Oleh: Johanis Kopong
http://suaraanaknegeri.com | Manila – Di tengah ritme kehidupan modern yang semakin cepat, kesibukan pekerjaan, pendidikan, dan tuntutan ekonomi kerap menyita perhatian banyak orang hingga melupakan fondasi kehidupan yang paling mendasar, yakni pertumbuhan iman dalam keluarga.
Baca juga: ATR/BPN Perkuat Tata Ruang untuk Dukung KSPEAN Papua Selatan
Di tengah realitas tersebut, RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di Central Seminary, University of Santo Tomas (UST), Manila, Filipina, mengajak umat untuk kembali merenungkan makna Peringatan Wajib Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria melalui renungan Sejenak Sabda yang disampaikan pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Mengacu pada bacaan liturgi Yesaya 61:9–11 dan Injil Lukas 2:41–51, RD. Domincs Baldawins Masriat menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi tempat pertama bertumbuhnya iman, sehingga tidak boleh dikorbankan oleh kesibukan duniawi.
“Sesibuk apa pun kita dengan urusan pekerjaan, sekolah, atau ekonomi, kita tidak boleh mengabaikan pertumbuhan iman dan kehidupan rohani di dalam keluarga,” ungkapnya.
Baca juga: BPN Tanimbar Tetapkan Lokasi Akses Reforma Agraria Fase I 2026
Pesan tersebut menjadi refleksi yang relevan di tengah masyarakat yang semakin akrab dengan berbagai aktivitas digital, tetapi sering kali kehilangan ruang untuk membangun kedekatan spiritual bersama keluarga.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa makna hati yang tak bernoda bukan sekadar simbol kesucian, melainkan sikap hidup yang mampu mengendalikan emosi dan menempatkan kasih di atas ego.
“Hati yang ‘tak bernoda’ adalah hati yang tidak dikuasai oleh kepahitan, kemarahan tak terkendali, atau dorongan untuk menghakimi. Saat menghadapi situasi yang memicu stres, kepanikan, atau kesalahpahaman dalam keluarga atau relasi, kita dipanggil untuk belajar menahan diri, mengomunikasikannya dengan kepala dingin, dan tidak mengedepankan ego,” katanya.
Menurutnya, tantangan kehidupan modern justru menuntut setiap orang untuk memiliki kedewasaan emosional. Respons yang terburu-buru, baik dalam kehidupan nyata maupun di media sosial, kerap memperkeruh persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog dan kesabaran.
Dalam refleksinya, RD. Domincs Baldawins Masriat juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang menginginkan segala sesuatu berlangsung serba cepat. Padahal, hati Maria memberikan teladan tentang pentingnya kontemplasi, keheningan, dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan.
“Di zaman modern, kita sering kali terlalu cepat bereaksi, cepat mengeluh di media sosial, atau menuntut jawaban instan atas setiap masalah hidup. Hati Maria mengajarkan moralitas tentang kontemplasi dan kesabaran. Ketika hidup memberi kita teka-teki, penderitaan, atau ketidakpastian, belajarlah untuk ‘hening’, merefleksikannya secara mendalam, dan percaya bahwa rencana Tuhan akan indah pada waktunya,” tuturnya.
Bagi RD. Domincs Baldawins Masriat, keheningan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan ruang batin untuk menemukan hikmat sebelum mengambil keputusan. Di tengah derasnya arus informasi dan opini, kemampuan untuk berhenti sejenak dan merenung menjadi nilai yang semakin langka, tetapi sangat dibutuhkan.
Pada bagian akhir refleksinya, ia mengajak umat untuk tetap memelihara kerendahan hati. Baginya, keberhasilan, kecerdasan, maupun pencapaian hidup tidak boleh menjauhkan seseorang dari sikap hormat kepada orang tua dan penghargaan terhadap otoritas moral dalam keluarga maupun masyarakat.
“Sehebat, sepintar, atau sesukses apa pun kita, kita dipanggil untuk tetap memiliki kerendahan hati, menghormati orang tua, dan menghargai otoritas moral dalam keluarga maupun masyarakat,” pesannya.
Menutup renungan, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak seluruh umat memanjatkan doa agar hati setiap orang semakin dimurnikan, meneladan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria.
“Ya Allah, berkatilah kami dan jadikanlah hati kami seperti Hati Maria yang Tak Bernoda. Semoga hati kami selalu bersih dari noda dosa, kepahitan, dan keegoisan.”
Dari Manila, refleksi ini menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, kemajuan teknologi, dan kompleksitas kehidupan, manusia tetap dipanggil untuk menjaga kejernihan hati, memperkuat iman dalam keluarga, serta membangun kehidupan yang dilandasi kasih, kesabaran, dan kerendahan hati.
Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi bagi terciptanya relasi yang harmonis, baik di lingkungan keluarga, Gereja, maupun masyarakat.





