Rabu, 03 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

AKAR-AKAR YANG MENYANGGA FAJAR

Puisi: Leni Marlina

Jika kau mencari mereka,
jangan mulai dari ruang kelas.
Carilah di bawah lidah bumi,
tempat akar-akar mengunyah batu.
Bukan karena lapar.
Mereka membuka jalan bagi air,
mengajari gelap cara berubah menjadi hijau,
membelah malam agar pagi menemukan pintunya.

Baca juga: Tumbuh Bersama Kata, Berkibar Bersama Asa

Tak seorang pun menyaksikan pekerjaan itu,
Seperti jiwa yang diam-diam bergeser
menjadi jalan bagi jiwa lain.
Maka akar-akar mengunyah batu,
seteguk demi seteguk,
sampai fajar berani menetas dari telur kegelapan.

Pada pagi yang menggigil,
kapur tulis bangun dan lupa bentuk asalnya.
Ia ingin menjadi hujan yang membaca arah,
atau tulang cahaya yang tertinggal di meja matahari.
Lalu ia pecah.
Dari luka putihnya,
ribuan alfabet liar terbang
seperti burung tak tunduk pada halaman buku.
Mereka tak juga memilih dinding, tak memilih rak, tak memilih museum sejarah.
Mereka masuk ke dada anak-anak—tanpa izin waktu,
diam-diam,
seperti hujan memasuki akar, cahaya memasuki embun,
doa memasuki kesunyian.
Di dalam dada itu,
setetes air menyimpan lautan, sebutir benih menyimpan hutan,
seorang anak menyimpan abad belum selesai dituliskan.

Tahun-tahun berganti kulit tanpa suara.
Sebagian menjadi jembatan, menyelamatkan dua tebing dari kesepian.
Sebagian menjadi api,
menjaga rumah-rumah kecil tetap bernapas.
Sebagian menjadi tangan, mengangkat manusia lain dari jurang dirinya sendiri.
Nama mereka tumbuh di dinding zaman.
Sementara itu, debu kapur tetap melayang di sudut cahaya.
Namanya habis sebelum sampai ke mulut sejarah,
seperti embun, lenyap seusai membantu bunga mekar.

Baca juga: SURAT APRESIASI DAN UCAPAN SELAMAT ULANG TAHUN KE-3

Pada siang berkeringat,
seorang guru pulang.
Hujan bergantung di pundaknya.
Di sakunya, beberapa lembar uang kusut diam seperti burung kelelahan.
Namun esok pagi
ia kembali menyalakan matahari di papan tulis yang sama.
Tak ada berita tentang itu.
Tak ada perayaan.
Tak ada bunga.
Hanya senja menempel pada punggung yang lelah.
Hanya akar-akar terus mengunyah batu di bawah kehidupan.

Pada sore kelelahan,
orang-orang berteduh di bawah pohon besar.
Buah-buah bergantung seperti musim matang.
Burung-burung memanggil langit dengan nyanyian.
Daun-daun bertepuk di tangan angin.
Semua memuji panen.
Semua memuji buah.
Semua memuji rindang.
Pohon itu diam.
Buah-buahnya bercahaya.
Jauh di bawah tepuk tangan daun,
akar-akar masih mengunyah batu.

Suatu hari kau bertanya kepada angin:
dari mana cahaya belajar melangkah?
Angin tertawa.
Lalu berubah menjadi debu.
Debu berubah menjadi kapur.
Kapur berubah menjadi burung.
Burung berubah menjadi akar.
Akar berubah menjadi hujan.
Hujan berubah menjadi anak kecil, membawa langit di saku bajunya.
Tak satu pun menjawab.
Sebab beberapa jawaban terlalu besar untuk dimuat di dalam kata.

Jika kau terjaga lebih lama daripada lampu-lampu kota,
kau akan melihat sesuatu tak pernah berhasil masuk berita.
Sepasang tangan menyangga langit agar tidak runtuh ke kepala anak-anak.
Telapak tangan merekah oleh tanah,
retakan kecil seperti musim yang tumbuh dari kulit.
Kukunya penuh bumi.
Pada garis-garis tangan itu, masa depan mengalir
seperti sungai yang belum sepakat pada lautnya.

Namun kota-kota berlalu.
Pasar-pasar menyalakan ribuan lampu.
Sementara rasa terima kasih tercecer di sudut trotoar.
Menara-menara tumbuh tinggi. Iklan-iklan berkilau.
Tetapi akar-akar tetap mengunyah batu.

Wahai engkau yang di sana,
berapa harga sebuah matahari?
Tak ada pasar menjualnya.
Tak ada timbangan mampu menimbangnya.
Namun setiap hari
kau menikmati panen tanpa mendengar desah akar lelah.
Kau menikmati jalan tanpa melihat siapa menjelma tangga.
Kau menikmati langit tanpa mengetahui siapa menahan runtuhnya fajar.

Maka dengarkan.
Bukan kata-kata ini.
Sebab beberapa kebenaran lahir sebelum bahasa.
Dengarkan akar-akar mengunyah batu di bawah kehidupan.
Dengarkan debu kapur, diam-diam berubah sayap.
Dengarkan napas di balik baju masa depan.

Sebab sebuah bangsa tidak mulai rebah ketika kehilangan gedung, istana, mahkota atau menara.
Ia mulai tumbang
ketika akar dibiarkan lapar,
ketika penanam cahaya dipaksa memungut sisa-sisa gelap,
ketika penjaga mimpi anak-anak harus berjuang sendiri mempertahankan hidupnya.

Ketika semua nama menjadi debu,
ketika prasasti-prasasti kehilangan ingatan,
ketika menara-menara kembali menjadi pasir,
akar-akar masih terdengar bekerja di bawah fajar.
Suara rahang akar.
Seteguk demi seteguk mengunyah batu,
membelah malam,
mendorong air, menahan bumi,
mengajari gelap cara berubah menjadi hijau.

Lalu dari gigi-gigi akar
percikan hijau beterbangan menjadi fajar.
Dan pagi, seperti biasa,
lahir tanpa mengetahui siapa yang menyalakannya.
Namun langit tak lupa.
Tak sebutir cahaya pun tersesat dari hitungan-Nya.
Tak setetes keringat pun gugur dari ingatan-Nya.
Maka jauh di bawah tanah,
akar-akar tetap bekerja.
Dan jauh di atas waktu,
rahmat-Nya terus menumbuhkan hari-hari baru.

Melbourne, Australia, 2012 ——————- Tentang Penyair – Leni Marlina

Leni Marlina adalah seorang penyair, penulis, penerjemah, dan dosen asal Indonesia di Departemen Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.

Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan sebagai praktik kreatif sekaligus dialog moral dengan dunia.

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia juga menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional dan internasional. Tulisan-tulisannya sering mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.

Di samping karier akademiknya, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis dan editor lepas di platform media digital seperti Suara Anak Negeri News dan Negeri News, tempat ia menerbitkan artikel tentang pendidikan, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Kedua platform tersebut memiliki misi yang sama, yaitu “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”

Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari beberapa komunitas sastra dan literasi, di antaranya PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, serta pengembangan literasi lintas budaya.

Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif di beberapa organisasi kepenulisan, termasuk SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan PLS. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia & sejak tahun 2024 juga berrgabung sebagai anggota Shanghai Huifeng International Literarty Association (ACC SHILA).

Kontribusinya dalam dunia sastra telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam acara International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta menerima penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam

Kategori:
Tags:

Terkini