Kamis, 28 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pastor Paroki Sant Maria Biak: WKRI Harus Jadi Pelopor Kasih dan Penjaga Martabat Kehidupan

Paulus Laratmase| Penulis

BIAK — SUARA ANAK NEGERI| Perayaan launching Hari Ulang Tahun ke-102 Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) di Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Biak berlangsung penuh sukacita dan semangat kebersamaan, Rabu (27/5/2026). Momentum tersebut bukan sekadar seremoni organisasi, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang pentingnya peran perempuan dalam menjaga kehidupan, keluarga, dan masa depan generasi bangsa.

Baca juga: BPI dan Pemda Kepulauan Tanimbar Perkuat Kolaborasi SDM: Target Tekan Pengangguran Lewat Sertifikasi Industri Migas

 

Dalam kesempatan itu, Pastor Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Biak, Sebastianus Ture Liwu., Pr  menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terselenggaranya launching HUT WKRI ke-102 bersama seluruh keluarga besar WKRI di paroki tersebut.

Baca juga: Jemaat GKI Eden Mansoben Sambut Kunjungan Ketua TP-PKK Provinsi Papua dengan Nuansa Budaya dan Komitmen Pendidikan Anak Usia Dini

“Pertama-tama pastor mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan karena hari ini kita boleh berkumpul bersama keluarga besar WKRI untuk merayakan launching HUT ke-102 Wanita Katolik Republik Indonesia,” ungkapnya.

Menurut pastor Sebastianus, tema HUT WKRI tahun ini, yakni “Melanjutkan Langkah Harapan, Merawat Rahim Kehidupan demi Mewujudkan Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi”, merupakan tema yang sangat mendalam dan relevan dengan situasi kehidupan saat ini.

Ia menegaskan bahwa “rahim kehidupan” tidak hanya dimaknai sebagai simbol biologis, tetapi juga lambang kasih, pengharapan, dan daya cipta yang melahirkan generasi baru dengan semangat dan nilai kehidupan yang kuat.

 

“Rahim kehidupan adalah lambang kasih dan pengharapan. Dari sanalah lahir generasi-generasi baru dengan ide baru, semangat baru, karya-karya baru, dan nilai-nilai kehidupan yang menopang keberlangsungan hidup bersama,” ujarnya.

Lebih lanjut, pastor menilai bahwa merawat kehidupan merupakan panggilan bersama seluruh elemen masyarakat untuk menjaga martabat perempuan sekaligus melindungi anak-anak dari berbagai pengaruh negatif perkembangan zaman.

 

Ia mengingatkan bahwa keluarga, gereja, dan masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menumbuhkan benih kasih serta membangun lingkungan yang sehat bagi pertumbuhan anak-anak.

“Merawat rahim kehidupan berarti juga menumbuhkan benih kasih di dalam keluarga, di tengah masyarakat, di gereja, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Pastor juga menaruh harapan besar kepada WKRI agar terus menjadi komunitas perempuan Katolik yang solid, penuh cinta kasih, dan mampu menjadi agen perubahan sosial di tengah masyarakat.

“WKRI harus menjadi pelopor cinta kasih. Dengan semangat kebersamaan dan kekompakan, mereka dapat menjadi agen keselamatan yang menata kehidupan masa depan yang berdampak bagi masyarakat, gereja, dan bangsa,” tuturnya.

Launching HUT WKRI ke-102 di Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Biak ini sekaligus menjadi awal dari berbagai rangkaian kegiatan sosial, rohani, dan edukatif yang akan berlangsung hingga puncak perayaan pada Juni mendatang.

 

Kategori:
Tags:

Terkini