Senin, 11 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pengukuhan Gelar Adat sebagai Wujud Akulturasi Budaya: Wakil Bupati Biak Numfor Dikukuhkan sebagai “Pati” oleh Ikatan Keluarga Maluku

Penulis : Yohanis Rumaropen

SUARA ANAK NEGERI | BIAK NUMFOR,  Dalam semangat pelestarian kearifan lokal dan penguatan ikatan sosial antar etnis, Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, secara resmi dikukuhkan sebagai “Pati” oleh Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Kabupaten Biak Numfor dan Supiori pada Rabu (6/5/2026).

Baca juga: Stabilitas Pasokan LPG di Biak Numfor dan Supiori: Adaptasi Logistik dan Edukasi Publik Jadi Kunci

Prosesi adat berlangsung di kediaman pribadi Wakil Bupati dan menjadi kelanjutan dari pengukuhan Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, sebagai “Upulatu” pada 15 Mei 2025.

 

Baca juga: 80 Cahaya dari Pesisir Biak: Lulusan SMK Pariwisata Diutus dengan Ilmu, Integritas, dan Harapan

Acara ini dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan Nasional Thomas Matulessy (Pattimura) ke-209, sekaligus menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat harmoni sosial antara dua komunitas yang telah menjalin hubungan historis selama berabad-abad.

Prosesi Adat: Dari Pinangan hingga Pengalungan Lenso

Acara diawali dengan permohonan resmi (pinangan) dari para sesepuh Ikemal kepada calon “Pati”, yang dihadiri oleh Ny. Renny Haryanti Kapissa, keluarga, serta pemangku adat. Prosesi dimeriahkan dengan tarian khas Papua dan ditandai dengan pengalungan syal tenun Tanimbar serta lenso adat—simbol tanggung jawab baru sebagai pemimpin yang mengayomi dan melindungi komunitas Maluku di wilayah Biak Numfor.

Dalam jumpa pers usai acara, Ketua Ikemal Biak-Supiori, Turbey Onny Dangeubun, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa gelar “Pati” merupakan tradisi penghormatan dalam budaya Maluku bagi pemimpin daerah yang dianggap mampu menjadi pandu, pengayom, dan pelindung.

“Ini bukan sekadar simbol, melainkan amanah kultural yang melekat pada jabatan kepemimpinan. ‘Pati’ adalah pembantu raja, dan dalam konteks hari ini, ia menjadi representasi dukungan moral dan spiritual bagi Wakil Bupati,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pengukuhan ini merupakan bagian dari proses akulturasi budaya antara masyarakat Biak dan Maluku—dua komunitas yang telah menjalin hubungan historis sejak abad ke-15, ketika ekspansi maritim suku Biak mencapai Maluku Tenggara. Filosofi “Katong Kuat, Katong Satu” (kami kuat, kami satu) dari tradisi Maluku dan ungkapan Biak “Babe Oser, Kobe Oser” (satu hati, satu jiwa) menjadi fondasi semangat persaudaraan yang melandasi prosesi ini.

Budaya sebagai Media Pembangunan Sosial

Dalam sambutannya, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa menyatakan bahwa pengukuhan sebagai “Pati” bukanlah penghargaan politik, melainkan pengakuan kultural atas tanggung jawab kolektif dalam membangun kehidupan bersama. Ia menegaskan bahwa esensi budaya terletak pada praktik kehidupan sosial yang harmonis, terutama antara komunitas Biak dan Maluku yang telah hidup berdampingan selama generasi.

“Sejak abad ke-15, ikatan emosional antara Biak dan Maluku—termasuk dengan Kesultanan Tidore—telah terjalin erat. Hari ini, kita memperbarui komitmen itu melalui adat, bukan untuk memecah, tetapi untuk menyatukan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa prosesi ini tidak mengandung muatan politik, melainkan murni sebagai penghormatan adat yang disaksikan oleh ‘Allah di langit, manusia di bumi, leluhur, dan tanah itu sendiri’—sebagaimana ditegaskan oleh Lembaga Kultur Adat setempat.

Dukungan terhadap Pembangunan dan Perayaan Pattimura

Kedua belah pihak menyepakati bahwa momentum ini menjadi spirit kolektif untuk mendukung program pembangunan Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor dan Supiori. Khususnya, prosesi ini juga menjadi bagian dari persiapan puncak perayaan HUT Pattimura ke-209 yang akan berlangsung di Kabupaten Supiori pada 15 Mei 2026.

“Biak Numfor dan Supiori adalah satu. Biak Numfor, Supiori, dan Ikemal adalah satu. Kita hidup dalam keberagaman yang diciptakan Tuhan—suku Biak, Ambon, Ternate, Tidore, Halmahera, Tobelo—semua harus saling bersanding agar indah warna kehidupan di bumi ini,” pungkas Jimmy Carter.

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Ketahanan Sosial

Prosesi pengukuhan ini tidak hanya memperkuat identitas kultural, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat menjadi fondasi ketahanan sosial di tengah dinamika pembangunan modern. Dengan menghormati nilai adat tanpa mengeliminasi esensinya, masyarakat Biak Numfor menunjukkan bahwa budaya bukan penghalang kemajuan, melainkan jembatan menuju kehidupan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.

Acara ditutup dengan ramah tamah yang mempererat tali persaudaraan antar warga, menegaskan bahwa persatuan dalam keberagaman bukan hanya slogan, melainkan praktik hidup yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Kategori:
Tags:

Terkini