http://suaraanaknegeri.com | Manila – Di tengah perayaan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, Minggu, 31 Mei 2026, sebuah refleksi mendalam tentang makna relasi, kasih, dan persaudaraan disampaikan oleh RD. Domincs Baldawins Masriat dari Central Seminary UST Manila, Filipina.
Sebagai Pastor Mahasiswa di University of Santo Tomas (UST) Manila, ia mengajak umat untuk melihat kembali identitas manusia sebagai citra Allah yang hidup dalam relasi dan persekutuan.
Berangkat dari bacaan liturgi Hari Raya Tritunggal Mahakudus, khususnya Injil Yohanes 3:16-18, RD. Domincs Baldawins Masriat menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya diciptakan menurut gambar Allah Tritunggal, yakni Allah yang hidup dalam relasi kasih yang sempurna.
Baca juga: Brimob Maluku Panen Jagung, Perkuat Ketahanan Pangan di Tanimbar
Karena itu, manusia tidak dipanggil untuk hidup dalam tembok egoisme dan individualisme, melainkan membangun kebersamaan yang saling menopang.
“Manusia diciptakan menurut citra Allah yang relasional yakni relasi Tritunggal Mahakudus. Kita tidak bisa hidup hanya untuk diri sendiri. Hidup kita baru bermakna ketika kita membuka diri, membangun relasi yang sehat, dan hidup dalam persekutuan yang saling mendukung,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.
Refleksi tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang sering kali mendorong manusia untuk lebih berfokus pada pencapaian pribadi dibandingkan kepentingan bersama.
Baca juga: Sat Samapta Polres Tanimbar Intensifkan Patroli Malam di Titik Rawan
Dalam pandangannya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh seberapa besar seseorang memiliki, melainkan seberapa dalam ia mampu menjalin relasi yang membawa kebaikan bagi sesama.
Lebih jauh, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan bahwa inti dari kasih sejati adalah komunikasi dan penyerahan diri secara total.
Ia mencontohkan kasih Allah Bapa yang menyerahkan Putra-Nya demi keselamatan dunia sebagai puncak dari cinta yang tidak berpusat pada diri sendiri. “Kasih bukan soal apa yang bisa saya dapatkan dari orang lain, melainkan apa yang bisa saya berikan demi kebaikan orang lain,” tegasnya.
Menurutnya, dalam kehidupan keluarga, persahabatan, maupun komunitas sosial, kasih yang otentik selalu menuntut ketulusan, pengorbanan, dan kesediaan untuk memberi. Justru melalui pemberian diri kepada sesama, manusia menemukan keutuhan dirinya sebagai pribadi.
Selain itu, ia mengajak umat untuk belajar dari misteri Tritunggal dalam memandang perbedaan. Sebagaimana Bapa, Putra, dan Roh Kudus memiliki peran yang berbeda namun tetap berada dalam kesatuan yang tak terpisahkan, demikian pula kehidupan manusia seharusnya dibangun di atas penghormatan terhadap keberagaman.
“Perbedaan latar belakang, karakter, atau pandangan di antara manusia tidak boleh menjadi alasan untuk perpecahan. Kita dipanggil untuk menciptakan kesatuan di dalam kepelbagaian,” katanya.
Pesan tersebut menjadi seruan moral yang kuat di tengah masyarakat yang semakin majemuk. Perbedaan tidak seharusnya melahirkan sekat-sekat sosial, melainkan menjadi kekayaan yang memperkuat persaudaraan ketika diikat oleh kasih dan penghormatan satu sama lain.
RD. Domincs Baldawins Masriat juga mengingatkan bahwa sebagai gambar dan rupa Allah, setiap orang dipanggil untuk menghadirkan tindakan yang membangun dan memulihkan.
Ketika berhadapan dengan sesama yang jatuh, gagal, atau tersesat, sikap yang ditunjukkan bukanlah penghakiman, melainkan kerelaan untuk merangkul dan membantu mereka bangkit kembali.
“Ketika melihat sesama yang jatuh, gagal, atau tersesat, respons kita seharusnya bukan mengucilkan atau menghakimi mereka, melainkan menjadi perpanjangan tangan Tritunggal untuk merangkul, mengampuni, dan membawa pemulihan bagi mereka,” ungkapnya.
Di penghujung refleksinya, ia mengajak umat untuk memohon rahmat Tuhan agar kehidupan sehari-hari semakin dipenuhi kasih, mampu menghargai perbedaan, menjauhi sikap menghakimi, dan memiliki keberanian untuk berkorban demi kebaikan bersama.
Pesan yang lahir dari perayaan Tritunggal Mahakudus itu pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kasih bukan sekadar ajaran yang diucapkan, melainkan sebuah cara hidup.
Di tengah dunia yang kerap terbelah oleh kepentingan dan perbedaan, kasih yang memberi, merangkul, dan mempersatukan tetap menjadi jalan yang paling manusiawi sekaligus paling ilahi.(jk)





