Oleh: Drs. Akaha Taufan Aminudin
Kota Batu, Suara Anak Negeri- 6 Agustus 2026 menjadi pagi yang penuh makna. Seusai menunaikan Salat Subuh berjamaah di Masjid Besar An-Nur Alun-Alun Kota Batu, sekelompok sahabat lama dipertemukan kembali oleh waktu. Lima puluh tahun bukanlah rentang yang singkat, namun persahabatan ternyata mampu mengalahkan usia.
Pertemuan hangat itu mempertemukan H. Yusuf atau yang akrab disapa Siman, sahabat sejak TK Hajjah Mariyam (RA Raudhatul Athfal) Angkatan 1969, yang kemudian bersama melanjutkan pendidikan di SD Taman Muda Tamansiswa Angkatan 1976. Pelukan hangat setelah setengah abad menjadi ungkapan rasa syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Baca juga: TransJakarta: Membaca Perjalanan sebagai Ruang Alternatif, Berkarya dan Bertumbuh (Bagian 3)
Kebersamaan kemudian berlanjut di Lorong Ketan Alun-Alun Kota Batu, tempat yang sederhana namun penuh kenangan. Hadir dalam silaturahmi itu antara lain Hj. Dien Farida, H. Choirul Anwar, Hj. Fatimah, Hj. Evi, H. Nur Rochmat, H. Jazuli, Yuli Efendi Mas’ud, Hj. Luluk Angsle, Heri, serta sahabat-sahabat alumni lainnya. Secangkir kopi, semangkuk ketan, dan segelas STMJ (Susu, Telur, Madu, Jahe) menjadi teman berbincang, sementara tawa dan cerita lama kembali menghangatkan suasana.
H. Yusuf, putra asli Gang Petinggi Kota Batu yang kini menetap di Bogor sebagai pengusaha pemborong, tetap menunjukkan kepeduliannya terhadap kampung halaman. Ia dikenal sebagai sosok dermawan yang aktif mendukung kegiatan reuni dan literasi. Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan sebuah gagasan yang mendapat sambutan hangat: setiap reuni hendaknya melahirkan sebuah buku.
Bukan sekadar buku dokumentasi, melainkan buku yang memuat data lengkap peserta reuni, alamat, perjalanan hidup, serta karya-karya para alumni. Gagasan itu sederhana, tetapi memiliki nilai sejarah yang besar. Sebab setiap orang membawa kisahnya sendiri, dan setiap kisah layak menjadi bagian dari ingatan bersama.
Baca juga: UGM TELAH MENJELASKAN: SAATNYA MENGHORMATI KEPASTIAN HUKUM DAN OTORITAS AKADEMIK
Reuni akhirnya tidak lagi dipahami sekadar temu kangen. Ia menjadi ruang untuk merawat persahabatan, menghimpun sejarah, dan mewariskan jejak kehidupan kepada generasi berikutnya. Buku alumni akan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Pertemuan yang berlangsung sejak selepas Subuh hingga sekitar pukul delapan pagi itu membuktikan bahwa persahabatan sejati tidak mengenal batas waktu maupun jarak. Lima puluh tahun berlalu, namun kehangatan tetap terasa seperti masa kecil yang belum pernah benar-benar usai.
Semoga silaturahmi seperti ini terus berlanjut dan melahirkan karya-karya yang bermanfaat. Sebab, sebagaimana harapan H. Yusuf, setiap orang memiliki cerita, dan setiap cerita pantas diabadikan menjadi sejarah.
“Terus bergerak sepanjang masa bahagia.” Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan umur, dan kesempatan untuk terus berkarya serta mempererat persaudaraan.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.





