Selasa, 02 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kolaborasi Adat Biak-Waropen di Wilayah Saireri: Upacara Yakyaker Kukuhkan Pernikahan Davin Duwiri dan Giovani, Simbol Integrasi Sosial Lintas Budaya

Penulis: Yohanis Rumaropen

BIAK NUMFOR – PAPUA | SUARA ANAK NEGERI, 1 Juni 2026 – Dalam ruang kultural wilayah Saireri, Provinsi Papua, sebuah prosesi pernikahan adat yang mengintegrasikan unsur tradisi Biak dan Waropen berlangsung khidmat di Adainasnosen, Biak Kota, pada Senin (1/6/2026) siang. Berdasarkan kosmologi adat Biak, ritual pengantaran peralatan rumah tangga dan pengukuhan menantu ini secara spesifik dikenal sebagai Yakyaker. Upacara yang diinisiasi oleh Keluarga Besar Rumaropen ini merupakan bentuk penyerahan sah putri mereka, Giovani Elsye Rumaropen, kepada Davin Mahendra Duwiri, yang saat ini menduduki jabatan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Waropen.

Baca juga: Harmoni dalam Keberagaman: Bupati Biak Numfor Diberi Gelar Kehormatan “Den Mas” di HUT ke-19 Paguyuban Warga Jawa Timur

Acara ini melampaui dimensi seremonial semata; ia merupakan validasi sosiokultural atas penyatuan dua jaringan kekerabatan lintas wilayah, yakni Rumaropen (Biak) dan Duwiri/Sesarari (Waropen). Prosesi Yakyaker dipimpin oleh perwakilan struktur keluarga, termasuk Ibu Agustina Rumaropen (pihak perempuan) dan Paman Daud Duwiri (pihak laki-laki), dengan disaksikan oleh dewan adat, tokoh agama, serta ratusan kerabat dari beragam latar belakang etnis. Kehadiran Keluarga Besar Toraja, kerabat dekat, dan sahabat lintas komunitas di Biak Numfor menguatkan karakter acara sebagai medium diplomasi budaya dan perekat kohesi sosial di wilayah Saireri.

Filosofi Yakyaker dan Simbolisme Kelapa dalam Kosmologi Pesisir

Baca juga: Ledakan Diduga Bom UXO Perang Dunia II Guncang Biak, 5 Meninggal dan 3 Hilang: Kapolres Biak Numfor Konfirmasi Proses Pengamanan dan Olah TKP Berlangsung Intensif

Dalam kerangka adat Biak, Yakyaker menempati posisi struktural sebagai tahap final dalam siklus pernikahan yang menandai inkorporasi resmi menantu ke dalam sistem kekerabatan. Melalui penyerahan alat dapur dan simbol-simbol domestikasi, Keluarga Besar Rumaropen secara simbolis dan substantif mengukuhkan Davin Duwiri sebagai bagian dari jaringan afinitas mereka.

Dalam orasi kunci, Ibu Agustina memaparkan narasi filosofis mengenai buah kelapa sebagai metafora sentral upacara. Dalam epistemologi adat pesisir Papua, kelapa bukan sekadar komoditas agraris, melainkan representasi dari universalitas kehadiran, adaptabilitas ekologis, dan utilitas holistik.

“Buah kelapa itu hanya buah, tetapi di mana-mana dia ada. Seperti anak cucu kami. Dia di Biak, tapi bisa tembus ke Pulau Waropen untuk tinggal di sana. Buah kelapa bisa diminyaki kepala, dibuat sabun, dimasak, dan dimakan bersama sagu atau papeda,” ujar Ibu Agustina.

Narasi ini mengafirmasi bahwa pernikahan berfungsi sebagai infrastruktur sosial yang menghubungkan wilayah Biak dan Waropen. Kelapa yang “ada di mana-mana” merefleksikan kapasitas adaptif istri dalam mengonsolidasi rumah tangga baru, sekaligus kemampuannya mendistribusikan manfaat material maupun simbolis kepada seluruh anggota keluarga besar.

Sinkronisasi Ritual Tungku dan Validitas Adat Waropen

Dari perspektif Keluarga Besar Duwiri, Paman Daud Duwiri menegaskan bahwa pelaksanaan Yakyaker berjalan secara sinkron dengan tahapan adat Waropen yang telah diselesaikan sebelumnya, meliputi peminangan, menyalakan Emas kawin (Emas kawin adat), hingga pengantaran peralatan domestik. Titik temu krusial antara kedua tradisi ini terletak pada konsep “Tungku” (Mamamantu).

Dalam struktur domestikasi Waropen, tungku berfungsi sebagai sentra reproduksi sosial dan nutrisi keluarga. Tradisi simbolis “Gantung Manik-Manik di Atas Tungku” merepresentasikan mekanisme penghormatan dan validasi terhadap ruang sakral dapur. Meski manifestasi fisik ritual ini telah diakomodasi melalui penyerahan alat dapur, esensi epistemologinya tetap dipertahankan: istri memegang peran sentral dalam menjamin keberlangsungan hidup dan kehangatan emosional keluarga besar Duwiri-Sesarari.

Hari ini Giovani secara adat telah sah menjadi bagian dari keluarga Duwiri-Sesarari. Tungku itu nanti dia pakai masak untuk semua keluarga besar. Itu menurut adat Waropen,” jelas Paman Daud.

Legitimasi Tripartit dan Implikasi Sosiopolitik

Prosesi Yakyaker yang digelar di tanah Saireri ini juga membawa dimensi legal-administratif yang signifikan. Dewan Adat dan keluarga besar mengonfirmasi bahwa pernikahan antara Davin Duwiri dan Giovanni telah memenuhi legitimasi Adat dan Gereja. Penyelesaian pencatatan Sipil (Negara) diposisikan sebagai prioritas strategis berikutnya.

 

Urgensi ini diperkuat oleh status publik mempelai laki-laki. Sebagai anggota DPRK Waropen dan putra dari Daud Nataniel Duwiri, S.KM., M.Kes. (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor), legalitas negara diperlukan untuk menjamin hak-hak keperdataan istri, akses terhadap tunjangan institusional, serta kepastian administratif dalam kerangka birokrasi publik. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran yurisprudensial di kalangan elit adat dan politisi Papua, di mana sistem tradisi dan hukum positif tidak beroperasi secara dikotomis, melainkan saling komplementer.

Sudah sah dewan adat, sudah sah gereja. Tinggal pencatatan sipil. Ini penting karena Davin adalah anggota DPRK Waropen. Hak-hak istri harus masuk dalam sistem negara,” tegas perwakilan keluarga laki-laki.

Resiliensi Budaya dan Diplomasi Sosial Lintas Etnis

Kehadiran Keluarga Besar Toraja dan kerabat multietnis lainnya dalam upacara ini memberikan bukti empiris tentang kuatnya jaringan solidaritas lintas suku di Biak Numfor. Pihak perempuan menyampaikan pengakuan reflektif atas keterbatasan selama proses lamaran, sembari menyerahkan putri mereka dengan prinsip kasih dan tanggung jawab kolektif. Sebaliknya, pihak laki-laki merespons dengan prinsip keterbukaan adat, menyatakan bahwa “hutan sudah Lunas” (kewajiban adat telah tuntas) dan menerima mempelai wanita sebagai entitas integral dalam garis keturunan Duwiri-Sesarari.

Pesan normatif yang diinternalisasikan adalah pentingnya etika senyum dan sapa sebagai mekanisme perekat sosial. Di tengah diferensiasi geografis (Biak–Waropen) dan diversitas etnis (Papua, Toraja, dll.), prinsip saling menghargai dan keramahan kultural menjadi fondasi keberlanjutan rumah tangga dan stabilitas komunitas.

Implikasi Kultural: Pelestarian Tradisi dan Kohesi Wilayah Saireri

Pelaksanaan upacara Yakyaker di wilayah perantauan (Biak Numfor) mengindikasikan tingginya resiliensi kultural masyarakat adat Papua. Meskipun berada di luar kampung halaman, nilai-nilai inti seperti penghormatan kepada leluhur, sakralitas tungku, dan simbolisme ekologis tetap direproduksi secara adaptif. Fenomena ini berkontribusi pada penguatan identitas kolektif masyarakat Waropen di Biak, memperkaya mosaik kultural Kabupaten Biak Numfor, sekaligus memperkuat jaringan persaudaraan lintas suku yang menjadi ciri khas wilayah Saireri.

Acara ditutup dengan doa lintas iman dan harapan agar pasangan muda tersebut dapat melaksanakan tanggung jawab ganda: sebagai agen pembangunan masyarakat (suami) dan penjaga harmoni domestik (istri), sekaligus terus berfungsi sebagai jembatan persaudaraan antara Biak, Waropen, dan seluruh elemen masyarakat Papua.

Kategori:
Tags:

Terkini