Oleh: Era Nurza
Langit mengunci fajar dalam peti biru
matahari mengasah api di bibir cakrawala
Embun mengukir doa pada nadi rerumputan
bumi meminum cahaya seteguk demi seteguk
Aku melangkah melintasi tulang waktu
membawa musim gugur di punggung harap
Sepi menjelma penenun
merajut keberanian dari benang luka
Baca juga: Sebelum Menjabat Tangan Paulus Laratmase
Awan memerahasiakan hujan
angin menggembala gema menuju ufuk
Jam memamah detik tanpa ampun
jiwa menempa napas menjadi baja
Malam menyalakan bintang pada rongga dada
bulan menggantung pelita di bibir sunyi
Gelap kehilangan singgasana
cahaya bangkit dari abu kegagalan
Langit belum selesai berjanji
Pelangi masih bertapa di rahim hujan
Takdir masih membakar besi menjadi pedang
Aku memilih berdiri
sebab harapan lahir bukan dari kemudahan
melainkan dari hati tetap menyala saat semesta belum membuka pintu
Baca juga: Menebak Arah Angin
Denpasar Bali, Juni 2026
Menjahit Sabar pada Jam Retak
Oleh: Era Nurza
Jam retak menggantung di dinding dada
detiknya bocor menjadi gerimis usia
Aku merenda sabar memakai benang doa
menusuk malam hingga fajar kehilangan nama
Kursi sepi memeluk napas paling panjang
jendela menelan wajah musim berganti
Harap tumbuh bagai akar cahaya
menembus batu ragu, mencari matahari
Langit mengunyah mendung perlahan
angin mengantar kabar tanpa suara
Aku memungut pecahan waktu
merakitnya menjadi rumah keteguhan
Barangkali tiba bukan soal cepat
melainkan hati mampu memelihara nyala
Sebab sabar bukan jeda
melainkan sungai sunyi menuju muara cahaya
Denpasar Bali, Juni 2026
Di Ambang Pintu Besok
Oleh: Era Nurza
Aku berdiri di ambang pintu besok
membawa koper berisi musim gugur
sisa tawa, serpih luka
serta bara mimpi belum padam
Fajar mengasah cahaya pada mata angin
langit meramu biru dalam bejana harapan
Detik menjelma pahat
mengukir jiwa menjadi tebing
Angin menyisir debu kegagalan
sungai menggiring ragu menuju laut lupa
Malam meluruhkan arang ketakutan
bulan menanak sunyi menjadi pelita
Takdir menempa napas di tungku waktu
keringat berubah mata uang bagi masa depan
Langkah tak lagi mencari jalan
langkah sendiri menjelma jalan
Aku mengetuk pintu besok
memakai buku jari penuh doa
Apabila gerbang tetap membisu
aku menjadi engsel
aku menjadi kunci
aku membuka semesta dari dalam diri
Sebab besok bukan alamat
Besok ialah benih menunggu keberanian
tumbuh di ladang tekad
berbuah pada tangan enggan menyerah
Denpasar Bali, Juni 2026





