Sabtu, 04 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pastor Pius Heljanan MSC: Jangan Jadikan Diri Standar Menilai Sesama

Oleh: joko

http://suaraanaknegeri.com | Lauran, Sabtu, 4 Juli 2026 – Di tengah kehidupan yang kerap diwarnai sikap saling menghakimi, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Pastor Pius Heljanan MSC, mengajak umat untuk kembali memaknai kehidupan rohani dengan hati yang tulus, bukan menjadikannya sebagai alasan untuk menilai dan mengukur kehidupan orang lain.

Merenungkan Injil Matius 9:14–17, Pastor Pius menegaskan bahwa praktik keagamaan, termasuk puasa, merupakan sarana membangun relasi yang semakin intim dengan Allah sekaligus mempererat kasih terhadap sesama, bukan ruang untuk membanggakan diri atau merendahkan orang lain.

Baca juga: Wisatawan Internasional Apresiasi Tour Padaido dan Tema "Elok Alamku, Pesona Budayaku" di FBMW 2026

“Kami dan orang-orang Farisi berpuasa, tetapi mengapa murid-murid-Mu tidak berpuasa?”

Menurut Pastor Pius, pertanyaan yang diajukan kepada Yesus tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan beriman tidak boleh berhenti pada ritual semata, tetapi harus diwujudkan dalam perubahan hati dan cara memandang sesama.

Ia mengajak setiap orang untuk menjadikan hati sebagai “kantong baru”, yakni hati yang siap menerima anugerah Allah dan rela berbagi kasih kepada sesama dengan tulus.

Baca juga: Wisatawan Internasional Apresiasi Tour Padaido dan Tema "Elok Alamku, Pesona Budayaku" di FBMW 2026

Sebaliknya, Pastor Pius mengingatkan agar setiap orang tidak mempertahankan “kantong lama”, yakni hati yang dipenuhi amarah, dendam, kebencian, iri hati, fitnah, dan berbagai sikap yang menjauhkan manusia dari kasih Allah.

“Puasa itu penting karena menjadi kesempatan membangun relasi yang intim dengan Tuhan dan sesama secara benar, bukan untuk mencela kehidupan orang lain. Jadikanlah hatimu sebagai ‘kantong baru’ untuk menerima anugerah Allah dan dengan tulus berbagi berkat kepada sesama,” ujar Pastor Pius.

Menurutnya, ketika hati tetap dikuasai oleh berbagai sikap negatif, seseorang dengan mudah menjadikan dirinya sebagai ukuran untuk menilai orang lain, bahkan merasa paling benar.

“Bila hati tetap menjadi ‘kantong lama’, maka diri sendiri akan dijadikan standar untuk menilai sesama dan merasa paling benar. Padahal, standar hidup yang benar dan baik hanyalah Yesus,” tegasnya.

Pastor Pius mengajak umat agar menjalani kehidupan beragama dengan benar, tulus, dan penuh kasih, tanpa sibuk mengomentari atau menghakimi kehidupan orang lain.

“Jadikanlah hatimu ‘kantong baru’ dalam mencintai sesama, tanpa membandingkan diri maupun kehidupan dengan orang lain,” tutup Pastor Pius Heljanan MSC.

Kategori:
Tags:

Terkini