Senin, 24 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

SENI BACA PUISI

Oleh: Jose Rizal Manua

PADANG – SUARA ANAK NEGERI| “Kalau ada orang yang berdeklamasi dengan melagu-lagukan ucapan atau bergerak-gerak secara berlebihan… itu hanyalah deklamasi yang jelek saja. Tidak ada hubungannya dengan hafalan (puisinya dihafal atau tidak dihafal)”. Demikian jawab Rendra pada suatu hari, ketika saya tanyakan tentang perbedaan antara Deklamasi dan Baca Puisi. Menurut Rendra, seni deklamasi dalam bahasa Inggris dinamakan “reading”. Di Indonesia ada yang menyangka bahwa “reading” dan “deklamasi” itu berbeda, tetapi sebenarnya sama saja. “Deklamasi” itu bahasa Indonesia (atau sudah jadi bahasa Indonesia), dan “reading” itu bahasa inggris. Itu saja bedanya.

Baca juga: DIDING BONENG: NASIB AKTOR TEATER DI INDONESIA (Bagian 3)

Menurut Rendra, berdeklamasi, berkisah atau berpidato, secara tehnik ada tiga hal yang penting untuk diingat: tehnik suara, sikap jasmani (seluruh tubuh dan anggota-anggota badan), dan cara penyampaian. Maka menjadi demikian halnya, karena berdeklamasi, berkisah dan berpidato itu, pada hakekatnya ialah cara menyampaikan isi perasaan, buah pikiran atau sebuah cerita kepada hadirin, dengan lisan, dan hadir di hadapan hadirin itu. Sehingga oleh karenanya menjadi penting bahwa cara menghadirkan diri dan cara bersuara itu menjadi menarik, disamping juga penting untuk diusahakan agar cara penyampaiannya itu mengandung siasat yang memikat pula.

Sementara menurut Sutardji Calzoum Bachri: “Membaca sajak di depan hadirin (penonton) pada hakekatnya ialah menampilkan diri dalam suatu situasi tertentu untuk mengucapkan sajak dengan tujuan menyampaikan penghayatan dan penafsiran terhadap sajak tersebut dalam intensitas yang maksimal, kepada para penonton.” Yang dimaksud dengan diri, oleh Sutardji adalah dalam pengertian badaniah dengan segala kaitannya, beserta kostum (botak, gondrong, pakai dasi, jas, kaos oblong, topi, dan lain-lain), maupun dalam pengertian kepribadian. Pembaca sajak harus bisa menampilkan kepribadiannya sendiri dalam membaca sajak. Dia tidak diharapkan untuk menciplak cara baca sajak dari si pembaca yang lain.

Menurut Abdul Hadi WM: “Membaca sajak adalah usaha menampilkan kembali apa yang terkandung dalam sajak melalui vocal, gerak dan mimik. Seorang pembaca harus mampu menafsirkan kata-kata yang terdapat dalam sajak sedeikian rupa, dan mampu pula menggunakan unsur-unsur dalam tubuhnya mulai dari suara sampai gerak”. Abdul Hadi WM mengatakan, bahwa kata-kata dalam sajak bukan sekedar kata-kata dalam artian yang biasa. Ia memiliki arti yang lebih luas dari kata-kata dalam bahasa biasa. Bahwa di dalam sajak terdapat simbol, imaji, dan irama. Burung, laut, mawar, angin, darah, nanah, luka, sungai, pohon, meja, jendela, rumah dan sebagainya dalam sajak sering lebih dari sekedar kata yang menunjuk arti tertentu seperti terdapat dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata itu mungkin sebuah simbol atau imaji yang menunjukkan kepada arti yang lebih luas atau memiliki asosiasi dengan suasana atau keadaan tertentu. Jadi kata-kata “laut” umpamanya, bukan sekedar laut seperti yang kita lihat, tapi penyair ingin mengatakan tentang hidup atau kehidupan, karena keluasan dan kegarangan laut memiliki persamaan dengan keluasan dan kegarangan hidup ini.

Baca juga: 65 Balon Harapan Membumbung Tinggi: Semarak Hari Pramuka ke-65 di SMPN 13 Padang

Jadi jelaslah sudah, bahwa membaca puisi bukanlah sekedar melagu-lagukan ucapan, bukan pula sekedar membesar-besarkan suara atau sekedar mengeras-pelankan volume atau menjelas-jelaskan kata melalui gerakan/ gerak gerik. Membaca puisi di depan hadirin (penonton) pada hakekatnya adalah suatu upaya menyampaikan isi-maksud puisi tersebut secara lisan melalui penghayatan dan penafsiran dengan intensitas tertentu dan dengan siasat yang memikat, kepada para penonton. Oleh karena itu, seorang membaca puisi (deklamator), terlebih dahulu harus menafsirkan/ memahami isi-maksud dari puisi/ sajak yang akan dibacakannya. Untuk selanjutnya, saya akan menyebut “Pembaca Puisi” sebagai “Deklamator”.

Penafsiran/ pemahaman terhadap isi-maksud dari puisi yang akan dibaca adalah langkah pertama, yang harus dilakukan oleh seorang deklamator. Untuk dapat memahami isi-maksud sebuah puisi, seorang deklamator, terlebih dahulu harus membacanya beberapa kali, agar dapat menangkap makna yang tersurat maupun makna yang tersirat dari puisi tersebut. Agar dapat memahami susunan baris dan bait, pemilihan kata dan gaya bahasa, serta semangat dari puisi tersebut.

Langkah ke dua, yang harus dilakukan oleh seorang deklamator adalah menghayati puisi yang telah dipahaminya. Menghayati atau penghayatan berarti pemberian hidup. Begitu juga dengan penjiwaan, artinya pemberian jiwa. Maksudnya adalah dari sesuatu yang tadinya tidak hidup harus diberi hidup. Atau dihidupkan. Sesuatu yang tadinya tidak memiliki jiwa, diberi jiwa. Umpamanya ekspresi; agar ekspresi itu menjadi hidup, ekspresi itu harus diberi jiwa.

Jiwa adalah sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang membuat tubuh ini menjadi hidup. Yaitu pikiran, perasaan dan kesadaran. Lebih jauh lagi adalah roh. Seorang Deklamator harus berlaku seolah-olah puisi tersebut sang deklamatorlah yang menulisnya.

Langkah ke tiga, yang harus dilakukan oleh seorang deklamator adalah melatih suaranya; melatih tekanan ucapan, agar suaranya mampu menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat. Melatih kejelasan ucapan, agar ucapannya jelas setiap suku katanya. Melatih kerasnya ucapan, agar ucapannya terdengar oleh seluruh hadirin di tempat mana puisi tersebut dibacakan.

Langkah keempat, yang dilakukan oleh seorang deklamator adalah melatih penampilannya, yang menurut Rendra harus mengandung siasat yang memikat. Yang dimaksud dengan penampilan di sini adalah, saat ketika seorang Deklamator tampil ke pentas hingga turun dari pentas. Bagaimana bersikap (berdiri atau duduk) ketika membaca puisi. Bagaimana menggunakan gerakan dan gerak-gerik yang takarannya sesuai dengan isi-maksud dari puisi yang dibacakan.

Keempat langkah yang disebutkan di atas pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang utuh ketika seseorang tampil membacakan puisi. Dan keempat langkah tersebut merupakan dasar bagi dewan juri dalam menilai berbagai Lomba Baca Puisi.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan, yaitu kostum atau busana. Karena penonton tidak hanya mendengar tetapi juga melihat sang deklamator. Seorang yang berpakaian rapi, lengkap dengan jas dan dasi, membacakan satu baris puisi Chairil Anwar “Aku ini binatang jalang”, akan menimbulkan kesan dan respon yang lain jika baris tersebut dibacakan pula oleh seorang deklamator yang tampil dengan pakaian kumal atau hanya memakai cawat saja seperti Tarzan. Ini menunjukkan bahwa kostum juga bisa mempengaruhi deklamasi atau pembaca puisi.

Sebaiknya kostum yang dipakai cukup yang sederhana saja, tidak usah berlebihan. Yang saya maksud dengan ‘berlebihan’, adalah seringnya seorang pembaca puisi mengenakan atribut yang berlebihan. Misalnya, ketika membacakan puisi yang mengandung semangat perjuangan, menggunakan ikat kepala merah putih, di tangannya memegang bambu runcing (disamping memegang teks puisi), yang seringkali tidak ada hubungannya dengan isi-maksud dari puisi yang dibaca.

Sebagaimana juga blocking atau perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, bukanlah hal yang utama dalam pembacaan puisi.

Pengalaman saya menjadi juri Lomba Baca Puisi dari tahun 1986 hingga sekarang, saya melihat berbagai kesalah-pahaman yang terus berulang dari waktu ke waktu. Di mana seorang pembaca puisi seringkali kurang tepat dalam memahami puisi yang dibacanya. Sehingga yang terlihat hanyalah lagu-lagu ucapan, suara yang dibesar-besarkan dengan nada dan irama yang asal naik-turun dan asal keras-pelan, tidak merujuk kepada isi-maksud dari isi puisi tersebut. Atau sibuk menjelas-jelaskan ucapan dengan gerakan dan gerak-gerik yang berlebihan. Seolah-olah setiap kata harus diberi penekanan dengan gerakan dan gerak-gerik. Atau sibuk dengan berpindah-pindah tempat (dari tengah ke sudut, atau dari sudut ke sudut yang lain), yang kesemuanya tidak ada hubungannya dengan isi-maksud dari puisi yang dibaca atau dideklamasikan.

Tentang deklamasi yang berlebihan, Rendra melukiskannya sebagai berikut: “Seseorang menghafalkan sebuah sajak, lalu mencoba memaparkan sajak itu kembali kepada orang banyak dengan gerakan-gerakan semacam orang memainkan sebuah adegan yang dramatic dari sebuah sandiwara: yaitu dengan membuat gerakan-gerakan yang lebih dari wajar serta berusaha dengan bunyi yang jauh daripada normal, sambil di sana-sini ia selalu berusaha memberi tekanan pada setiap kata-asal-kata, dan beranggapan bahwa segala-galanya dalam sajak itu perlu ditonjolkan. Akibatnya kita malahan tak bisa lagi mengenal sajak yang dimaksud itu. Yang kita lihat cuma seorang yang berlaku aneh tanpa arti apa-apa.”

Pada seni deklamasi atau baca puisi, semua peristiwa (suasana) yang dilukiskan oleh penyair harus berada dalam imaji penonton. Tanpa harus dijelas-jelaskan. Melalui gerakan atau gerak-gerik yang berlebihan. Gerakan atau gerak-gerik akan menguatkan pembacaan kalau digunakan dengan tepat. Sementara, tekanan ucapan digunakan untuk menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat yang bersumber dari puisi yang dibaca. Misalnya, untuk kalimat:

– “Saya mau berangkat ke sekolah” (jika yang ditekan kata “Saya”, maksudnya, yang berangkat ke sekolah “saya”, bukan adik saya, bukan teman saya, bukan juga kakak saya).
– “Saya mau berangkat ke sekolah” (jika yang ditekan kata “ke sekolah”, maksudnya, saya mau berangkat ke sekolah, bukan ke pasar, bukan rumah teman, atau ke museum)
– “Saya mau berangkat ke sekolah” (jika yang ditekan kata “mau berangkat”, artinya merupakan suatu kepastian yang tidak dapat ditawar-tawar lagi).

Deklamasi atau baca puisi adalah upaya untuk menyampaikan puisi secara lisan. Apakah itu puisi karya sendiri atau pun karya orang lain. Jadi yang harus diingat adalah, bahwa yang dideklamasikan itu adalah puisi. Senjata penyair adalah kata-kata. Dari kata-kata ia menyusun pengertian yang puitis. Dari kata-kata ia membuat irama. Dari kata-kata ia lukiskan suasana yang puitis.

Sebuah puisi adalah suatu peristiwa atau suatu rangkaian peristiwa yang dipadatkan, yang mengkristal dan terkonsentrasi. Dengan pilihan-pilihan kata dan kalimat yang disesuaikan dengan semangat puisi tersebut. Memahami sebuah puisi haruslah bertolak dari satu kesatuan yang utuh, yang disebut “semangat” dari puisi tersebut. Artinya dengan membacanya berulang-ulang, kita bisa merasakan “semangat” dari puisi yang akan kita baca. Semangat inilah yang kita sampaikan kepada penonton. Misalnya untuk puisi di bawah ini:

Taufiq Ismail
SAJAK ANAK MUDA SERBA SEBELAH

Si Toni dicabut kupingnya satu yang kanan
Maka suara masuk kuping kiri tembus ke otak
Di kirim balik dan jatuh ke kuping kiri lagi
Si Toni di potong tangannya satu yang kanan
Maka dia belajar menulis dengan tangan kiri
Si Toni diambil matanya satu yang kanan
Maka air matanya tetes ke sebelah kiri
Si Toni dipetik jantungnya lewat rongga kanan
Tapi gagal karena jantung itu mengelak ke kiri
Si Toni dipotong ginjalnya satu yang kanan
Tak gagal karena sesuai secara faali
Si Toni diambil kakinya satu yang kanan
Maka dia main bola cuma dengan kaki kiri

Lama-lama si Toni jadi kidal
Kupingnya yang bisa mendengar kuping kiri
Tangannya yang main gitar tangan kiri
Air matanya menetes di mata kiri
Ginjalnya menyaring di sebelah kiri
Dia tendang bola dengan kaki kiri

Lama-lama si Toni Ingin kerja
Cita-citanya lumayan sederhana
Dia mau jadi sopir saja
Tapi tak ada lowongan baginya
Karena kendaraan stir kanan semua

Hai tunggu dulu, Toni ini anak sayakah
Atau anak saudarakah?
Atau barangkali kemenakan kita?
Keadaan ini memang aneh
Sore ini jam empat tepat
Dengarlah dia sedang mengocok gitarnya
Dengan cara-cara anak muda bergaya kidal
Dan itu bukan suara gerimis, bukan
Itu air matanya
Memukul-mukul lantai beranda

(1977)

Umumnya, “judul” sebuah puisi akan menyiratkan “isi”. Maka “isi” puisi Taufiq Ismail yang berjudul Anak Muda Serba Sebelah ini, akan menyiratkan tentang anak muda yang “jiwa raganya” tidak utuh. Sehingga segala tindak-tanduknya serba nanggung.

Puisi Anak Muda Serba Sebelah ini terdiri dari empat bait. Bait pertama, melukiskan tentang anak muda yang serba sebelah. Yang kupingnya, tangannya, matanya, jantungnya, ginjalnya dan kakinya tinggal sebelah. Ini adalah perlambang dari kegagapan.

Bait kedua melukiskan tentang akibat dari “yang serba sebelah” itu. Yang mengakibatkan, si Toni (anak muda yang serba sebelah) itu, mendengar hanya dengan kuping kiri, tangannya yang main gitar tangan kiri, air matanya menetes di mata kiri, kinjalnya menyaring hanya yang sebelah kiri dan menendang bola hanya dengan kaki kiri.

Bait ketiga, melukiskan si Toni yang berkeinginan menjadi sopir, namun semua kendaraan setir kanan.

Pada bait keempat, sang penyair mempertanyakan, tentang si Toni; “si Toni ini anak sayakah, atau anak saudarakah? Atau barangkali kemenakan kita?

Bait keempat dari puisi Anak Muda Serba Sebelah ini, ditutup dengan kalimat: “Sore ini jam empat tepat/ Dengarlah dia sedang mengocok gitarnya/ Dengan cara-cara anak muda bergaya kidal/ Dan itu bukan suara gerimis, bukan/ Itu air matanya/ memukul-mukul lantai beranda”. Di bait keempat ini, yang merupakan klimaks, terasa ada keharuan, dengan maksud, agar menjadi renungan bagi kita semua. Bahwa Anak Muda yang Serba Sebelah itu, bisa saja adalah dari kerabat kita sendiri.

Untuk memahami puisi di atas, ada baiknya kita mengetahui juga konsep Taufiq Ismail dalam menulis puisi, yaitu untuk “mengingatkan”. Juga ada baiknya kita mengetahui tahun penciptaannya, karena semua puisi berkaitan dengan situasi (sosial, politik, ekonomi, dan budaya) zamannya.

Puisi Anak Muda Serba Sebelah ini dibangun dengan bahasa yang sederhana dan tersirat. Sehingga mudah dipahami. Kekuatannya terletak pada surprise di bait ke empat.

Ada ironi (kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir) dan suasana humor (sesuatu yang lucu dan/ atau keadaan (dalam cerita dan sebagainya) yang menggelikan hati), yang ingin dihadirkan oleh Taufiq Ismail melalui puisi tersebut.

Seorang deklamator harus bisa menghadirkan suasana yang ironis itu secara imajinatif, ketika membacakannya. Misalnya, ketika membaca bait pertama (baris 1, 2 dan 3), seorang deklamator membacanya dengan tempo dan irama seperti seorang komentator sepak bola. Kemudian secara berurutan menegaskan baris-baris (baris 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13) berikutnya. Senyap sejenak… dilanjutkan dengan bait kedua dengan tempo dan irama yang sedang, tapi dengan variasi. Senyap sejenak… bait ketiga (baris 1, 2 dan 3) tempo dan iramanya bisa ditingkatkan, dan diberi “dadakan” pada baris 4 dan 5, tapi dengan variasi. Untuk membangun suasana humor. Senyap sejenak… kemudian “disergap” dengan kalimat “Hei, tunggu dulu” (bait keempat). Toni ini anak sayakah/Atau anak saudarakah?/ Atau barangkali kemenakan kita?… Keadaan ini memang aneh… dilanjutkan (baris 5, 6, 7, 8, 9, 10) dengan tempo agak lambat untuk membangun rasa haru atau keharuan, sebagai klimaks atau penutup.

SWADESI
MINGGU, 19 NOPEMBER 1989

Jose Rizal Manua:
Penting, Unsur Tontonan Dalam
Acara Pembacaan Puisi

Selain mengundang unsur apresiasi, sebuah acara pembacaan puisi sebaiknya juga memperhatikan unsur tontonan. Sebab, jika tidak, acara semacam itu tidak akan diminati dan tidak akan memasyarakat. Demikian pernyataan Jose Rizal Manua, seorang dramawan, dosen dan juga sutradara teater, pendiri Bengkel Deklamasi Jakarta, dan juga seorang membaca puisi yang selama ini aktif mengadakan acara pembacaan puisi keliling baik di Jakarta maupun di beberapa kota daerah lainnya, dalam sebuah percakapan khusus dengan penulis diruang kerjanya, di Teater Arena Taman ismail Marzuki (TIM, baru-baru ini).

Jose menyatakan hal itu untuk menanggapi keluhan dari sementara pihak mengenai kurangnya minat masyarakat untuk menonton acara pembacaan puisi. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa acara pembacaan puisi yang dilakukan oleh para penyair, terutama penyair muda, jumlah penonton yang hadir bisa disebut nyaris sepi.

Menurut Jose, yang dimaksud dengan unsur tontonan ialah upaya untuk menyuguhkan sebuah acara pembacaan puisi yang lebih “hidup” dan tidak berkesan “menjenuhkan”. Upaya itu dapat dilakukan selain melalui cara membaca puisinya juga dapat melalui penggunaan perangkat pendukung, seperti penataan setting, penggunaan alat musik, ataupun kostum. Sepanjang pengamatannya, beberapa penyair terkenal, seperti Leon Agusta, Ibrahim Sattah (alm) juga sudah berusaha menghadirkan unsur semacam itu dalam acara pembacaan puisi mereka. Leon Agusta, misalnya, dalam acara pembacaan puisinya yang dinamakan “Puisi-puisi Auditorium” seringkali menggunakan bentuk pembacaan secara koor. “Ini sudah merupakan salah satu cara untuk menghadirkan unsur tontonan dalam acara pembacaan puisinya agar selain dapat menarik minat juga membuat penonton tidak jenuh,” kata Jose.

Diakui untuk beberapa penyair terkenal, seperti Rendra, Taufik Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri, unsur semacam itu sepertinya tidak menjadi masalah lagi. Sebab, itupun acara pembacaan puisi mereka sudah mampu menarik minat masyarakat untuk menonton. Ini tidak lain disamping kharisma yang kuat, mereka juga sudah mempunyai “massa” penonton tetap. Namun, bagi para penyair lain yang belum mencapai “taraf” seperti itu, tak ada salahnya untuk memikirkan upaya tertentu guna menarik minat masyarakat, setidak-tidaknya pencinta sastra, untuk menyaksikan acara mereka,” tambah Jose lagi.

Peluang

Dalam pengalamannya sebagai seorang membaca puisi, Jose melihat banyak puisi dari beberapa penyair Indonesia yang mempunyai peluang untuk digarap dalam sebuah tontonan yang menarik. Dengan penggunaan unsur tontonan sebagaimana yang ia maksudkan puisi itu ketika dibaca menjadi lebih “hidup” dan membuat penonton lebih paham akan makna yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya, ia juga menemukan kenyataan bahwa ada beberapa puisi penyair tertentu yang sangat sulit untuk diapresiasikan. Puisi dari Goenawan Mohamad, misalnya, lebih sulit diapresiasikan daripada puisi Rendra, Taufik Ismail, maupun Emha Ainun Nadjib. Demikian pula, puisi Sutardji Calzoum Bachri ternyata lebih sulit daripada puisi Hamid Jabbar, umpamanya.

Selain itu, berdasarkan pengalaman pula, Jose mengetahui bahwa urutan puisi yang dibacakan juga penting untuk diperhatikan. “Sebab, kalau uturan pembacaannya salah, seringkali acara pembacaan puisi itu akan membuat jenuh penonton,” ujar Jose pula.

“Faktor lain yang tak kalah penting ialah masalah tempat atau audience yang menyaksikan acara kita. Dengan memperhatikan hal itu kita dapat memilih puisi mana yang cocok untuk dibacakan nantinya,” kata Jose lagi.

Hanya Unsur Penguat

Meskipun demikian, Jose juga berpendapat, bahwa unsur tontonan itu hanyalah sebagai unsur “penguat” dalam acara pembacaan puisi itu. Hanya upaya untuk menarik banyak penonton saja. Jangan sampai unsur tontonan itu menjadi lebih dominan daripada pembacaan puisinya. Kalau itu sampai terjadi, , maka yang hadir bukan lagi sebuah cara pembacaan puisi, tegas Jose akhirnya.

Demikian pernyataan Jose Rizal Manua. Tampaknya apa yang telah ia kemukakan perlu menjadi pemikiran bagi para penyair yang akan mengadakan acara pembacaan puisi. Sebab, akan janggal rasanya, jika sebuah acara pembacaan puisi hanya disaksikan oleh satu-dua orang penonton saja. Jika ini sampai terjadi, maka apa yang menjadi tujuan inti acara tersebut, yakni suatu cara untuk memasyarakatkan puisi kepada masyarakat, rasanya akan menjadi sia-sia.

Bisa jadi pula, apa yang selama ini dikuatirkan oleh sebagian besar sastrawan kita, mengenai adanya pandangan “Keterpencilan Sastra” di kalangan masyarakat, suatu saat akan menjadi kenyataan. (Erwan Sasmita)

JOSE RIZAL MANUA AKAN BACA PUISI LAGI!
Tgl. 20 Nov. ’89 pukul 19.00 di Gelanggang Remaja Jakarta Timur.
Tgl. 21 Nov. ’89 pukul 19.00 di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan.
Puisinya? LAUTAN JILBAB karya EMHA AINUN NADJIB.

SWADESI
29 AGUSTUS 1993

Jose Rizal Manua
Puisi Bisa Jadi Tontonan

JOSE Rizal Manua, sebagai seorang deklamator, boleh jadi semakin mapan.

“Perjuangan saya untuk mencapai semua itu cukup berat,” paparnya. Apa kiat untuk mencapainya? Berikut ini obrolan dengan seniman yang pernah menjadi murid Rendra itu.

Agaknya Anda semakin laku dan semakin sibuk. Sudah keliling ke mana saja?

Hampir semua kota besar di Indonesia pernah mengundang saya. Dan sekarang saya diminta oleh Malaysia membacakan puisi di beberapa kota di sana. Undangan ini belum saya penuhi. Saya minta ditunda dulu. Acara saya sampai akhir tahun sudah terlampau padat.

Untuk menjadi deklamator andal, Anda tentu melalui proses kreatif yang panjang. Bisa Anda ceritakan?

Proses perjuangan saya untuk menjadi deklamator cukup panjang dan cukup berat. Sebagai bekas pemain sepakbola, saya tak bisa langsung masuk ke dunia kaum seniman. Karena itu, saya kemudian mengikuti berbagai lomba baca puisi ternyata dalam mengikuti berbagai lomba baca puisi itu, hampir setiap tahun saya bisa memenangkannya. Ini membuat saya makin bersemangat untuk belajar secara mendalam segala sesuatu yang berhubungan dengan seni baca puisi. Ya, saya belajar dengan siapa pun. Hampir semua penampilan penyair terkemuka Indonesia dan penyair Amerika atau pun Eropa yang membacakan puisinya di TIM selalu saya tonton dan saya pelajari. Mereka itulah guru-guru saya.

Pada tahun 1987, saya sudah tak boleh lagi mengikuti lomba baca puisi. mulai tahun itu pula saya menjadi juri. Karenanya, untuk memenuhi keinginan saya untuk terus menjadi pembaca puisi, saya coba mengumpulkan puisi dan membuat paket pertunjukan pembacaan puisi.

Mula-mula saja mencoba membacakan tiga kumpulan sajak Rendra: Anuning Ning, Syair Teratai, dan nyanyian Orang Urakan. Ternyata dapat sambutan bagus. Ini membuat saya makin yakin pembacaan puisi mestinya dikemas dan dipersiapkan sebagai sebagai tontonan. Publik akan terpukau dengan cara semacam ini. Berikutnya saya bacakan sajak-sajak Taufik Ismail. Mendapat sambutan baik juga. Ini semua karena saya memperhitungkan susunan emosi setiap sajak, memperhatikan kostum, menata setting secara tepat, dan membikinnya menjadi seni pertunjukan. Ini pulalah yang membuat orang betah menonton pertunjukan saya.

Begitulah, akhirnya saya mencoba membacakan sajak-sajak penyair Indonesia lainnya, termasuk karya Emha Ainun Nadjib pernah saya bacakan dari gelanggang ke gelanggang.

Dari itu kemudian saya sadar, kesuksesan yang saya raih adalah berkat semangat untuk mau belajar terus menerus dan menjaga kualitas pembacaannya. Bahkan di tempat-tempat hiburan yang bukan merupakan pusat kebudayaan pun, kualitas itu saya jaga terus. Karena itu, jangan heran kalau saya sekarang membaca puisi di pusat-pusat perbelanjaan, di kampung-kampung, dan bahkan di tempat-tempat hiburan sekali pun.

Kenapa harus ke pusat perbelanjaan segala?

Saya pikir untuk memasyarakatkan puisi kita harus masuk ke kantong masyarakat itu, tak terkecuali pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat hiburan. Saya yakin dengan melakukannya secara sungguh-sungguh, kedudukan sosial puisi di masyarakat akan terangkat kembali seperti pada masa Ronggowarsito duhulu.

Untuk itu Anda tentunya banyak belajar. Secara kongkret belajar apa saja?

Sekitar tahun 1975 saya belajar di Teater Mandiri-nya Putu Wijaya. Di sana saya belajar olah tubuh dan vokal. Tahun 1977 saya bergabung dengan Bengkel Teater Rendra. Dari sini pengetahuan saya tentang olah tubuh dan vokal serta seni peran semakin bertambah, lalu, karena masih juga belum puas, saya masuk IKJ dan belajar teater lebih mendalam lagi serta belajar dari pengalaman membaca diberbagai kota, akhirnya saya temukan kiat membaca puisi yang disukai publik.

Tentang stamina, saya belajar dari bagaimana atlet menjaga stamina. Dan ini tidak ada masalah, karena saya pernah menjadi pemain sepak bola di Persija Yunior Jakarta Timur. Ya, saya berlatih metode pernafasan atau pun metode menjaga stamina seperti ketika olahragawan mempelajarinya.

Belajar tentang penyutradaraan, ternyata juga ada gunanya. Saya bisa mengurutkan mana sajak yang harus saya baca terlebih dahulu dan mana yang kemudian dari beberapa puluh sajak yang hendak saya bacakan.

Bagaimana metode belajarnya?

Ada tiga metode dari Bengkel Teater yang bisa digunakan untuk mengasah kreatifitas, yakni: Rutin, stand by, dan seketika.

Bisa Anda jelaskan satu persatu?

Melakukan pekerjaan rutin harus ada hubungannya dengan pekerjaan sehari-hari, misalnya saja membersihkan lantai. Jika ini kita lakukan dengan rutin, akan menjadi meditatif. Suasana meditatif inilah yang akan menjadi daya ekspresi ketika kita berekspresi dan berkarya.

Metode kedua adalah Stand By. Dengan metode ini, kita akan selalu responsif, spontan, dan siaga penuh dalam menghadapi apa pun. Ini berarti, seniman harus bisa berkarya dalam kondisi apa pun.

Yang ketiga adalah “seketika”. Dengan metode ini, seniman tak akan punya kecenderungan untuk menunggu. Ia akan dengan seketika melakukan laku kreatifitasnya tanpa harus menunggu orang lain melakukannya.

Ini semua berhubungan dengan pekerjaan kita sehari-hari, kewajiban sehari-hari dan rutinitas. Ada piring kotor, kita harus siaga mencucinya. Dan jangan lama-lama menunggu piring itu tetap kotor, tapi harus seketika. Ibarat di dunia silat seorang pendekar tak akan langsung belajar ilmu silat, tapi harus melakukan pekerjaan sehari-hari dahulu. Pekerjaan sehari-hari itu setelah menjadi meditatif akan berguna ketika ia menerima ilmu silat yang sebenarnya, karena sesungguhnya gerakan-gerakannya yang sudah dilakukan secara rutin ketika pesilat itu menimba air, berkelit ketika hendak digigit ular dan sebagainya. Dalam kreatifitas pun demikian, rutinitas yang telah mencapai tingkatan meditatif menjadi daya ekspresi yang luar biasa.

Dan dengan metode itulah saya bisa mencapai prestasi saya dalam banyak hal, termasuk membaca puisi, menyutradarai dan mengadakan berbagai pertunjukan.

Selama ini, apakah ada penyair yang kecewa karena merasa sajak-sajaknya tidak Anda baca secara pas?

Belum ada tuh. Bahkan ada yang merasa menemukan sajaknya kembali yang telah lama hilang setelah mendengar saya membaca. Ada pula yang bilang, “Jose, setelah sajak itu kau baca, sepertinya aku baru saja membuatnya. Padahal sajak itu aku bikin sepuluh tahun yang lalu.” Ada semacam penyegaran dan reproduksi dari sajak-sajak yang dibuat para penyair yang sajaknya saya bacakan. Ini yang terjadi.

Agaknya ada penyair-penyair tertentu yang sajak-sajaknya belum Anda bacakan. Anda mengalami kesulitan yang serius ketika menghadapi sajak-sajak tersebut?

Saya sadar, tidak semua sajak bisa saya ekspresikan dengan baik. Ini membuat saya selalu memilih sajak-sajak yang bisa saya pahami, dan ekspresikan dengan maksimal. meski begitu, sekarang saya sedang belajar memahami sajak-sajak Goenawan Mohamad itu banyak yang bagus, tetapi untuk memahaminya sulitnya bukan main. (tt-36)

SWADESI
MINGGU, 24 SEPTEMBER 1989

Dialog jarak jauh
dengan DIHA

Puisi? Menarik Jadi Tontonan
Menjumpai mitra muda di tanah air

Meskipun masyarakat non sastra mengatakan: apa itu puisi, dan semacamnya, nyatanya puisi tetap ditulis orang baik yang pemula, yang mulai mendaki bahkan yang senior seperti STA, Subagio Sastrowardojo, Rachmat Djoko Pradopo. Dan pentas baca puisi tetap digelar orang antara lain Rendra, Sutardji, Leon Agusta, Hamid Jabbar, Jose Rizal Manua. Ternyata pentas-pentas tersebut tak pernah sepi penonton/ peminat/ penikmat. Dengan alasannya masing-masing, orang tetap menghadiri acara/ pentas baca puisi.

Yang akhir-akhir ini menjadi pembicaraan kalangan sastra terutama kawula muda sastra ialah acara baca puisi secara marathon Jose Rizal Manua di lima Gelanggang Remaja Jakarta beberapa waktu berselang, yang banyak mengundang perhatian karena ‘bentuk penyajian’ puisi di pentas tidak hanya bersifat auditif tapi juga visual dengan mencuatkan gaya teatrikal sang penyair/ pembaca. Seusai pentas? Penonton/ penikmat/ pencinta merasa lega dan puas, karena selain memetik butir-butir kebijakan tertentu dari puisi yang dibacakan, kita (penonton) juga merasa terhibur.

Jose Rizal Manua yang kreatif dalam tempo yang tidak terlalu lama (tanggal 8 September 1989) telah menggelar pula satu acara pentas puisi yang dipadukan, menjadi musikalisasi puisi. melibatkan puluhan anggota Bengkel Deklamasi yang dipimpinnya dan para jago baca puisi Jakarta, malam itu Plaza Patung Chairil Anwar, Monas Jakarta, ditaburi puisi kongkrit.

Cerita dari masa depan Indonesia dari Taufiq Ismail yang terkenal itu misalnya, disajikan secara memikat, dalam iringan angklung, gitar, diseling-seling antara vokal dalam baca dan iringan paduan suara serta tangan-tangan anak muda Indonesia melambai-lambaikan bendera-bendera merah putih kecil, tak ketinggalan gerak-gerak tubuh dalam irama gembira bersemangat.

Jelaslah, bahwa puisi mampu tampil dalam bentuk lain, tak hanya sebagai produk seni sastra yang harus baku dan kaku. Masalahnya, tinggal kita meletakkan sesuai dengan bentuk forumnya. Untuk acara lomba baca puisi murni apa dalam rangka sosialisasi puisi. sebagai jembatan komunikasi maupun upaya memasyarakatkan karya sastra yang satu ini, sudah saatnya kita lebih realistis memandang/ meletakkan/ memberi nilai kepada puisi.

Selain ia (puisi) harus mampu menyodorkan nilai-nilai kebijakan, ia harus mampu pula membahagiakan manusia yang menyukainya. Ia harus mampu membuat manusia merasa suka, merindukan kehadirannya, bukan sebaliknya, merasa bosan mendengarnya. Selain para pendahulunya (Rendra, Tardji, Hamid Jabbar), Jose Rizal Manua berulangkali telah membuktikannya. (Salam Kreatif: DIHA)

Kategori:
Tags:

Terkini