Rabu, 12 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Yos Sudarso ke Imam Bonjol, 258 Anak Muda SMK Negeri 1 Pariwisata Biak Menari dalam Merah Putih

“Karnaval HUT ke-81 RI Menjadi Panggung Patriotisme, Kreativitas, dan Budaya Byak”

 

BIAK NUMFOR, SUARA ANAK NEGERI — Matahari belum sepenuhnya condong ke barat ketika Jalan Yos Sudarso mulai kehilangan wajah biasanya.

Baca juga: Peringati Hari Masyarakat Adat Sedunia, YLBH-MAP Deklarasikan LBH-MAB Biak sebagai Garda Pelindung Hak Ulayat

Jalan raya itu siang itu bukan saja tempat kendaraan berlalu-lalang. Ia berubah menjadi panggung panjang tempat anak-anak muda Biak mempertontonkan warna-warni kemerdekaan.

Dari depan Kantor Telkom Biak, suara drumband mulai menggema. Langkah kaki terdengar serempak. Kostum-kostum penuh warna bergerak mengikuti irama. Di sepanjang jalan, masyarakat berdiri menyaksikan. Sebagian mengabadikan momentum dengan telepon genggam. Sebagian lainnya hanya tersenyum dan menikmati pertunjukan.

Baca juga: Semarak HUT RI ke-81:SMP Negeri 4 Biak Tampil Kompak, Kreativitas Pelajar dan Pendampingan Intensif Guru Menjadi Sorotan 

Selasa, 11 Agustus 2026, pukul 14.00 WIT, Karnaval HUT ke-81 Republik Indonesia tingkat Kabupaten Biak Numfor resmi bergerak.

Sebanyak empat SMK, tujuh SMA, dan sejumlah perguruan tinggi mengambil bagian dalam perayaan tersebut.

Tetapi di antara panjangnya barisan yang bergerak menuju Jalan Imam Bonjol, ada satu rombongan yang datang membawa perpaduan antara pendidikan, seni, budaya, dan semangat patriotisme.

SMK Negeri 1 Pariwisata Biak.

Di bawah kepemimpinan Drs. Maskur Bora, sebanyak 258 siswa turun ke jalan. Mereka tidak datang sendirian. Para guru dan tenaga kependidikan turut berada di dalam barisan, memastikan setiap langkah tetap teratur dan setiap penampilan berjalan sebagaimana yang telah dipersiapkan.

Koordinasi barisan dipercayakan kepada Elisa Wellem Rawar, S.Pd. dan Yakobus Theodorus Korwa, SE.

Hari itu, sekolah tidak lagi hanya berdiri sebagai institusi pendidikan.

Sekolah hadir sebagai bagian dari wajah masyarakat.

Ketika Tongkat Mayoret Menggerakkan Sebuah Barisan

Ada saat ketika sebuah barisan tidak membutuhkan banyak kata.

Cukup satu aba-aba.

Cukup satu gerakan.

Dan semuanya bergerak.

Di depan rombongan SMK Negeri 1 Pariwisata Biak, sang mayoret menjadi pusat perhatian. Tongkat komando di tangannya bergerak lincah. Sesekali diangkat tinggi, kemudian diayunkan mengikuti irama musik.

Ia bukan tidak saja pemimpin pertunjukan.

Ia adalah denyut dari sebuah barisan.

Ketika tongkat bergerak, langkah pun bergerak.

Ketika musik mengalun, tubuh para siswa mengikuti irama.

Dan ketika penghormatan diberikan dari titik start, 258 siswa itu menunjukkan bahwa disiplin tidak selalu harus diajarkan di dalam ruang kelas.

Kadang disiplin justru terlihat paling jelas ketika seseorang berjalan bersama orang lain.

Tidak mendahului.

Tidak tertinggal.

Tidak keluar dari formasi.

Satu langkah menjadi berarti karena dilakukan bersama.

Jalan A. Yani Menjadi Panggung Anak-Anak Biak

Dari Jalan Yos Sudarso, rombongan kemudian bergerak menyusuri Jalan A. Yani.

Suasana semakin meriah.

Musik drumband mengisi udara. Tarian para siswa menjadi warna yang bergerak di antara barisan. Masyarakat di kiri dan kanan jalan memberikan perhatian.

Ada yang bersorak.

Ada yang tersenyum.

Ada yang mengangkat telepon genggam untuk merekam.

Anak-anak muda itu seakan sedang mengatakan sesuatu tanpa harus berbicara:

Kami adalah generasi yang sedang belajar mencintai negeri ini.

Dan cinta kepada negeri tidak selalu harus diwujudkan dalam kata-kata besar.

Ia bisa hadir melalui kedisiplinan.

Melalui kreativitas.

Melalui seni.

Melalui keberanian tampil.

Dan melalui kesediaan untuk merawat kebersamaan.

Edzan dan Dua Boneka yang Membuat Jalanan Tersenyum

Namun, ada satu sosok yang membuat penampilan SMK Negeri 1 Pariwisata Biak semakin mencuri perhatian.

Di tengah barisan, seorang guru tampil membawa dua boneka.

Satu di depan.

Satu lagi di belakang.

Dialah Edzan Rumpaidus, S.Pd.

Dengan gerakan tubuh yang terampil, Edzan membuat kedua boneka tersebut seolah-olah hidup.

Keduanya bergerak mengikuti irama lagu.

Bergoyang ketika musik menguat.

Bergerak lembut ketika irama melambat.

Penonton pun tertawa dan tersenyum.

Di tengah suasana karnaval yang penuh warna, atraksi sederhana itu justru menjadi salah satu hiburan yang paling mudah dikenang.

Edzan seolah mengingatkan bahwa sebuah perayaan tidak harus selalu tampil serius.

Ada ruang bagi kegembiraan.

Ada ruang bagi humor.

Ada ruang bagi kreativitas.

Dan di situlah pendidikan menemukan wajah lainnya: mendidik dengan kegembiraan.

Ketika Budaya Byak Bertemu Merah Putih

Perjalanan akhirnya sampai di Jalan Imam Bonjol.

Di sana berdiri panggung penghormatan.

Barisan mulai memasuki area tersebut.

Suasana berubah sejenak menjadi lebih khidmat.

Sang mayoret tampil di atas tumpukan perangkat drumband. Dengan anggun, ia memberikan penghormatan ke arah panggung.

Di hadapannya hadir Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Zakarias Mailoa, ST., M.M., bersama sejumlah pejabat daerah.

Namun penghormatan itu tidak berhenti pada gerakan baris-berbaris.

Ada simbol budaya yang turut dibawa.

Sirih dan pinang.

Keduanya diserahkan kepada Sekda melalui pejabat yang hadir sebagai bagian dari penghormatan dalam kultur Byak.

Di titik itu, merah putih dan budaya lokal bertemu.

Kemerdekaan Indonesia dirayakan tanpa harus meninggalkan identitas.

Justru sebaliknya.

Budaya lokal menjadi bagian dari cara masyarakat Papua merayakan Indonesia.

Pimpinan barisan, Elisa Wellem Rawar, S.Pd., kemudian memberikan laporan.

Penghormatan diberikan.

Barisan kembali bergerak.

Perjalanan belum selesai.

Karnaval Yang Edukatif

Sesungguhnya, yang dibawa oleh SMK Negeri 1 Pariwisata Biak hari itu bukan hanya drumband, kostum, boneka, tarian, dan barisan siswa.

Ada nilai pendidikan yang berjalan bersama mereka.

Ada karakter yang sedang dibentuk.

Ada nasionalisme yang sedang dipraktikkan.

Di tengah dunia pendidikan yang semakin kompleks, anak-anak muda membutuhkan ruang untuk mengalami secara langsung apa arti kebersamaan.

Karnaval menyediakan ruang itu.

Seorang siswa belajar bahwa untuk tampil baik, ia harus berlatih.

Ia belajar bahwa sebuah pertunjukan tidak dapat berdiri sendiri.

Ia membutuhkan teman.

Ia membutuhkan guru.

Ia membutuhkan disiplin.

Ia membutuhkan tanggung jawab.

Dan yang paling penting, ia belajar bahwa dirinya merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Sebuah sekolah.

Sebuah masyarakat.

Sebuah daerah.

Dan sebuah bangsa bernama Indonesia.

Dari Biak untuk Indonesia

Ketika barisan akhirnya menuju tempat istirahat di depan RS AURI, langkah-langkah yang sejak siang berjalan dalam formasi perlahan berhenti.

Musik pun mereda.

Tarian berhenti.

Tongkat mayoret diturunkan.

Tetapi semangat yang dibawa sepanjang perjalanan belum selesai.

Karena kemerdekaan bukan hanya sebuah tanggal.

Kemerdekaan adalah proses panjang untuk membentuk manusia Indonesia yang percaya diri, disiplin, kreatif, mampu bekerja sama, sekaligus tidak kehilangan akar budayanya.

Dan pada Selasa, 11 Agustus 2026, 258 siswa SMK Negeri 1 Pariwisata Biak telah menunjukkan sebagian kecil dari proses itu.

Mereka berjalan dari Yos Sudarso menuju Imam Bonjol.

Mereka membawa musik.

Mereka membawa tarian.

Mereka membawa budaya Byak.

Mereka membawa kegembiraan.

Dan yang paling penting, mereka membawa Merah Putih di dalam semangat mereka.

Sebab pada akhirnya, karnaval bukan hanya tentang siapa yang paling indah dalam barisan.

Bukan pula semata tentang siapa yang paling meriah dalam pertunjukan.

Lebih dari itu, karnaval adalah tentang bagaimana sebuah generasi belajar berjalan bersama.

Dan mungkin, di situlah makna kemerdekaan menemukan bentuknya yang paling sederhana:

berbeda dalam gerak, berbeda dalam warna, berbeda dalam bakat, tetapi tetap berjalan menuju tujuan yang sama, Indonesia.

 

Kategori:
Tags:

Terkini