Penulis: joko
http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki, Kamis pagi 11 Juni 2026 – Refleksi iman yang disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, menegaskan bahwa damai dengan sesama merupakan inti dari ibadah yang berkenan di hadapan Allah.
Dalam permenungan berdasarkan Injil Matius 5:20–26, ia menekankan bahwa relasi antarmanusia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan iman, terutama dalam konteks persembahan kepada Tuhan.
Mengutip sabda Yesus, Pastor Pius menegaskan pentingnya rekonsiliasi sebelum menjalankan ibadah.
Baca juga: ATR/BPN Tanimbar Gelar Pengambilan Sumpah PNS dan Pelantikan Pejabat Fungsional
“Tinggalkan persembahanmu di depan mesbah, pergilah berdamai dulu.”
Ia menjelaskan bahwa pesan tersebut bukan sekadar aturan moral, melainkan tuntutan spiritual yang menempatkan damai sebagai syarat utama ibadah yang sejati.
Pastor Pius Heljanan MSC juga menyoroti perbedaan antara ketaatan lahiriah kaum Farisi dan ahli Taurat dengan ajaran Yesus yang menekankan pembaruan hati.
“Standar Yesus adalah mengubah hati bukan cuma kelakuan.”
Menurutnya, kesalehan tidak cukup hanya tampak dari luar, tetapi harus lahir dari perubahan batin yang utuh dan tulus.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa Allah tidak berkenan pada persembahan yang datang dari hati yang masih menyimpan permusuhan.
Baca juga: Wamen ATR/BPN: Latsarmil Perkuat Karakter dan Integritas ASN
“Persembahan yang paling berkenan pada Allah adalah hati yang berdamai dan penuh kasih pada sesama.”
Ia juga mengingatkan umat untuk menjaga keselarasan antara hati, pikiran, dan perkataan, agar kehadiran orang beriman menjadi sumber damai di tengah masyarakat.
Dalam penutup refleksinya, Pastor Pius Heljanan MSC menegaskan bahwa ibadah kehilangan makna apabila tidak disertai semangat rekonsiliasi. Damai, menurutnya, bukan hanya nilai sosial, tetapi inti dari ibadah yang hidup dan berkenan di hadapan Tuhan.





