Oleh : Era Nurza
–
Perempuan itu sering berdiri di depan jendela setiap sore, memandangi langit yang perlahan kehilangan warna. Di dalam rumah, suara langkah anaknya terdengar asing, seperti seseorang yang tinggal hanya karena alamat, bukan karena hati. Dulu anak itu begitu gemar bercerita tentang hujan, sekolah, dan mimpi-mimpi kecilnya. Kini kalimat-kalimatnya pendek, dingin, dan jatuh seperti daun kering yang enggan disentuh. Sementara sang ibu hanya mampu memungut diam satu per satu, lalu menyimpannya di dadanya sendiri.
Baca juga: Gelar Pelatihan Menulis 3000 Puisi, Eka Teresia Bakar Semangat Literasi Guru dan Siswa
Malam menjadi tempat paling sunyi bagi perempuan itu. Ia mendengar pintu kamar anaknya tertutup lebih keras daripada biasanya, lalu dunia di dalam rumah seakan terbagi menjadi dua musim yang tidak lagi saling mengenal. Di meja makan, mereka duduk berhadapan tanpa benar-benar bertemu. Anak itu sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan ibunya sibuk menyembunyikan luka agar tidak terlihat rapuh. Kadang ia ingin memeluk anaknya seperti dulu, tetapi waktu telah mengubah tubuh kecil itu menjadi jarak yang sulit dijangkau.
Perempuan itu tidak pernah benar-benar marah. Ia hanya lelah memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang tumbuh di kepala setiap malam. Ia takut anaknya terluka oleh dunia yang terlalu bising, takut hatinya terseret oleh pergaulan yang asing, takut kehilangan arah untuk memahami darah dagingnya sendiri. Namun setiap nasihat yang keluar justru terdengar seperti aturan, dan setiap perhatian dianggap sebagai kekangan. Maka ia memilih diam, meski diam perlahan berubah menjadi hujan yang turun di dalam batinnya sendiri.
Meski begitu, perempuan itu tetap menunggu dengan sabar yang nyaris retak. Ia masih menyalakan lampu teras setiap malam, seolah cahaya kecil itu dapat menjadi tanda bahwa rumah selalu memaafkan. Dalam hatinya, ia percaya bahwa suatu hari nanti anak itu akan kembali memahami: kasih seorang ibu sering kali tidak pandai memilih kata, tetapi selalu pandai bertahan, bahkan ketika dirinya sendiri sedang hancur perlahan.
Baca juga: MENUNGGU BULAN MEMUDAR
–

Penulis
Edrawati, M.Pd., dikenal dengan nama pena Era Nurza, adalah penulis, penyair, dan pendidik. Ia telah menerbitkan beberapa buku tunggal serta terlibat dalam lebih dari 50 antologi fiksi dan nonfiksi. Aktivitas literasinya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga menjangkau berbagai negara seperti Australia, Turki, Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Era Nurza aktif dalam sejumlah komunitas literasi, antara lain, WPI, PERRUAS, WPM, PLS, Satu Pena, SAN, NN, Media Guru, PPP, dan KISI. Melalui karya dan pendidikan, ia konsisten menumbuhkan minat baca dan menulis, khususnya di kalangan generasi muda.
Padang, Mei 2026



