Jumat, 29 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Tak Ada Jarak Bagi Kepedulian”: Gubernur Mathius Fakhiri & Wagub Aryoko Hadirkan Cahaya dan Harapan di Pulau Terluar Aimando- Padaido

Penulis: Yohanis Rumaropen

BIAK – PAPUA | SUARA ANAK NEGERI, 29 Mei 2026 — Dalam upaya memperkuat kehadiran negara (state presence) dan akselerasi pembangunan di wilayah kepulauan terluar, Gubernur Papua, Komjen Pol. (Purn.) Mathius D. Fakhiri, S.I.K., M.H., bersama Wakil Gubernur Papua, Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, S.P., M.P., serta Bupati Biak Numfor, Markus Octovianus Mansnembra, S.H.,M.M melaksanakan kunjungan kerja strategis ke Klasis Aimamdo Padaido, Kampung Pai, pada 24 Mei 2026.

Baca juga: Presiden Prabowo Prioritaskan Konektivitas Jalan di Supiori untuk Mengurai Isolasi Struktural Papua

Kunjungan bersejarah ini ditandai dengan peletakan batu pertama untuk dua proyek monumental: Tugu Peringatan Guru Injil Bernard Madelu—yang mengenang jasa pelayanan beliau sejak 28 Oktober 1928—dan Pembangunan Kantor Klasis Aimamdo Padaido. Hadir mendampingi para kepala daerah tersebut adalah seluruh Kepala Dinas terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua, menunjukkan koordinasi lintas sektoral yang solid.

Komitmen Fiskal Konkret: Hibah Total Rp500 Juta

Baca juga: Pastor Paroki Sant Maria Biak: WKRI Harus Jadi Pelopor Kasih dan Penjaga Martabat Kehidupan

Berbeda dengan kunjungan seremonial biasa, agenda ini menghasilkan komitmen fiskal yang nyata dan terukur. Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan unsur Sekretariat Daerah sepakat mengalokasikan dana hibah dan bantuan sosial senilai total Rp500 juta untuk mendukung tahap awal pembangunan Kantor Klasis. Rincian alokasi dana tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah Provinsi Papua: Menyumbangkan dana sebesar Rp300 juta.

2. Pemerintah Kabupaten Biak Numfor: Menyumbangkan dana sebesar Rp150 juta.

3. Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Papua: Melalui perwakilan Bapak Yohanes Walilo, menyumbangkan dana sebesar Rp50 juta.

Dana ini diperuntukkan bagi konstruksi fisik Kantor Klasis, yang akan berfungsi sebagai pusat administrasi gerejawi, layanan pastoral, serta ruang pengembangan kapasitas komunitas lokal di Pulau Padaido.

Intervensi Infrastruktur Energi dan Ekonomi Kerakyatan

Selain dukungan infrastruktur gedung, pemerintah juga meluncurkan paket intervensi berbasis kebutuhan dasar masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup warga Pulau Padaido. Program utama meliputi:

* Jaminan Ketersediaan Listrik 1×24 Jam: Pemerintah berkomitmen menyediakan akses listrik yang stabil tanpa putus (non-stop). Langkah ini krusial untuk mendukung aktivitas pendidikan, pelayanan kesehatan malam hari, dan produktivitas ekonomi rumah tangga, sekaligus mengurangi ketergantungan warga terhadap generator berbahan bakar fosil yang mahal.

* Revitalisasi Sektor Perkebunan: Distribusi sebanyak 10.000 bibit kelapa dalam kepada masyarakat. Program ini bertujuan melakukan diversifikasi ekonomi lokal, meningkatkan ketahanan pangan, dan menciptakan sumber pendapatan jangka panjang melalui agroindustri kopra dan produk turunan kelapa.

* Pengembangan Kawasan Kampung Nelayan: Pembangunan fasilitas pendukung bagi komunitas pesisir untuk meningkatkan efisiensi hasil tangkapan ikan dan kesejahteraan nelayan lokal.

Apresiasi Terhadap Keadilan Spasial di Wilayah Terluar

Kehadiran pimpinan daerah tertinggi mendapat apresiasi mendalam dari tokoh agama dan masyarakat setempat. Pdt. Jhon Baransano, S.Th., M.Mis., selaku Ketua Klasis Aimando- Padaido, menyatakan rasa bangga atas perhatian serius pemerintah terhadap wilayah terluar seperti Padaido.

“Kami merasa sangat diapresiasi dan bangga. Meskipun kami berada di pulau terluar yang sering kali menghadapi tantangan aksesibilitas, Bapak Gubernur Mathius D. Fakhiri, Bapak Wakil Gubernur Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, dan Bapak Bupati Markus O. Mansnembra hadir langsung bersama seluruh jajaran dinas. Ini membuktikan bahwa tidak ada jarak bagi pemerintah yang peduli terhadap rakyatnya,” ujar Pdt. Baransano.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan implementasi nyata dari prinsip keadilan spasial, di mana pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi merata hingga ke pelosok kepulauan.

Pelestarian Sejarah dan Kohesi Sosial

Pembangunan Tugu Guru Injil Bernard Madelu juga memiliki dimensi pelestarian memori kolektif. Dengan mengenang jasa beliau yang mulai melayani sejak 28 Oktober 1928, masyarakat diajak untuk menghargai sejarah peradaban Kristen di Papua. Hal ini sekaligus memperkuat identitas kultural dan kohesi sosial masyarakat Aimamdo Padaido.

Sinergi antara Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, dan Institusi Gereja dalam acara ini menunjukkan model tata kelola pembangunan yang kolaboratif. Gereja berperan dalam mobilisasi sosial dan penjagaan nilai-nilai moral, sementara pemerintah menyediakan dukungan regulasi, fiskal, dan infrastruktur teknis.

Dengan komitmen kuat ini, Klasis Aimamdo Padaido diharapkan menjadi model percontohan bagi pemberdayaan wilayah terluar di Papua, di mana akses energi, ekonomi, dan sejarah dihargai secara setara dengan wilayah pusat.

Kategori:
Tags:

Terkini