/1/
MASSA YANG TIDAK MASUK TIMBANGAN
Puisi: Leni Marlina
Baca juga: Rayakan HUT Ke-52 YPPK, Keuskupan Agung Merauke Berkomitmen Meningkatkan Kualitas Pendidikan
–
Klorin mengering di lantai keberangkatan,
roda koper mengunyah cahaya pada ubin;
sebutir tanah bersembunyi di jahitan pakaian,
kecil di mata, namun mengendap sampai ke batin.
Dua kemeja. Tiga buku. Satu dokumen.
Paspor merapikan tubuh menjadi deret nama;
tak ada kolom untuk debu yang ikut berangkat diam-diam,
tak ada angka bagi sesuatu yang tumbuh di dalam dada.
Baca juga: TRIO SRIKANDI KOTA BATU
Pesawat mengangkat sawah menjadi sisik kehijauan,
sungai melipat kilat ke dalam lipatan awan;
gunung dicabut dari namanya oleh ketinggian,
namun tulang menyimpan peta yang tak selesai digambar tangan.
Di kota asing, neon menggigil di kaca,
mesin kopi mendesis dengan lidah yang belum kau kenal;
lalu hujan menumpahkan bau tanah dari suatu masa,
dan sebuah pintu tak kasatmata mendadak terbuka di dalam kepala.
Engkau mulai mengerti: alamat hanyalah administrasi,
koordinat hanyalah cara bumi diberi tanda;
ada tempat yang tidak pernah tercetak dalam navigasi,
namun berdenyut pelan di bawah kulit dan tulang manusia.
Jika kelak tubuhmu kehilangan arah pulang,
jangan cari jalan pada papan, peta, atau gerbang;
letakkan telapak pada tanah selepas hujan turun panjang,
biarkan sesuatu yang lebih tua dari namamu mengenali langkah.
Sebab engkau tak membawa tanah di dalam koper,
kau membawa massa yang tak mengenal timbangan;
dan sejauh apa pun langit memindahkan tubuh dari asal,
tanah tetap tinggal,
bukan di tempatmu berasal,
melainkan di tempat tubuhmu
tak pernah sepenuhnya menjadi asing.
–
Melbourne, Australia, 2013
—
/2/
TABUNG REAKSI DI BAWAH KULIT
Leni Marlina
–
Rantau memasukkanmu ke tabung tanpa nama,
bahasa asing mengembun di bibir yang belum fasih;
kopi pahit meninggalkan endapan di pangkal lidah lama,
sementara hari-hari mengaduk tubuh sampai bersih.
Panas datang membawa lidah api,
dingin menyusul dengan kristal di tulang;
sebagian keyakinan menguap dari pori,
sebagian lain mengeras menjadi urat yang tenang.
Engkau bukan lagi larutan yang dahulu,
ikatan lama tanggal tanpa suara;
sesuatu yang asing meresap ke dalam kalbu,
mengubah susunan tanpa meminta nama.
Di luar kaca laboratorium, tinta spidol tinggal di jari guru,
solar menghitam di telapak tangan pekerja;
cangkul memukul batu, bunyi yang tak tercantum dalam buku,
lumpur membuka halaman yang tak pernah diajarkan di meja.
Ada pengetahuan yang lahir dari punggung membungkuk,
dari garam kering yang tertinggal di kulit;
ada pelajaran yang tidak membutuhkan bangku,
karena tanah sendiri telah lama menjadi guru yang sulit.
Untuk apa ilmu jika hanya berpendar di layar,
jika cahaya berhenti sebagai piksel di mata?
Engkau ingin membawanya turun dari kepala ke tanah yang kasar,
menjadi tangan, menjadi kerja, menjadi sesuatu yang nyata.
Ke kelas yang jendelanya menelan cahaya,
ke sungai yang kehilangan beningnya perlahan;
ke kebun yang menunggu tangan membaca cuaca,
ke anak yang masa depannya belum mempunyai nama.
Kini tubuhmu bukan ruang penyimpanan,
melainkan tabung yang terus bereaksi dalam diam;
ilmu yang tinggal di kepala hanyalah endapan,
ilmu yang berpindah ke tangan mulai mengubah alam.
Engkau keluar dari tabung tanpa menjadi sempurna,
membawa panas, debu, garam, dan luka yang tak terlihat;
rantau tidak mengembalikanmu sebagai manusia yang sama,
ia mengubah susunan tubuh
agar pengetahuan
mempunyai tempat untuk berbuat.
–
Melbourne, Australia, 2013
—–
/3/
ENGKAU DI DUA TEMPAT DALAM SATU TUBUH
Puisi: Leni Marlina
–
Di bawah lampu laboratorium, setetes cahaya menggigil di kaca,
pipet menahan bening, angka-angka mengendap di layar;
tanganku menghitung galat, telingaku mengukur jarak yang tak terbaca,
sebab ada koordinat yang tak tercatat, tetapi berdenyut di dasar sadar.
Uap nasi datang dari ingatan, mengaburkan kaca,
cabai menyisakan pijar merah di ujung lidah;
hujan mengetuk seng dari sebuah musim yang jauh di sana,
dan masa lalu merembes pelan melalui pori-pori darah.
Bahan kimia memenuhi kamar dengan aroma logam yang asing,
malam menggantung di jendela seperti spektrum tanpa warna;
lidah mencari kuah yang tak tersedia di kota yang dingin,
sementara satu cahaya ponsel membuka dapur dari kejauhan sana.
“Sudah makan?”
Dua kata jatuh, ringan bunyinya, berat gaungnya,
seketika dinding kehilangan ukuran dan jarak kehilangan nama;
kamar kecil mendadak mempunyai pintu yang tak terlihat mata,
dan sebuah rumah yang jauh berdenyut di dalam tubuh yang sama.
Tanganmu tetap di atas kaca, tetapi telapak membaca masa,
seperti sensor tua yang mengenali medan sebelum alat mengerti;
aku berada di sini, namun di sana ada sesuatu yang menjaga,
dua tempat bertumpuk tanpa salah satu harus pergi.
Rumah bukan alamat yang selesai dicetak di peta,
bukan koordinat yang tunduk pada satelit dan garis lintang;
ia gaya tak kasatmata yang membelokkan lintasan benda,
medan yang menarik tubuh tanpa menyentuhnya dengan tangan.
Jika rindu adalah partikel, biarkan ia mencari kanal rahasia,
menembus membran malam, melewati kaca, kota, dan cahaya;
dari meja laboratorium menuju dapur yang jauh di sana,
tempat namamu masih dipanggil
sebelum engkau sempat menerjemahkan apa-apa.
Engkau di sini.
Engkau di sana.
Dua kemungkinan berdenyut dalam satu tubuh yang sama;
barangkali manusia memang tak pernah benar-benar berada
hanya di satu tempat,
sebab sebagian dirinya
selalu tertinggal
di tempat yang merindukannya.
–
Melbourne, Australia, 2013
—
/4/
ENGKAU YANG TELAH BERUBAH FASE
Puisi: Leni Marlina
–
Pesawat turun; awan membuka lipatan udara,
laut memecahkan biru menjadi serpih cahaya;
roda menyentuh bumi, tekanan berubah seketika,
dan paru-paru mengenali basah sebelum pikiran membaca.
Kelembapan masuk melalui rongga dada,
bau tanah naik dari retakan aspal yang lama;
tubuh mengenali sesuatu sebelum lidah menemukan kata,
seolah bumi menyimpan sandi di bawah telapak manusia.
Engkau pulang bukan sebagai benda yang sama,
panas, tekanan, jarak mengubah susunan di dalam;
yang pergi membawa satu bentuk, kembali membawa gema,
seperti air yang mengenali sungai setelah lama menjadi awan.
Di kepala, ilmu menunggu menjadi suara,
tetapi pengetahuan yang diam hanya mengilap sebagai bayangan;
ia harus turun ke telapak, menyentuh lumpur dan udara,
menjadi gerak yang dapat mengubah sesuatu di kehidupan.
Dari turbin ke klakson, dari lorong steril ke pasar,
dari makanan kemasan ke bawang yang menghitam di wajan;
dari kaca laboratorium ke tanah yang menyimpan akar,
ilmu kehilangan jasnya dan memperoleh denyut kehidupan.
Di bawah tanah, akar bekerja tanpa gelar,
jamur mengurai daun menjadi bahasa yang tak selesai;
cacing menggemburkan gelap, membuka lorong bagi akar,
sementara dunia tumbuh tanpa pernah bertanya siapa yang memulai.
Masukkan ilmumu ke kelas yang jendelanya redup,
ke sungai yang beningnya digerus limbah dan musim;
ke kebun yang menunggu tangan membaca tanah sebelum menanam hidup,
ke mata seorang anak yang masa depannya belum mempunyai istilah dan sistem.
Engkau telah berubah fase; jangan biarkan ilmu membeku,
biarkan ia berpindah seperti muatan mencari medan;
dari kepala menuju tangan, dari tangan menuju sesuatu yang baru,
dari satu kehidupan ke kehidupan lain, tanpa menagih pengakuan.
Sebab perubahan tidak selalu meninggalkan jejak nama,
kadang ia hanya bekerja diam di bawah permukaan;
seperti elektron yang berpindah tanpa meminta cahaya,
yang penting bukan siapa yang bergerak,
melainkan apa yang berubah
setelahnya dalam kehidupan.
–
Melbourne, Australia, 2013
——-
Tentang Penyair – Leni Marlina
Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi di Universitas Negeri Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.
Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Mengabdi sebagai redaktur di platform digital Suara Anak Negeri (SAN) Media Group.
Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) & Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni merupakan anggota organisasi penulis SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers & ACC Shanghai Huifeng International Literaty Association.
Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id
Wattpad: @lenimarlina_write
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun


