Menjelang Janji Sehidup Semati, RD Ponsianus Ongirwalu Teguhkan Enam Pasangan
http://suaraanaknegeri.com | Olilit Barat, Tanimbar Selatan – Suasana penuh syukur dan kebahagiaan menyelimuti Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Sabtu (6/6/2026). Setelah menempuh proses pembinaan selama tiga bulan, enam pasangan calon pengantin akhirnya tiba di ambang salah satu momen paling sakral dalam kehidupan mereka: penerimaan Sakramen Perkawinan.
Perjalanan menuju altar bukan sekadar rangkaian persiapan seremonial. Di bawah pendampingan Pastor Paroki HKY Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, bersama tim pembina paroki, para calon pasangan diajak menyiapkan diri secara utuh, baik secara rohani maupun mental, sebelum mengikrarkan janji perkawinan di hadapan Tuhan dan Gereja.
Membersihkan Hati Sebelum Mengucap Janji
Sehari menjelang perayaan sakramen, para calon pengantin mengikuti rekoleksi dan Sakramen Tobat sebagai bagian dari persiapan akhir.
Baca juga: Polsek Selaru Perkuat Pencegahan Kejahatan Lewat Patroli Humanis
Bagi mereka, momen tersebut menjadi ruang hening untuk melakukan refleksi mendalam atas perjalanan hidup yang telah dilalui. “Ada rasa lega yang luar biasa. Masuk ke ruang pengakuan dengan beban dan keraguan, tapi keluar dengan hati yang lapang. Kami sadar, membangun rumah tangga tidak bisa mengandalkan ego sendiri, melainkan harus dimulai dengan hati yang bersih di hadapan Tuhan.”
Di tengah kesibukan mempersiapkan pesta dan berbagai kebutuhan teknis pernikahan, Gereja mengingatkan bahwa fondasi utama rumah tangga Katolik bukanlah kemeriahan perayaan, melainkan kesiapan hati untuk hidup dalam kasih dan pengampunan.
Melalui Sakramen Tobat, para calon pasangan meninggalkan luka masa lalu, memperbarui relasi dengan Tuhan, serta melangkah menuju kehidupan baru dengan hati yang lebih damai.
Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu Menabur Kasih
Menegaskan Pilihan dalam Penyelidikan Kanonik
Tahapan berikutnya adalah penyelidikan kanonik, sebuah proses penting yang memastikan bahwa kedua calon mempelai memahami secara utuh makna perkawinan Katolik.
Meski berlangsung dalam suasana serius, para peserta mengaku memperoleh pengalaman yang memperkuat keyakinan mereka. “Saat ditanya satu per satu oleh Pastor, ada rasa tegang tapi juga bangga. Ini bukan ujian lisan, melainkan saat di mana kami menegaskan kembali di hadapan Gereja bahwa pilihan kami sudah bulat. Kami menikah bebas dari paksaan, atas dasar cinta yang tulus.”
Melalui proses tersebut, RD Ponsianus Ongirwalu memastikan setiap pasangan memahami hakikat perkawinan Katolik sebagai ikatan yang monogam, setia, dan tak terceraikan.
Bagi para calon mempelai, tahapan ini menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen yang lebih dalam daripada sekadar hubungan romantis selama masa pacaran.
Bekal Kehidupan dari Tim Pembina
Selain pembinaan rohani, para peserta juga memperoleh berbagai pembekalan praktis dari Tim Pembina Paroki HKY Olilit Barat.
Pendampingan selama tiga bulan itu tidak hanya membahas kehidupan iman, tetapi juga berbagai tantangan nyata dalam membangun rumah tangga.
“Tiga bulan mendampingi kami, Tim Pembina sudah seperti orang tua sendiri. Nasehat mereka sangat membumi, tentang bagaimana mengelola keuangan, meredam amarah, dan pentingnya komunikasi. Kami belajar bahwa cinta itu perlu dirawat dengan tindakan nyata setiap hari.”
Pembinaan tersebut membantu para pasangan memahami bahwa kehidupan keluarga tidak hanya dibangun oleh perasaan, melainkan juga oleh tanggung jawab, kesabaran, komunikasi, dan kemampuan menghadapi berbagai dinamika hidup bersama.
Peneguhan RD Ponsianus Ongirwalu
Menjelang hari pernikahan, peneguhan terakhir datang dari Pastor Paroki HKY Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu.
Dalam pesan pastoralnya, ia mengingatkan bahwa keluarga Kristiani dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan dan menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan rumah tangga.
Pesan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para calon pasangan. “Kata-kata Pastor begitu meneguhkan khusus untuk kami yang akan berdiri di altar esok hari. Beliau mengingatkan: ‘Jangan takut, sebab bukan kamu yang memilih-Ku, tetapi Akulah yang memilih kamu.’ Kristus sendiri yang akan mengikat dan memberkati janji kami.”
Melalui nasihat tersebut, RD Ponsianus Ongirwalu kembali menegaskan pentingnya doa bersama dalam keluarga, kesetiaan dalam suka maupun duka, serta panggilan setiap keluarga Kristiani untuk menjadi saksi kasih Tuhan di tengah masyarakat.
Menyongsong Hari Penuh Rahmat
Enam pasangan kini bersiap melangkah menuju altar suci untuk mengucapkan janji perkawinan yang akan mengikat mereka seumur hidup. Sementara itu, lima pasangan lainnya terus melanjutkan proses pembinaan sebagai bagian dari persiapan menuju perayaan sakramen pada bulan Juli mendatang.
Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat sekali lagi menunjukkan bahwa perkawinan bukan sekadar perayaan sehari, melainkan sebuah panggilan hidup yang dipersiapkan dengan kesungguhan, doa, dan pendampingan yang matang.
Di tengah sukacita yang menyelimuti umat, doa pun dipanjatkan agar keenam pasangan yang akan menerima Sakramen Perkawinan senantiasa dianugerahi kasih, kesetiaan, dan rahmat Tuhan dalam perjalanan rumah tangga mereka kelak.(jk)





