PUISI ESAI
Oleh Akah Taufan
–
Baca juga: TIDURLAH ANAKKU
Suara Tujuh Puluh Tiga Tahun, Cinta yang Belum Selesai
Pagi itu,
pukul delapan,
Hutan Kota Batu belum sepenuhnya ramai.
Namun merah-putih telah berkibar,
menyambut ulang tahun sebuah negeri
yang usianya kini delapan puluh satu.
Baca juga: IGNATIUS, RUMI DAN PAUL TILLICH
Orang-orang datang membawa pakaian terbaik,
membawa semangat upacara,
membawa ingatan tentang kemerdekaan.
Di antara barisan dan penghormatan,
seorang lelaki berdiri.
Cak Sundjojo.
Tujuh puluh tiga tahun.
Usia yang bagi sebagian orang
mungkin menjadi alasan untuk duduk tenang,
menikmati pagi,
dan menyerahkan panggung kepada yang muda.
Tetapi pagi itu ia memilih berdiri.
Bukan membawa jabatan.
Bukan membawa kekuasaan.
Bukan membawa pidato panjang.
Ia membawa suara.
Dan suara itu membawa pengalaman
yang tak mungkin dibeli oleh usia muda.
—
I
Dulu ia pernah berada
di ruang-ruang pemerintahan.
Pernah memikul amanah
sebagai Sekretaris Daerah Kota Batu.
Ia tahu bagaimana sebuah kota
diurus dengan dokumen,
angka, keputusan,
dan tanda tangan.
Tetapi pagi itu,
ia datang bukan sebagai pejabat.
Ia datang sebagai warga.
Sebagai manusia
yang masih menyimpan cinta
kepada tanah kelahirannya.
Di tangannya ada karya.
Di dadanya ada kenangan.
Di suaranya ada Indonesia.
—
II
Lalu terdengarlah “Gebyar-Gebyar”.
Karya Gombloh.
Bukan sekadar lagu.
Bukan sekadar teks
yang harus dibaca atau dinyanyikan.
Tetapi sebuah pintu
menuju ingatan.
Cak Sundjojo membukanya
dengan intonasi yang kuat.
Vokalnya menggetarkan.
Ekspresinya tidak dibuat-buat.
Penghayatannya
seolah datang dari perjalanan panjang.
Tujuh puluh tiga tahun
bukan sekadar angka.
Di sana ada masa kanak-kanak.
Ada perjalanan pendidikan.
Ada pekerjaan.
Ada jabatan.
Ada kehilangan.
Ada persahabatan.
Ada kota yang berubah.
Dan ada Indonesia
yang terus bergerak
melewati pergantian zaman.
—
III
Orang-orang mungkin melihat
seorang lelaki tua sedang tampil.
Tetapi sesungguhnya
yang sedang berdiri adalah sebuah zaman.
Zaman yang pernah melihat
Indonesia tumbuh.
Zaman yang menyaksikan
kota berubah.
Zaman yang mengetahui
bahwa kemerdekaan
tidak berhenti pada tahun 1945.
Kemerdekaan selalu membutuhkan
orang-orang yang mau menjaganya.
Dengan profesinya.
Dengan pikirannya.
Dengan seninya.
Dengan tulisannya.
Dengan kejujurannya.
Dengan pengabdiannya.
—
IV
Cak Sundjojo juga menulis.
Ia meninggalkan jejak
melalui buku:
Catatan Secuil Ketika Bocil tentang Kota Batu.
“Secuil,” katanya.
Tetapi bukankah sejarah
sering bermula dari secuil ingatan?
Sebuah gang.
Sebuah sekolah.
Sebuah permainan masa kecil.
Sebuah nama yang hampir dilupakan.
Sebuah wajah yang telah lama pergi.
Sebuah kota
yang tidak lagi sama
dengan kota yang dahulu dikenalnya.
Ketika ingatan ditulis,
masa lalu mendapatkan rumah.
Dan sebuah kota
tidak hanya membutuhkan pembangunan.
Kota juga membutuhkan
orang-orang yang mengingatnya.
—
V
Maka pagi itu menjadi berbeda.
Upacara tidak lagi hanya
barisan yang tegak.
Bendera bukan sekadar
kain yang berkibar.
Lagu bukan sekadar
nada yang dinyanyikan.
Puisi dan suara
menjadi jembatan.
Antara masa lalu
dan masa kini.
Antara pengalaman
dan generasi muda.
Antara manusia
dan tanah airnya.
—
VI
Barangkali ada yang bertanya:
Apa pentingnya seorang lelaki
berusia tujuh puluh tiga tahun
membacakan karya
di tengah upacara kemerdekaan?
Jawabannya sederhana:
Karena nasionalisme tidak mengenal usia.
Yang muda punya tenaga.
Yang tua punya pengalaman.
Yang muda membawa masa depan.
Yang tua membawa ingatan.
Jika keduanya bertemu,
bangsa memiliki kesinambungan.
—
VII
Dan saya membayangkan
seorang anak muda
menatap Cak Sundjojo.
Mungkin ia bertanya dalam hati:
“Apakah usia tujuh puluh tiga
masih bisa berkarya?”
Jawabannya telah diberikan
tanpa pidato:
Bisa.
“Apakah orang yang pernah menjadi pejabat
masih bisa belajar dari seni?”
Bisa.
“Apakah mencintai Indonesia
harus selalu dengan cara yang sama?”
Tidak.
Ada yang mengabdi
melalui pemerintahan.
Ada yang mengabdi
melalui pendidikan.
Ada yang mengabdi
melalui buku.
Ada yang mengabdi
melalui puisi.
Ada pula yang mengabdi
dengan menjaga ingatan
agar sejarah tidak hilang.
—
VIII
Pagi semakin meninggi.
Upacara terus berjalan.
Tetapi gema suara itu
seakan belum selesai.
Gebyar-gebyar.
Bukan hanya gebyar kemerdekaan.
Bukan hanya gebyar upacara.
Melainkan gebyar
sebuah kesadaran:
Bahwa Indonesia
adalah rumah bersama.
Bahwa Kota Batu
adalah bagian dari perjalanan itu.
Dan bahwa setiap generasi
mempunyai kewajiban
menjaga rumahnya.
—
IX — Catatan Kaki Esai
Cak Sundjojo adalah sosok yang memiliki perjalanan panjang dalam pemerintahan dan kehidupan kebudayaan Kota Batu. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kota Batu dan pada usia 73 tahun tetap aktif dalam kegiatan literasi dan kebudayaan. Salah satu karyanya adalah buku Catatan Secuil Ketika Bocil tentang Kota Batu, yang merekam kenangan dan pengalaman tentang Kota Batu.
Penampilannya membawakan “Gebyar-Gebyar” karya Gombloh dalam suasana peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia menjadi contoh bahwa seni dapat menjadi medium nasionalisme.
Nasionalisme tidak harus selalu hadir melalui pidato.
Kadang ia datang melalui sebuah buku.
Kadang melalui puisi.
Kadang melalui suara seorang lelaki tua
yang berdiri di hadapan bendera
dan menyampaikan cinta kepada negeri
dengan seluruh pengalaman hidupnya.
—
X — Penutup
Pagi itu,
di Hutan Kota Batu,
seorang lelaki berusia tujuh puluh tiga tahun
mengajarkan sesuatu
tanpa perlu menggurui.
Bahwa usia boleh bertambah.
Rambut boleh memutih.
Jabatan boleh berlalu.
Zaman boleh berganti.
Tetapi selama hati
masih menyimpan cinta,
selama tangan
masih mampu menulis,
selama suara
masih mampu menggetarkan,
pengabdian belum selesai.
Dan ketika merah-putih
berkibar di langit Batu,
suara Cak Sundjojo
seakan berkata:
Indonesia bukan hanya warisan.
Indonesia adalah tanggung jawab.
Gebyar-gebyar…
Suara itu pergi bersama angin,
tetapi pesannya
semoga tinggal
di hati kita. 🇮🇩
Kota Batu, 17 Agustus 2026
Akaha Taufan Aminudin
SATUPENA JAWA TIMUR


