mampu mengendalikan diri ketika kehidupan memilih jalan lain. Dan tetap menikmati hari ini, meskipun tahu hari ini tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.

Sebagaimana kata Alan Watts, “To be secure is to know that there is no security”. *

Kategori:
Tags:

Terkini