Mengenang Muhammad Ibrahim Ilyas, Seniman, Penyair, dan Teaterawan Sumatera Barat
Oleh: Rizal Tanjung
–
Baca juga: Sepatu yang Mengelupas
Ada manusia yang lahir sekadar menjadi angka dalam kalender, lalu hilang bersama debu musim. Ada pula yang lahir sebagai hujan; ia jatuh perlahan, menyuburkan tanah yang bahkan tak pernah mengetahui dari langit mana air itu berasal. Muhammad Ibrahim Ilyas—yang lebih akrab dipanggil Bram—adalah hujan itu.
Hari ini, Kamis, 9 Juli 2026, Jakarta menjadi kota yang menyimpan napas terakhirnya. Namun kematian hanya berhasil menutup kelopak matanya; ia tak pernah mampu mematikan kata-kata yang telah ditaburkan Bram ke dalam ladang sastra Indonesia. Sebab penyair sejati tidak pernah benar-benar wafat. Mereka hanya berpindah alamat, dari rumah-rumah dunia menuju perpustakaan keabadian.
Di Sumatera Barat, angin barangkali masih mengingat suaranya. Bukit-bukit masih mengenali langkahnya. Sungai-sungai masih membawa gema bait-bait yang pernah ia bisikkan kepada bebatuan. Sebab seorang penyair bukan hanya menulis puisi. Ia mengajari angin mengeja kesunyian, mengajari hujan memahami air matanya sendiri, dan mengajari langit bahwa biru pun dapat menangis.
Baca juga: PEREMPUAN DI TIKUNGAN
Bram bukan sekadar nama.
Ia adalah sebuah musim.
Musim ketika kata-kata berhenti menjadi hiasan, lalu berubah menjadi perlawanan.
Musim ketika puisi tidak lagi duduk anggun di atas meja sastra, melainkan turun ke jalan, menyentuh tanah, menyapa rakyat, memeluk luka, dan menyalakan api di dalam dada manusia.
Dalam perjalanan panjang sastra Indonesia, selalu lahir beberapa orang yang berani mengguncang pintu-pintu lama. Mereka tidak puas berjalan di jalan yang telah diaspal para pendahulu. Mereka memilih membuka jalan baru, meski harus melukai telapak kaki sendiri.
Bram termasuk di antara sedikit orang itu.
Ia percaya bahwa puisi bukan sangkar bagi kata-kata indah. Puisi adalah burung liar yang menolak dipenjara oleh tata bahasa. Ia harus terbang ke mana pun hati manusia membutuhkan cahaya.
Karena itulah karya-karyanya terasa hidup. Kata-kata yang ditulisnya tidak pernah diam. Mereka berjalan. Mereka bernapas. Mereka menatap pembacanya dengan mata yang penuh pertanyaan.
Puisi-puisinya bukan sekadar kumpulan larik. Ia adalah hutan metafora tempat manusia dapat tersesat untuk akhirnya menemukan dirinya sendiri.
Sebagai seniman, Bram memahami bahwa kesenian bukan benda pajangan yang digantung di dinding museum. Seni adalah denyut kehidupan. Ia tumbuh bersama rakyat, tertawa bersama anak-anak, menangis bersama kaum yang terpinggirkan, dan berdiri paling depan ketika kemanusiaan dipertaruhkan.
Sebagai teaterawan, ia mengetahui bahwa panggung hanyalah lantai kecil dari panggung kehidupan yang jauh lebih luas. Tirai boleh ditutup, lampu boleh dipadamkan, para aktor boleh pulang. Namun drama manusia tidak pernah selesai dipentaskan.
Mungkin karena itulah teater baginya bukan sekadar tontonan. Ia adalah cermin. Dan cermin selalu jujur, meski manusia sering takut melihat wajahnya sendiri.
Bram mengajarkan bahwa aktor sejati bukan hanya mereka yang berdiri di atas panggung. Para petani yang berjuang melawan musim, para nelayan yang menantang ombak, para ibu yang menanak harapan di dapur sempit, para penyair yang tetap menulis di tengah sunyi—merekalah aktor kehidupan yang sesungguhnya.
Ia menyaksikan Indonesia bukan hanya sebagai peta dengan ribuan pulau. Ia melihatnya sebagai buku puisi yang setiap halamannya ditulis oleh bahasa, adat, air mata, dan harapan.
Dari ranah Minangkabau, Bram membawa semangat yang telah lama diajarkan alam: bahwa gunung tidak pernah meninggikan dirinya meski menjadi tempat langit bersandar. Bahwa sungai tidak pernah menyombongkan airnya meski menjadi sumber kehidupan.
Kesederhanaan itulah yang membuat namanya dihormati.
Ia tidak mengejar gemerlap ketenaran. Ia mengejar kejujuran kata.
Sebab bagi Bram, satu bait yang lahir dari nurani jauh lebih berharga daripada seribu tepuk tangan yang lahir dari kepura-puraan.
Dunia sastra Indonesia mengenalnya sebagai salah seorang penyair yang menghadirkan perubahan. Perubahan itu bukan sekadar pada bentuk puisi atau keberanian bereksperimen dengan bahasa. Lebih dari itu, ia mengubah cara orang memandang puisi.
Ia membuktikan bahwa puisi bukan menara gading.
Puisi adalah rumah.
Rumah tempat siapa pun boleh singgah membawa luka.
Rumah tempat kesedihan berubah menjadi nyanyian.
Rumah tempat harapan belajar berjalan kembali.
Begitulah Bram menempatkan sastra: bukan sebagai kemewahan kaum terpelajar, melainkan sebagai roti yang harus dapat dimakan oleh siapa pun yang lapar akan makna.
Hari ini, ketika kabar wafatnya menyebar dari Jakarta ke seluruh penjuru negeri, mungkin langit Sumatera Barat sedikit lebih muram. Bukan karena kehilangan satu orang semata, tetapi karena kehilangan satu mata air.
Namun mata air sejati tidak pernah kering.
Ia berubah menjadi sungai.
Lalu menjadi laut.
Kemudian menjadi hujan.
Dan akhirnya turun kembali ke bumi untuk menyuburkan generasi berikutnya.
Demikian pula Bram.
Tubuhnya boleh beristirahat.
Tetapi puisi-puisinya akan terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Anak-anak muda akan menemukannya di halaman-halaman buku.
Para aktor akan menemukan napasnya di atas panggung.
Para penyair akan mendengar gema suaranya setiap kali mereka kebingungan memilih kata pertama.
Barangkali beginilah cara Tuhan menjaga para penyair.
Ia memanggil tubuh mereka pulang, tetapi membiarkan kata-kata mereka tetap tinggal sebagai lentera bagi manusia.
Kini panggung telah sunyi.
Lampu-lampu perlahan dipadamkan.
Kursi-kursi penonton mulai kosong.
Tetapi di suatu tempat yang tak dapat dijangkau mata, mungkin Bram sedang membuka buku baru, menulis puisi yang tintanya berasal dari cahaya bintang, membacakan bait-baitnya kepada para penyair yang telah lebih dahulu pulang.
Selamat jalan, Bram.
Terima kasih telah mengajari kami bahwa kata-kata dapat menjadi rumah bagi jiwa.
Terima kasih telah membuktikan bahwa puisi bukan sekadar keindahan bahasa, melainkan keberanian mencintai manusia.
Terima kasih telah menunjukkan bahwa seorang penyair tidak pernah diukur dari panjang usianya, melainkan dari seberapa lama puisinya tetap hidup di dalam dada bangsanya.
Dan selama masih ada orang Indonesia yang membaca puisi dengan mata basah dan hati yang menyala, selama masih ada teater yang menghidupkan nurani, selama masih ada bahasa yang menolak tunduk kepada kebisuan, maka nama *Muhammad Ibrahim Ilyas—Bram—*akan tetap berjalan bersama angin, bersama hujan, bersama panggung, bersama sastra, menuju keabadian yang tak pernah mengenal kata selesai.
—-
Padang, 9 Juni 2026.





