Jumat, 14 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Jos kalau Dirangsang

Secangkir Kopi Cak Mus – 14.08.26

Baca juga: Kalau Bukan Kita, Siapa? Dari Kongres Kebudayaan Nusantara Menyusuri Jejak Maestro Topeng Malangan

Ada fenomena yang hampir selalu berulang di hampir setiap momen. Ketika ada peringatan (Entah agustusan atau milad tertentu) tiba, lingkungan mulai semarak. Umbul-umbul dan bendera dipasang. Anak-anak berlatih. Orang dewasa membentuk kelompok. Ragam kompetisi dan kreativitas pun dihadirkan.

Menariknya, orang yang sehari-hari tampak biasa saja tiba-tiba dapat menunjukkan kemampuan yang “luar biasa”.

Yang biasanya “malas” menjadi begitu rajin dan semangat. Yang jarang berlatih tiba-tiba juga semangat. Yang biasanya tidak terlalu peduli terhadap penampilan mendadak sangat memperhatikan kostum. Bahkan orang yang sehari-hari tampak pasif mendadak sangat kompetitif.

Baca juga: Antara Pusat Kesenian dan Ruang Kebudayaan: Perdebatan Makna dan Fungsi Taman Ismail Marzuki

Namun beberapa hari setelah momen perayaan selesai, semuanya kembali seperti semula. Lingkungan kembali sepi. Kostum disimpan. Latihan berhenti. Sorotan mata mulai menghilang. Dan pada akhirnya, semangat kompetisi dan kreativitas menghilang.

Pertanyaannya kemudian bukan mengapa manusia “mampu tampil hebat” ketika ada momen perangsang, melainkan mengapa kemampuan itu tidak selalu terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari?

Di sinilah kita menemukan persoalan yang lebih dalam. Barangkali masalahnya bukan manusia tidak memiliki kemampuan. Masalahnya adalah kemampuan itu hanya aktif ketika lingkungan menyediakan pemicu atau rangsangan tertentu. Lugasnya, hanya “jos” kalau dirangsang.

Tentu kemajuan apa pun akan sulit berlangsung awet jika hanya mempertahankan “performa sesaat”.

Kemajuan justru akan selalu hadir langgeng saat tak ada sorotan. Saat di kesunyian. Saat panggung sudah sepi penonton. Dan itulah momen “keseharian” yang tak selalu butuh validasi, namun tetap memerlukan orang-orang yang selalu siap berlomba.

Lawan tanding mereka bukan lagi pihak ekternal, melainkan diri sendiri. Ini merupakan awal arah pergeseran budaya performatif menuju kebiasaan yang berkelanjutan. Pastinya perlu selalu untuk dirawat meski tanpa “kamera” dan “sorot lampu”

Kategori:
Tags:

Terkini