Di Tangan RD Ponsianus Ongirwalu, Seorang Anak Menemukan Harapan
http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki- Pagi itu, Kamis, 28 Mei 2026, suasana Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus di Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, terasa berbeda. Di tengah Misa Harian dan Novena Hati Kudus Yesus hari keempat, umat yang hadir tidak hanya mengikuti ibadah rutin, tetapi juga menyaksikan sebuah kisah pemulihan yang menyentuh hati.
Di altar sederhana gereja itu, hadir seorang anak yang sebelumnya dikenal karena masa lalunya yang kelam. Namun pagi itu, ia datang bukan dengan rasa takut, melainkan dengan langkah baru menuju harapan.
Anak itu adalah As (14), dengan suara lirih dan penuh haru, As mengungkapkan perjalanan hidup yang selama ini dipenuhi luka batin dan kehilangan kasih sayang keluarga. “Dulu, saya berjalan dalam kegelapan. Orang-orang hanya mengenal saya sebagai pencuri, dan saya merasa sangat sendirian di dunia ini,” ungkap As.
Baca juga: BPI dan Lembaga Adat Tanimbar: Menjaga Negeri di Tengah Arus Investasi
Ia mengaku hidupnya berubah setelah diterima dan dibina di Susteran Alma Saumlaki atas perhatian Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu. “Saya mencuri karena saya merasa tidak punya siapa-siapa dan tidak ada yang peduli. Namun Tuhan Yesus baik. Lewat bapak Pastor yang membawa saya ke Susteran Alma, saya menemukan sebuah rumah,” tuturnya.
Bagi As, pagi itu menjadi pengalaman berbeda dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, ia datang ke gereja bukan untuk bersembunyi dari kesalahan masa lalu, tetapi untuk bersyukur dan memulai lembaran hidup yang baru. “Pagi ini, kaki saya melangkah ke Gereja bukan untuk bersembunyi, tapi untuk bersyukur. Saya ingin berubah, saya ingin mengikut Yesus,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Gereja yang Memeluk, Bukan Menghakimi
Momen tersebut menjadi refleksi mendalam tentang wajah Gereja yang hadir bukan untuk menghukum, melainkan merangkul mereka yang terluka.
Baca juga: BRI Saumlaki Tebar Kepedulian di Hari Raya Idul Adha
Dalam homili dan pesan pastoralnya, RD Ponsianus Ongirwalu menegaskan bahwa di balik setiap kesalahan manusia, sering kali terdapat luka batin yang tidak terlihat. “Dunia mungkin mudah menghakimi dan memberi label ‘pencuri’ pada sesama kita yang jatuh. Namun sering kali di balik tindakan yang salah, ada luka yang sangat mendalam,” ujar Pastor Ponsianus.
Ia mengingatkan umat bahwa tugas Gereja adalah menghadirkan kasih Kristus bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang masa lalu mereka. “Tugas kita sebagai Gereja bukan untuk menghukum, melainkan merangkul. Ketika kita menutup pintu bagi orang berdosa, kita sedang menutup pintu bagi Kristus sendiri,” tegasnya.
Pastor Ponsianus juga menyampaikan apresiasi kepada para Suster Alma yang telah membuka pintu rumah dan hati bagi As untuk bertumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dan pembinaan iman. “Melalui doa, pembinaan, dan kasih yang tulus, kita percaya benih pertobatan yang tumbuh hari ini akan menghasilkan buah yang baik,” katanya.
Secara khusus, ia memberikan pesan penguatan kepada As agar tidak lagi terikat pada masa lalunya. “Engkau berharga di mata Tuhan. Masa lalumu telah selesai; hari ini lembaran hidupmu yang baru dimulai bersama Yesus,” ujar Pastor Ponsianus.
Sukacita dari Anak-anak Panti dan SEKAMI
Suasana haru juga dirasakan anak-anak Panti Asuhan Alma/Bakti Luhur Saumlaki yang kini menjadi keluarga baru bagi As.
Mereka menerima kehadiran As bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai saudara yang dipersatukan dalam kasih.
“Kami tidak melihat masa lalunya. Kami hanya melihat seorang saudara baru yang dikirim Tuhan untuk tinggal bersama kami,” ungkap anak-anak panti.
Sementara itu, anak-anak SEKAMI dan PPA yang ikut dalam misa pagi tersebut mengaku tersentuh dengan perubahan yang dialami As. “Melihat Kakak As bisa ikut misa bersama kami hari ini membuat kami sadar bahwa kasih Yesus itu nyata dan bisa mengubah siapa saja,” ujar mereka.
Kasih yang Mengubah
Di tengah dunia yang sering cepat menghakimi, kisah kecil dari Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat pagi itu menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: kasih dapat memulihkan manusia. Bukan hukuman yang pertama-tama menyembuhkan luka seseorang, melainkan penerimaan, perhatian, dan kesempatan untuk memulai kembali.
Di altar kecil di sudut Tanimbar itu, umat menyaksikan bagaimana belas kasih mampu membuka jalan baru bagi seorang anak yang pernah kehilangan arah hidupnya.
Dan seperti pesan RD Ponsianus Ongirwalu kepada umat pagi itu, Gereja dipanggil untuk terus menjadi rumah bagi mereka yang terluka, tempat di mana setiap orang dapat menemukan kembali harapan, kasih, dan masa depan.(jk)





