Oleh: Rizal Tanjung
–
Di peta dunia
Selat Hormuz hanyalah garis biru tipis—
urat kecil
di leher bumi.
Baca juga: Kumpulan Puisi Leni Marlina "Senja dan Cahaya di Matamu"
Tetapi manusia menggantungkan napasnya
di sana.
Di sana
kapal-kapal minyak berbaris
seperti peti mati raksasa
yang mengapung perlahan
membawa isi perut zaman modern.
Mesin-mesin meraung.
Asap hitam naik
seperti doa yang kehilangan Tuhan.
Baca juga: KETIKA VLADIMIR PUTIN MENJEMPUT SENDIRI GURUNYA
Dan laut—
laut tua itu—
mengunyah kecemasan
dengan gigi ombaknya yang asin.
Aku mendengar dunia
batuk-batuk
karena harga bahan bakar naik
seperti api
yang disulut diam-diam
di tenggorokan malam.
Tetapi tak seorang pun sungguh mendengar
suara anak kecil
yang tidur memeluk lapar
di kota-kota yang jendelanya pecah
oleh perang.
Di layar televisi
para pemimpin dunia berbicara tentang stabilitas,
tentang keamanan,
tentang strategi,
tentang kemenangan—
seolah bumi ini papan catur
dan manusia hanyalah bidak
yang boleh mati kapan saja
demi menjaga gengsi kekuasaan.
Sementara itu
di rumah-rumah sederhana
para ibu menghitung sisa tepung,
mengukur harapan
dengan sendok yang mulai kosong.
Mereka tidak meminta kemenangan negara.
Mereka hanya ingin
esok pagi
anak-anak masih bisa tertawa
tanpa suara sirene.
Mereka hanya ingin
langit tetap berwarna biru,
bukan merah
oleh kobaran kota yang dibakar amarah.
Trump duduk
di kursi kuasa
seperti musim dingin
yang mengenakan jas mahal.
Iran berdiri
bagai gunung tua
yang dadanya dipenuhi bara
dan sejarah panjang penghinaan.
Washington dan Teheran—
dua mata pisau
yang saling menatap
di bawah lampu dunia.
Dan umat manusia
berdiri di tengahnya
sebagai tubuh yang gemetar.
Aku melihat pasar-pasar Eurasia
menjadi seperti sungai beku.
Barang-barang kehilangan jalan pulang.
Mata uang menggigil.
Pabrik-pabrik terjaga semalaman
seperti buruh tua
yang takut besok kehilangan roti.
Hari ini
setiap tetes minyak
mengandung warna air mata.
Ia jatuh
ke atap rumah-rumah miskin,
ke meja makan yang sepi,
ke tangan nelayan
yang pulang tanpa ikan,
ke wajah petani
yang memandang langit
dengan doa tipis
seperti asap lilin hampir padam.
Atas nama perdamaian
orang-orang menyiapkan perang.
Atas nama keamanan
lautan dirantai ketakutan.
Atas nama kemanusiaan
manusia justru belajar
cara paling sempurna
untuk saling memusnahkan.
Kadang aku berpikir—
mungkin bumi telah terlalu tua
menyaksikan kesombongan.
Gunung-gunung lelah.
Samudra lelah.
Angin pun mungkin bosan
membawa bau mesiu
dari satu benua
ke benua lain.
Namun di antara semua itu
aku masih percaya
pada sesuatu yang sederhana:
bahwa seorang anak
yang tertidur damai
lebih berharga
daripada kemenangan politik mana pun.
Bahwa roti di meja makan
lebih mulia
daripada pidato-pidato perang.
Bahwa tangan manusia
diciptakan
untuk saling menggenggam—
bukan menekan tombol peluru kendali.
Hormuz bukan sekadar selat.
Ia adalah denyut nadi bumi.
Jika ia dicekik,
jutaan dada ikut sesak.
Jika ia terbakar,
langit dunia ikut menghitam.
Dan jika kebencian terus dipelihara,
manusia akan menjadi bangsa
yang membangun masa depan
di atas abu dirinya sendiri.
Karena tak ada ekonomi
yang benar-benar tumbuh
di atas kuburan.
Tak ada kemenangan
yang mampu menghidupkan kembali
anak-anak yang telah menjadi debu.
Maka bukalah kembali laut itu.
Bukalah juga hati manusia.
Biarkan kapal-kapal kembali berlayar
tanpa membawa ancaman.
Biarkan para buruh pulang
dengan senyum sederhana.
Biarkan nelayan kembali mengenal ombak
tanpa rasa takut.
Dan biarkan dunia belajar
bahwa damai
bukan kelemahan—
melainkan keberanian terbesar
untuk tetap mencintai kehidupan
di tengah zaman
yang mabuk oleh kebencian.
Sebab pada akhirnya
setiap bangsa
diam-diam menginginkan hal yang sama:
langit yang teduh,
roti di meja,
dan tawa anak-anak
yang tumbuh tanpa perang.
Dan mungkin,
suatu hari nanti,
perdamaian tak lagi disebut perjanjian—
melainkan
lagu cinta panjang
yang dinyanyikan bersama
oleh seluruh umat manusia.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.





