SURABAYA – SUARA ANAK NEGERI|Dari tahun ke tahun, biasanya, bulan Oktober dan November adalah musim panen raya bagi para “Guru pilihan Tuhan” di dunia pendidikan kita.
Saat kalender menunjukkan dua bulan ini, aula-aula hotel berbintang mulai dipenuhi aroma kopi arabika, spanduk bertuliskan Bimtek atau Workshop dibentang, Banner Webinar wara-wiri di Medsos, serta panggung-panggung penyerahan penghargaan siap dinyalakan.
Siapa bintang utamanya?
Tentu saja mereka adalah, para Guru Pejuang Digital (GPD)
——
Bagi guru-guru jelata yang saban hari berkutik dengan tugas-tugas murid, administrasi, jadwal supervisi, pencairan TPG, dan sinyal internet kumat-kumatan, maka bulan-bulan ini adalah ajang untuk menjadi penonton setia.
Baca juga: PETA AGAMA DUNIA 2026: Islam Tumbuh Paling Cepat, Bagaimana Komposisinya pada 2036?
Jangan harap dapat undangan. Jalur itu sudah dipasangi pagar betis yang rapat. Bukannya tidak ada seleksi, tapi entah kenapa, rumus aljabar seleksi itu selalu menghasilkan variabel nama yang sama. Mulai dari Narasumber hingga peserta.
Ya, Mari jujur saja pada rahasia umum di lapangan.
Di balik narasi “kompetensi dan dedikasi tinggi”, ada resep rahasia yang jauh lebih ampuh agar bisa masuk dalam ring satu komunitas elite ini.
Apa itu?
Tak lain tak bukan adalah kedekatan pergaulan dengan “lingkar utama”. Senyum manis di grup WhatsApp, kerajinan hadir di setiap acara resmi, serta kelihaian membaca “arah angin”.
Itulah paspor paling valid untuk menjadi anak emas abadi.
Silakan terjemahkan sendiri.
——-
Nun di Jakarta, Kementerian tampak begitu nyaman dengan lingkaran dinasti kecil ini. Mengapa harus repot-repot mencari bakat baru di pelosok jika ada kelompok yang ready-to-use?
Cukup panggil orang yang sama, beri panggung yang sama, lalu klaim bahwa transformasi digital telah merata. Praktis, efisien, dan yang terpenting, laporan kegiatan selesai dengan manis.
Dampaknya?
Sebuah kasta baru berhasil diciptakan dengan sukses.
Di puncak piramida, ada kelompok eksklusif yang portofolionya makin mentereng karena terus-menerus diberi panggung.
Di dasar piramida, ada ribuan guru berdedikasi yang inovasinya terkubur hidup-hidup hanya karena mereka tak punya akses “orang dalam”.
Bimtek demi bimtek dilahap oleh orang yang sama, sertifikat demi sertifikat dikoleksi oleh sosok yang itu-itu saja, ilmu demi ilmu dibagi-bagi dalam lingkaran mereka.
Pertanyaannya, apakah digitalisasi pendidikan ini memang ditujukan untuk seluruh guru, atau sekadar program bagi-bagi panggung untuk segelintir elit daerah?
GPD mungkin berniat menjadi pejuang.
Namun ketika perjuangan itu dimonopoli dan menutup pintu bagi pejuang-pejuang lain di garis depan, ia tak lagi menjadi gerakan bersama.
Ia berubah menjadi sekadar klub eksklusif berlabel resmi kementerian.
Saat era berganti, labelnya mungkin berubah, tapi orangnya itu-itu juga.
Siapa?
Ya , para Anak Emas Abadi.



